Harga Minyak Dunia Naik Usai Serangan AS ke Iran, IHSG Ambruk dan Pasar Global Bergejolak

Novica Satya Nadianti • Dipublikasikan Kamis, 28 Mei 2026 | 21:56 WIB
Harga minyak dunia naik usai serangan AS ke Iran, IHSG melemah dan pasar global dibayangi inflasi tinggi.(GEMINI AI)
Harga minyak dunia naik usai serangan AS ke Iran, IHSG melemah dan pasar global dibayangi inflasi tinggi.(GEMINI AI)

 

JAKARTA - Harga minyak dunia kembali melonjak setelah Amerika Serikat melancarkan serangan militer ke sejumlah target di Iran. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah itu langsung mengguncang pasar keuangan global, memicu kekhawatiran inflasi tinggi, serta menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Pada perdagangan Selasa pagi waktu Asia, harga minyak mentah jenis Brent tercatat naik 1,5 persen ke level 97,56 dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat berada di posisi 91,25 dolar AS per barel.

Meski demikian, harga WTI masih tercatat turun sekitar 5,5 persen dibanding penutupan perdagangan Jumat pekan lalu. Tidak adanya penutupan resmi pasar WTI pada Senin akibat libur Memorial Day di Amerika turut memengaruhi volatilitas perdagangan energi global.

Baca Juga: Selat Hormus Memanas! AS Tembak Jatuh Drone Iran, Harga Minyak Dunia Langsung Naik dan Pasar Global Panik

Kenaikan harga minyak dunia dipicu kekhawatiran terganggunya pasokan energi dari kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi pusat distribusi minyak global. Serangan terbaru Amerika ke Iran disebut menyasar lokasi peluncuran rudal serta kapal yang diduga memasang ranjau di wilayah selatan Iran.

Ketegangan AS-Iran Picu Gejolak Pasar

Juru bicara Komando Pusat Militer Amerika Tim Hawkins menyatakan serangan dilakukan sebagai langkah pertahanan diri untuk melindungi pasukan Amerika dari ancaman Iran.

Namun hingga kini Pentagon maupun Presiden Amerika Serikat Donald Trump belum memberikan penjelasan lebih rinci mengenai operasi militer tersebut. Serangan itu terjadi menjelang pertemuan lanjutan negosiasi damai yang direncanakan berlangsung di Qatar.

Baik Washington maupun Teheran sebelumnya juga telah meredam ekspektasi pasar terkait peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar semakin khawatir konflik akan berkepanjangan.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak Lagi Usai Konflik AS-Iran Memanas, Selat Hormus Jadi Sorotan Pasar Global

Krisis geopolitik di Timur Tengah langsung berdampak terhadap berbagai instrumen komoditas global. Selain harga minyak dunia yang melonjak, harga emas dan batu bara juga mengalami pergerakan signifikan.

Harga emas dunia tercatat melemah 0,69 persen ke posisi 4.538,26 dolar AS per troy ons. Pelemahan terjadi karena lonjakan harga energi meningkatkan kekhawatiran inflasi tinggi dan potensi suku bunga bertahan lebih lama.

Sementara itu, harga batu bara bergerak stagnan di level 136,45 dolar AS per ton. Meski begitu, harga batu bara kokas di China melonjak tajam setelah insiden ledakan gas mematikan di tambang batu bara Provinsi Shanxi yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan.

Baca Juga: Cek Saldo BPNT Tahap 2 Siang Ini 28 Mei 2026, KKS 2017 dan 2018 Masih Kosong Belum Cair

Bank Sentral Bersikap Hawkish

Lonjakan harga energi global membuat pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga oleh bank sentral dunia. Investor kini memprediksi setidaknya ada dua kali kenaikan suku bunga acuan pada paruh kedua tahun ini.

Dana Moneter Internasional (IMF) dan sejumlah bank investasi besar memperkirakan bank sentral Eropa akan menaikkan suku bunga masing-masing sebesar 0,25 persen untuk meredam dampak inflasi akibat kenaikan biaya energi.

Kondisi tersebut membuat sentimen pasar saham global semakin tertekan. Di Indonesia, IHSG tercatat mengalami pelemahan lebih dari 1 persen menjelang penutupan perdagangan sesi kedua.

Baca Juga: Cek Saldo BPNT Tahap 2 Pagi Ini 28 Mei 2026, KKS 2017, 2018 dan 2021 Masih Kosong

IHSG diperdagangkan di level 6.145 setelah sebelumnya sempat bergerak fluktuatif sepanjang hari perdagangan. Saham-saham perbankan dan emiten besar menjadi pemberat utama indeks.

Saham Astra International anjlok lebih dari 7 persen, sementara saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, BBNI, dan BBTN juga mengalami koreksi cukup dalam.

Tekanan juga datang dari saham sektor energi dan pertambangan seperti DSSA dan TINS yang terkoreksi tajam. Meski demikian, penguatan saham-saham Grup Prajogo Pangestu dan Telkom membantu menahan pelemahan IHSG agar tidak semakin dalam.

Baca Juga: Feda Ega Pratama Bikin Media Italia Terpukau, VR46 dan Ducati Mulai Dikaitkan dengan Rookie Moto3 2026 Ini

Jepang Siapkan Stimulus Tambahan

Dari Asia, pemerintah Jepang dikabarkan menyiapkan anggaran tambahan senilai 3 triliun yen atau sekitar Rp334,7 triliun. Langkah tersebut diambil di tengah kekhawatiran terhadap tekanan ekonomi global akibat konflik geopolitik dan lonjakan harga energi.

Perdana Menteri Jepang Sanaya Takaichi menyebut tambahan anggaran akan dibiayai melalui penerbitan obligasi pembiayaan defisit baru. Pemerintah Jepang memastikan kebijakan itu tidak akan mengganggu stabilitas pasar obligasi domestik.

Pelaku pasar kini terus memantau perkembangan konflik AS dan Iran karena dikhawatirkan dapat memicu krisis global yang lebih besar. Ketidakpastian geopolitik diperkirakan masih akan menjadi sentimen utama yang memengaruhi pasar komoditas, saham, dan mata uang dunia dalam beberapa waktu ke depan.

Editor : Novica Satya Nadianti
ihsg harga minyak dunia amerika serikat harga emas iran