RADAR TULUNGAGUNG - Investasi Jepang Rp380 triliun ke Indonesia menjadi sorotan dalam kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang pada 30 Maret 2026.
Selain membahas kerja sama strategis dengan Kaisar Jepang, pemerintah juga mempercepat proyek Blok Masela senilai USD 20,9 miliar demi memperkuat ketahanan energi nasional.
Kunjungan hari pertama Presiden Prabowo di Jepang diawali dengan pertemuan bersama Kaisar Naruhito dan Putra Mahkota Fumihito.
Pertemuan berlangsung sekitar 45 menit dan dilanjutkan makan siang kenegaraan selama lebih dari dua jam di lingkungan Kekaisaran Jepang.
Dalam pertemuan tersebut, kedua negara membahas penguatan kerja sama ekonomi, investasi, hingga perlindungan lingkungan dan hutan.
Investasi Jepang Rp380 Triliun Jadi Bukti Kepercayaan ke Indonesia
Pemerintah menyebut total investasi Jepang yang masuk mencapai sekitar Rp380 triliun atau setara USD 23,3 miliar. Nilai itu berasal dari investasi pemerintah dan swasta Jepang dalam berbagai sektor strategis di Indonesia.
Menteri Investasi menjelaskan mayoritas investasi tersebut masuk ke sektor energi dan sumber daya mineral. Bahkan sekitar 95 persen investasi disebut berada di sektor ESDM.
“Ini membuktikan kepercayaan internasional, khususnya Jepang, terhadap Indonesia tetap besar dan terus berkembang,” ujar Menteri Investasi dalam konferensi pers di Jepang.
Salah satu proyek terbesar adalah pengembangan Blok Masela dengan nilai awal USD 20,9 miliar. Nilai itu diperkirakan meningkat karena penambahan proyek carbon capture storage (CCS) di tengah situasi geopolitik global yang belum stabil.
Selain Blok Masela, terdapat sejumlah investasi lain seperti pendanaan SMBC kepada Danantara senilai USD 500 juta serta pendanaan untuk Pegadaian sekitar Rp5 triliun atau setara USD 300 juta.
Kerja sama sektor kesehatan dan kecantikan juga ikut diperkuat. Perusahaan Jepang dikabarkan menanam investasi USD 1 miliar untuk plasma darah di Indonesia.
Blok Masela Dipercepat, Indonesia Incar Posisi Pemain Gas Dunia
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah mendapat arahan langsung dari Presiden Prabowo untuk mempercepat implementasi proyek Blok Masela.
Menurutnya, proyek migas raksasa tersebut telah tertunda selama 27 tahun akibat perdebatan skema pembangunan di laut atau di darat.
“Atas arahan Presiden, tahun 2026 tender final investment decision akan dipercepat,” ujar Bahlil.
Blok Masela disebut memiliki kapasitas produksi gas hingga 1.200 MMSCFD. Jika terealisasi, proyek itu diyakini memperkuat ketahanan energi Indonesia sekaligus menjadikan Indonesia sebagai pemain penting gas dunia.
Pemerintah juga meminta agar pasar dalam negeri diprioritaskan melalui PGN demi memperkuat hilirisasi nasional.
Tak hanya migas, pemerintah juga mendorong percepatan transisi energi melalui pengembangan geothermal, tenaga surya, tenaga air, hingga energi angin.
“Selama teknologinya efisien, kita akan dorong,” tegas Bahlil.
Sebelumnya, Jepang juga baru menyelesaikan financial closing proyek geothermal di Maluku dengan nilai ratusan juta dolar AS.
Pertemuan dengan PM Jepang dan Isu BBM Jadi Sorotan
Pada hari kedua kunjungan, Presiden Prabowo dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Jepang untuk melanjutkan pembahasan investasi dan kerja sama strategis kedua negara.
Selain itu, sekitar 12 pengusaha besar Jepang juga akan dipertemukan langsung dengan Presiden untuk membahas ekspansi investasi di Indonesia.
Pemerintah menilai masuknya investasi jumbo dari Jepang menjadi bukti Indonesia masih menjadi magnet investasi dunia meski situasi geopolitik global memanas akibat konflik Amerika Serikat dan Iran.
Di sisi lain, isu harga BBM juga mencuat dalam konferensi pers tersebut. Bahlil memastikan pemerintah tetap memprioritaskan perlindungan masyarakat kecil terkait subsidi BBM.
Ia menjelaskan harga BBM non-subsidi seperti RON 95 dan RON 98 memang mengikuti mekanisme pasar sesuai aturan Kementerian ESDM sejak 2022.
Namun untuk BBM subsidi, pemerintah masih mengkaji kebijakan terbaik.
“Presiden selalu memikirkan kebutuhan rakyat kecil dalam mengambil keputusan,” ujarnya.
Pemerintah optimistis hubungan Indonesia dan Jepang akan semakin kuat ke depan, terutama dalam sektor energi baru terbarukan, hilirisasi, dan investasi strategis nasional.
Editor : Muhamad Ahsanul Wildan