RADAR TULUNGAGUNG - Pertamina Patra Niaga memperkenalkan Biosolar Performance, BBM solar terbaru yang disiapkan untuk mendukung penggunaan biodiesel B40 hingga transisi menuju B50.
Produk non subsidi tersebut diklaim mampu meningkatkan performa mesin industri melalui tambahan aditif khusus.
Peluncuran Biosolar Performance dilakukan untuk menjawab tantangan penggunaan biodiesel pada sektor industri berat.
Pertamina menilai implementasi biodiesel dengan campuran tinggi membutuhkan kualitas bahan bakar yang lebih stabil agar mesin tetap optimal.
Produk terbaru ini juga telah diuji di sektor pengeboran migas dan pertambangan sebelum resmi dipasarkan secara luas ke pasar bisnis industri di Indonesia.
Biosolar Performance Diklaim Punya Empat Fungsi Utama
Pertamina Patra Niaga menyebut Biosolar Performance hadir dengan teknologi aditif yang dirancang khusus untuk kebutuhan mesin industri. Paket aditif tersebut memiliki empat fungsi utama yang mendukung performa bahan bakar biodiesel.
VP Business Development and Subsidiary Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, menjelaskan fungsi pertama aditif adalah membersihkan injektor agar proses pembakaran tetap efisien. Selain itu, aditif juga mampu memisahkan kandungan air dalam bahan bakar.
“Produk ini merupakan hasil inovasi panjang berdasarkan umpan balik dari konsumen industri,” ujar Sigit Setiawan.
Fungsi berikutnya adalah mencegah korosi pada tangki bahan bakar yang sering menjadi tantangan dalam penyimpanan biodiesel. Sementara fungsi terakhir yakni mengurangi pembentukan busa saat proses pengisian solar berlangsung.
Pertamina menilai fitur tersebut menjadi nilai tambah penting karena sektor industri membutuhkan kestabilan operasional mesin dalam waktu panjang.
Fokus untuk Pasar Industri dan Bisnis B2B
Biosolar Performance dipastikan bukan BBM subsidi. Pertamina secara khusus menargetkan produk ini untuk pasar bisnis to business atau sektor industri berskala besar.
VIP Industrial and Marine Fuel Business Pertamina Patra Niaga, Oos Kosasi, mengatakan kebutuhan industri terhadap BBM berkualitas terus meningkat seiring implementasi B40 secara nasional.
Menurut Oos, penggunaan biodiesel dengan kadar lebih tinggi memang memberikan manfaat besar bagi pengurangan impor energi. Namun di sisi lain, sektor industri membutuhkan dukungan bahan bakar dengan perlindungan ekstra terhadap mesin.
“Produk ini memang ditujukan khusus untuk pasar industri dan bisnis,” kata Oos Kosasi.
Program B40 sendiri menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam mendorong penggunaan energi baru terbarukan. Indonesia bahkan mulai mempersiapkan implementasi B50 sebagai tahap lanjutan pengembangan biodiesel nasional.
Dengan kondisi tersebut, Pertamina melihat peluang besar dalam penyediaan BBM industri yang kompatibel dengan campuran biodiesel tinggi.
Sudah Digunakan di Pengeboran Migas dan Tambang
Sebelum diperkenalkan ke publik, Biosolar Performance telah diuji langsung di sejumlah proyek industri berat. Pertamina menggandeng perusahaan energi dan kontraktor pertambangan untuk memastikan performa produk di lapangan.
Pengujian dilakukan pada operasional pengeboran hulu migas milik Texel Energy dan Medco Energy. Selain itu, produk juga digunakan oleh kontraktor pertambangan di Sumatera Selatan.
Uji lapangan tersebut dilakukan untuk melihat ketahanan mesin, kestabilan pembakaran, hingga efektivitas aditif dalam kondisi operasional berat. Pertamina menyebut hasil pengujian menunjukkan performa positif sehingga produk akhirnya resmi diluncurkan.
Kehadiran Biosolar Performance diharapkan mampu menjadi solusi baru bagi sektor industri yang mulai beradaptasi dengan penggunaan biodiesel campuran tinggi.
Selain mendukung efisiensi operasional, Pertamina juga ingin memperkuat kesiapan industri nasional menuju implementasi B50 dalam beberapa tahun mendatang. Dengan demikian, penggunaan energi berbasis biodiesel dapat berjalan lebih optimal tanpa mengganggu performa mesin industri.
Editor : Muhamad Ahsanul Wildan