JAKARTA - Ketegangan di Selat Hormus kembali memicu kekhawatiran dunia setelah Amerika Serikat menembak jatuh empat drone Iran dan menghancurkan pusat kendali militer di Bandar Abbas. Konflik terbaru antara AS dan Iran ini langsung berdampak pada lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran terganggunya pasokan energi global.
Aksi militer tersebut disebut dilakukan Amerika Serikat untuk menghentikan ancaman drone Iran terhadap kapal komersial serta pasukan AS yang berada di kawasan Selat Hormus. Namun Iran membantah tuduhan itu dan mengeklaim sempat mengusir kapal tanker minyak Amerika yang mencoba melintas di wilayah perairan tersebut.
Memanasnya konflik AS dan Iran membuat pasar energi global kembali bergejolak. Harga minyak mentah dunia dilaporkan naik hampir 2 persen akibat meningkatnya kekhawatiran investor terhadap stabilitas jalur distribusi energi internasional.
Selat Hormus selama ini dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran minyak paling strategis di dunia. Sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati kawasan tersebut setiap harinya. Karena itu, setiap eskalasi konflik di wilayah tersebut selalu berdampak langsung terhadap harga minyak dunia.
Amerika Serikat Perketat Tekanan terhadap Iran
Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah adanya kesepakatan baru terkait pengelolaan Selat Hormus bersama Oman.
Trump menegaskan bahwa Selat Hormus merupakan jalur internasional yang tidak boleh dikuasai oleh negara mana pun. Pernyataan itu sekaligus membantah rumor adanya kompromi diplomatik baru antara Washington dan Teheran.
Baca Juga: Cek Saldo BPNT Tahap 2 Siang Ini 28 Mei 2026, KKS 2017 dan 2018 Masih Kosong Belum Cair
Di saat yang sama, pemerintah Amerika Serikat juga menjatuhkan sanksi baru terhadap otoritas Iran yang mengatur lalu lintas kapal di kawasan Selat Hormus. Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk tekanan tambahan terhadap pemerintah Iran yang hingga kini masih bersikeras mempertahankan kebijakan nuklirnya.
Iran menegaskan tidak akan mundur dari tuntutan terkait pengayaan uranium, kontrol wilayah, dan pencabutan sanksi ekonomi internasional. Sikap keras kedua negara membuat upaya diplomasi semakin sulit tercapai.
Pengamat geopolitik menilai situasi ini berpotensi memperpanjang ketidakstabilan di Timur Tengah. Apalagi Selat Hormus menjadi titik vital distribusi minyak mentah dari negara-negara produsen energi menuju pasar global.
Baca Juga: Cek Saldo BPNT Tahap 2 Malam Ini, KKS 2017, 2018 dan 2021 Dilaporkan Masih Kosong per 28 Mei 2026
Harga Minyak Dunia Terancam Terus Naik
Lonjakan ketegangan di Selat Hormus membuat pelaku pasar mulai mengantisipasi kemungkinan gangguan suplai energi internasional. Investor khawatir konflik militer dapat memicu hambatan distribusi minyak mentah dari Timur Tengah.
Kenaikan harga minyak dunia hampir 2 persen menjadi sinyal bahwa pasar merespons serius perkembangan konflik AS dan Iran. Jika situasi terus memburuk, harga minyak mentah diperkirakan bisa kembali melonjak dalam waktu dekat.
Bagi banyak negara, termasuk Indonesia, kenaikan harga minyak dunia dapat berdampak terhadap biaya impor energi, inflasi, dan harga bahan bakar domestik. Selain itu, tekanan terhadap sektor logistik dan transportasi juga berpotensi meningkat apabila harga energi terus naik.
Analis pasar energi menyebut stabilitas Selat Hormus menjadi faktor kunci dalam menjaga keseimbangan pasokan minyak global. Jika jalur tersebut terganggu, maka distribusi energi dunia bisa mengalami tekanan besar.
Hingga kini dunia masih menunggu apakah konflik AS dan Iran akan mereda melalui jalur diplomasi atau justru berkembang menjadi krisis yang lebih besar. Situasi geopolitik yang belum stabil membuat pasar internasional terus bergerak waspada.
Ketidakpastian tersebut diperkirakan masih akan membayangi perdagangan global dalam beberapa waktu ke depan. Investor, pemerintah, dan pelaku industri energi kini terus memantau perkembangan terbaru dari konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah tersebut.
Editor : Novica Satya Nadianti