Pertamina Luncurkan Biosolar Performance untuk B40 dan B50, BBM Baru Ini Diklaim Bikin Mesin Industri Lebih Awet

Muhamad Ahsanul Wildan • Dipublikasikan Selasa, 26 Mei 2026 | 13:48 WIB
Pertamina luncurkan Biosolar Performance untuk mesin industri B40 dan persiapan B50 dengan aditif khusus. (Ilustrasi Gemini AI)
Pertamina luncurkan Biosolar Performance untuk mesin industri B40 dan persiapan B50 dengan aditif khusus. (Ilustrasi Gemini AI)

RADAR TULUNGAGUNG - PT Pertamina Patra Niaga resmi meluncurkan Biosolar Performance sebagai BBM varian terbaru untuk mesin industri yang menggunakan biodiesel B40.

Produk non subsidi ini disiapkan untuk menjawab tantangan operasional industri sekaligus mendukung transisi menuju implementasi B50 di Indonesia.

Peluncuran Biosolar Performance menjadi langkah strategis Pertamina dalam memperkuat kualitas bahan bakar sektor industri.

BBM jenis solar tersebut dilengkapi paket aditif khusus yang diklaim mampu menjaga performa mesin berat dan operasional industri dalam jangka panjang.

VP Business Development and Subsidiary Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, menjelaskan produk ini lahir dari hasil inovasi panjang berdasarkan masukan konsumen industri.

Menurutnya, kebutuhan sektor bisnis terhadap bahan bakar yang kompatibel dengan biodiesel terus meningkat seiring penerapan campuran biofuel nasional.

Baca Juga: Geger Logam Mulia Antam Langka Sampai Digoreng Rp400 Ribu Lebih Mahal di Pasaran: Pengamat Sebut Investasi Antam Sudah Enggak Worth It!

Biosolar Performance Dirancang untuk Mesin Industri Pengguna B40

Biosolar Performance dikembangkan khusus untuk sektor industri dan bisnis yang membutuhkan kualitas bahan bakar lebih stabil saat menggunakan biodiesel B40. Pertamina menilai implementasi campuran biodiesel yang semakin tinggi memerlukan dukungan BBM dengan perlindungan tambahan terhadap mesin.

Sigit Setiawan menyebut Biosolar Performance hadir dengan empat fungsi utama dalam paket aditifnya. Fungsi pertama adalah membersihkan injektor agar proses pembakaran tetap optimal. Selain itu, aditif juga mampu memisahkan kandungan air yang berpotensi mengganggu sistem bahan bakar.

“Produk ini merupakan hasil inovasi berdasarkan umpan balik konsumen industri,” ujar Sigit dalam keterangannya.

Tak hanya itu, aditif tersebut juga berfungsi mencegah korosi pada tangki penyimpanan bahan bakar. Fungsi terakhir adalah mengurangi pembentukan busa saat proses pengisian BBM berlangsung.

Kehadiran teknologi tambahan ini dinilai penting karena penggunaan biodiesel dengan kadar campuran tinggi memiliki tantangan tersendiri, terutama terkait kualitas penyimpanan bahan bakar dan ketahanan komponen mesin industri.

Pertamina Targetkan Pasar Industri dan Bisnis Non Subsidi

VIP Industrial and Marine Fuel Business Pertamina Patra Niaga, Oos Kosasi, menegaskan Biosolar Performance bukan merupakan BBM subsidi. Produk ini secara khusus ditujukan untuk kebutuhan sektor bisnis to business atau B2B.

Menurut Oos, pasar industri membutuhkan bahan bakar dengan kualitas lebih baik untuk menunjang operasional alat berat, mesin industri, hingga kendaraan logistik berskala besar. Karena itu, Pertamina menyiapkan Biosolar Performance sebagai solusi premium di tengah peningkatan penggunaan biodiesel nasional.

“Biosolar Performance merupakan produk non subsidi yang memang menyasar pasar industri,” kata Oos Kosasi.

Langkah tersebut juga sejalan dengan program pemerintah dalam memperluas implementasi energi baru terbarukan melalui campuran biodiesel. Saat ini Indonesia telah memasuki tahap penggunaan B40 dan tengah bersiap menuju implementasi B50.

Peningkatan kadar biodiesel dinilai dapat menekan impor solar sekaligus memperkuat pemanfaatan minyak sawit domestik. Namun, penggunaan biodiesel dengan campuran tinggi membutuhkan dukungan kualitas bahan bakar yang lebih adaptif terhadap kondisi mesin industri.

Sudah Diuji di Proyek Pengeboran dan Pertambangan

Sebelum resmi diluncurkan, Biosolar Performance telah melalui serangkaian pengujian lapangan pada sektor industri berat. Pertamina menyebut produk ini telah digunakan dalam operasional pengeboran hulu migas hingga proyek pertambangan.

Pengujian dilakukan bersama Texel Energy dan Medco Energy pada aktivitas pengeboran hulu. Selain itu, Biosolar Performance juga dipakai oleh kontraktor pertambangan di wilayah Sumatera Selatan.

Hasil uji lapangan tersebut menjadi dasar Pertamina untuk memperluas penggunaan Biosolar Performance ke pasar industri nasional. Penggunaan langsung di medan operasional berat dinilai penting untuk memastikan kualitas dan ketahanan BBM terbaru tersebut.

Dengan peluncuran ini, Pertamina berharap Biosolar Performance mampu menjadi solusi bahan bakar industri yang lebih efisien, stabil, dan mendukung implementasi biodiesel nasional secara berkelanjutan.

Ke depan, kebutuhan bahan bakar untuk sektor industri diperkirakan terus meningkat seiring percepatan program transisi energi pemerintah. Kehadiran Biosolar Performance menjadi salah satu langkah Pertamina dalam menyesuaikan kebutuhan pasar sekaligus mendukung target energi ramah lingkungan di Indonesia.

Baca Juga: Geger Logam Mulia Antam Langka Sampai Digoreng Rp400 Ribu Lebih Mahal di Pasaran: Pengamat Sebut Investasi Antam Sudah Enggak Worth It!

Editor : Muhamad Ahsanul Wildan
Sumber : CNBC Indonesia
Biosolar Performance BBM terbaru Pertamina biodiesel B40 persiapan B50 BBM industri non subsidi