RADAR TULUNGAGUNG – Media sosial baru-baru ini dihebohkan oleh isu viral mengenai narasi liar yang menyebut daya beli masyarakat sedang hancur. Tidak tanggung-tanggung, berbagai unggahan di platform digital bahkan menyebarkan spekulasi ekstrem bahwa kondisi keuangan nasional saat ini sedang meluncur jatuh menuju krisis ekonomi serupa tahun 1997-1998. Potongan video dan opini miring tersebut dengan cepat menyebar luas, memicu kecemasan publik, serta memunculkan perdebatan hangat terkait stabilitas makroekonomi domestik di tengah ketidakpastian global.
Dinamika isu viral yang membandingkan kondisi riil hari ini dengan krisis ekonomi masa lalu dinilai sangat tidak berdasar dan berpotensi memicu kepanikan yang merugikan sektor swasta. Narasi negatif yang dibangun di media sosial tersebut terkesan mengabaikan indikator keuangan resmi negara dan hanya mengeksploitasi sentimen psikologis pasar secara sepihak. Menghadapi gempuran rumor yang makin tidak terkendali, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) langsung membedah data anggaran negara secara transparan demi mematahkan asumsi keliru tersebut.
Pemerintah menegaskan bahwa isu viral yang menuduh daya beli masyarakat hancur total hingga berada di ambang krisis ekonomi tersebut sepenuhnya terbantah oleh fakta lapangan yang solid. Berdasarkan realisasi APBN, fondasi ekonomi nasional justru berada dalam posisi yang sangat tangguh dengan angka pertumbuhan mencatatkan hasil impresif sebesar 5,61 persen. Capaian luar biasa ini membuktikan bahwa roda perekonomian domestik tetap berputar kencang dan jauh dari bayang-bayang resesi berbahaya.
Pertumbuhan Pajak dan Konsumsi Masih Sangat Kuat
Kemenkeu membeberkan bukti tak terbantahkan melalui lonjakan penerimaan perpajakan yang tumbuh solid mencapai 16,1 persen. Dari total angka tersebut, Pajak Penghasilan (PPH) Orang Pribadi mengalami kenaikan tajam sebesar 25 persen, sementara Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan PPnBM melonjak hingga 40 persen. Tingginya angka setoran pajak ini menjadi indikator kuat bahwa aktivitas belanja, konsumsi, dan pendapatan karyawan di tengah masyarakat masih bergerak sangat aktif dan produktif.
Selain itu, indikator pergerakan riil pada sektor transportasi juga menunjukkan tren yang sangat bergairah. Memasuki kuartal kedua, angka penjualan mobil domestik meroket hingga 55 persen, disusul oleh pertumbuhan penjualan motor sebesar 28,1 persen. Lonjakan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) serta peningkatan kapasitas semen nasional turut menegaskan bahwa ekspansi industri dan investasi swasta di lapangan terus berjalan secara masif.
Inflasi Terkendali dengan Sinergi Fiskal dan Moneter
Dari sisi stabilitas harga, tingkat inflasi nasional berhasil dikelola dengan sangat baik dan tertahan di level rendah sebesar 2,42 persen. Keberhasilan menjaga daya beli ini didukung penuh oleh keseriusan pemerintah dalam mempertahankan subsidi energi serta mempererat koordinasi kebijakan moneter bersama bank sentral. Sinergi ini terbukti efektif menambah likuiditas sistem keuangan dan menjaga performa sektor obligasi negara di mata investor asing.
Kesimpulannya, segala tuduhan miring di internet mengenai kehancuran ekonomi dipastikan hoaks karena bertolak belakang dengan rilis data keuangan yang justru mencatatkan tren pertumbuhan positif. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dan selektif dalam menyaring informasi di media sosial dengan selalu mengacu pada rilis data resmi faktual. Keuangan negara terbukti sangat sehat, terkendali, dan siap mendukung akselerasi pembangunan nasional ke depan.(*)
Editor : Natasha Eka Safrina