RADAR TULUNGAGUNG- Hoaks rapel gaji pensiunan 2025 yang disebut akan cair pada 11 Maret 2026 dipastikan tidak benar. Informasi tersebut telah diklarifikasi langsung oleh PT Taspen (Persero) setelah muncul pertanyaan dari sejumlah pensiunan yang menerima kabar simpang siur di media sosial.
Isu mengenai hoaks rapel gaji pensiunan 2025 tersebut muncul dari berbagai konten internet yang menyebutkan bahwa pemerintah akan mencairkan rapelan gaji pensiun pada tanggal tertentu. Informasi tersebut kemudian menimbulkan kebingungan di kalangan pensiunan pegawai negeri sipil.
Menanggapi hal tersebut, Taspen menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada surat edaran resmi dari pemerintah terkait pencairan rapel gaji pensiunan tahun 2025.
“ Saat ini Taspen belum menerima surat edaran resmi dari pemerintah terkait rapelan gaji peserta pensiun,” demikian penjelasan Taspen dalam tanggapan resminya kepada masyarakat.
Taspen juga meminta para pensiunan untuk menunggu informasi resmi yang hanya akan diumumkan melalui kanal media sosial resmi perusahaan.
Rapel Gaji Pensiunan Belum Ada Keputusan Resmi
Klarifikasi ini sekaligus menepis kabar yang menyebutkan bahwa rapelan gaji pensiunan akan dicairkan pada 11 Maret 2026.
Taspen menegaskan bahwa setiap kebijakan terkait pembayaran pensiun maupun rapel gaji hanya dapat diumumkan setelah adanya keputusan resmi dari pemerintah.
Karena itu, masyarakat diimbau agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang beredar tanpa sumber yang jelas.
Informasi resmi mengenai program pensiun biasanya disampaikan melalui akun media sosial Taspen yang telah terverifikasi, seperti Instagram dan Facebook dengan tanda centang biru.
Melalui kanal tersebut, Taspen secara rutin memberikan berbagai pembaruan mengenai layanan pensiun serta informasi penting bagi para peserta.
Pensiunan Diminta Waspada Video AI
Selain hoaks mengenai rapel gaji, muncul pula fenomena lain yang turut meresahkan masyarakat, yaitu video palsu yang dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Dalam beberapa kasus, video tersebut menampilkan sosok pejabat pemerintah seolah-olah sedang memberikan pernyataan resmi terkait kebijakan tertentu.
Padahal, video tersebut sebenarnya merupakan hasil rekayasa digital yang dibuat menggunakan teknologi AI.
Penyebaran video semacam ini dinilai berbahaya karena banyak masyarakat yang mengira video tersebut asli dan mempercayai informasi yang disampaikan di dalamnya.
Cara Mengenali Video Palsu Berbasis AI
Agar tidak tertipu, masyarakat dapat memperhatikan beberapa ciri yang sering muncul pada video AI.
Salah satunya adalah gerakan bibir yang tidak sinkron dengan suara yang terdengar. Dalam video palsu, sering kali terlihat perbedaan antara gerakan mulut dengan kalimat yang diucapkan.
Selain itu, ekspresi wajah pada video AI juga cenderung terlihat tidak alami. Kadang muncul momen di mana gerakan wajah terlihat kaku atau tidak sesuai dengan intonasi pembicaraan.
Ciri lain yang bisa diperhatikan adalah kualitas detail wajah. Pada video AI, bagian tertentu seperti telinga, rambut, atau garis wajah sering terlihat blur atau tidak jelas ketika gambar bergerak.
Suara pada video tersebut juga biasanya terdengar terlalu halus dan datar, sehingga intonasinya terasa kurang natural.
Cara paling aman untuk memastikan keaslian video adalah dengan memeriksa apakah video tersebut juga dipublikasikan di kanal resmi lembaga atau pejabat yang bersangkutan.
Pemerintah Pastikan Informasi Resmi Disampaikan Melalui Kanal Resmi
Sementara itu, pemerintah juga memastikan bahwa setiap kebijakan terkait aparatur sipil negara dan pensiunan hanya akan diumumkan melalui saluran resmi pemerintah.
Misalnya melalui kementerian terkait seperti Kementerian Keuangan Republik Indonesia atau pengumuman resmi pemerintah pusat.
Jika suatu informasi penting tidak ditemukan di situs atau media resmi pemerintah, masyarakat disarankan untuk melakukan verifikasi terlebih dahulu sebelum mempercayainya.
Taspen juga mengajak masyarakat untuk membantu menyebarkan informasi yang benar kepada sesama pensiunan agar tidak semakin banyak orang yang terjebak dalam berita palsu.
Dengan meningkatnya literasi digital, diharapkan masyarakat dapat lebih bijak dalam menerima informasi serta terhindar dari berbagai hoaks yang beredar di internet.
Editor : Cholifatun Nisak