JAKARTA - Harga minyak dunia kembali melonjak pada perdagangan Kamis pagi setelah pasar energi global diguncang meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi ini membalikkan tren sebelumnya ketika harga minyak sempat anjlok lebih dari 5 persen pada perdagangan Rabu.
Lonjakan harga minyak dunia dipicu buntunya negosiasi terkait pembukaan kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormus. Ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah membuat investor kembali khawatir terhadap pasokan energi global.
Berdasarkan laporan pasar internasional, minyak mentah jenis Brent naik tajam hingga menembus level 96 dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bergerak mendekati 90 dolar AS per barel.
Baca Juga: Cek Saldo BPNT Tahap 2 Siang Ini 28 Mei 2026, KKS 2017 dan 2018 Masih Kosong Belum Cair
Kenaikan harga minyak dunia kali ini juga dipengaruhi meningkatnya sentimen negatif di pasar setelah muncul laporan serangan militer terbaru di wilayah Iran. Situasi tersebut diperparah dengan pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengaku belum puas terhadap perkembangan negosiasi damai dengan Teheran.
Ketegangan terbaru ini langsung memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi terganggunya distribusi minyak global, terutama melalui Selat Hormus yang dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia.
Selat Hormus Jadi Titik Panas Baru
Selat Hormus selama ini menjadi jalur utama distribusi minyak mentah dari negara-negara produsen Timur Tengah menuju pasar internasional. Jalur tersebut dilalui jutaan barel minyak setiap hari sehingga setiap konflik di kawasan itu selalu berdampak besar terhadap harga minyak dunia.
Baca Juga: Cek Saldo BPNT Tahap 2 Pagi Ini 28 Mei 2026, KKS 2017, 2018 dan 2021 Masih Kosong
Buntunya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran terkait pengawasan dan pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut membuat pasar semakin gelisah. Investor menilai ketidakpastian geopolitik berpotensi memicu gangguan suplai energi dalam waktu dekat.
Di saat yang sama, Gedung Putih membantah keras laporan sepihak Iran mengenai adanya draf perjanjian baru. Dalam laporan tersebut, Teheran disebut akan memiliki kewenangan mengawasi aktivitas pelayaran di Selat Hormus.
Pemerintah Amerika Serikat menegaskan tidak ada kesepakatan resmi terkait klaim tersebut. Bantahan itu justru memperkuat indikasi bahwa hubungan kedua negara masih berada dalam situasi tegang.
Analis energi global menilai konflik berkepanjangan antara AS dan Iran dapat membuat harga minyak mentah semakin volatil. Pasar diperkirakan akan terus sensitif terhadap setiap perkembangan politik maupun militer di kawasan Timur Tengah.
Dampak Harga Minyak Dunia terhadap Ekonomi
Kenaikan harga minyak dunia tidak hanya berdampak pada sektor energi internasional, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi ekonomi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Jika harga minyak mentah terus bertahan tinggi, maka biaya impor energi berpotensi meningkat. Kondisi tersebut dapat memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan memicu kenaikan harga bahan bakar maupun biaya logistik.
Selain itu, lonjakan harga minyak dunia juga bisa berdampak terhadap inflasi global. Negara-negara yang masih bergantung pada impor minyak mentah diperkirakan akan menghadapi tekanan ekonomi lebih besar apabila konflik geopolitik terus berlanjut.
Pelaku pasar saat ini masih menunggu perkembangan terbaru dari negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Investor juga mencermati kemungkinan adanya langkah diplomatik baru untuk meredakan konflik di kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, situasi geopolitik yang belum stabil membuat pasar energi diprediksi masih bergerak fluktuatif dalam beberapa waktu ke depan. Harga minyak dunia berpotensi terus mengalami kenaikan apabila ketegangan militer semakin membesar.
Kondisi ini sekaligus menunjukkan bahwa faktor geopolitik masih menjadi penentu utama pergerakan harga minyak global. Ketika konflik meningkat di kawasan penghasil energi utama dunia, pasar internasional cenderung langsung merespons dengan lonjakan harga yang signifikan.
Sementara itu, para pelaku industri dan pemerintah di berbagai negara kini mulai mengantisipasi kemungkinan dampak lanjutan terhadap stabilitas ekonomi dan pasokan energi global.
Editor : Novica Satya Nadianti