JAKARTA - Ketegangan di Selat Hormus kembali memicu lonjakan harga minyak dunia dan berdampak langsung terhadap harga minyak mentah Indonesia. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan Indonesian Crude Price (ICP) Maret 2026 sebesar 102,26 dolar Amerika Serikat per barel.
Kenaikan harga minyak dunia terjadi di tengah meningkatnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormus yang menjadi jalur utama distribusi energi global. Situasi tersebut membuat pasar energi internasional kembali bergejolak.
Dalam perdagangan pagi hari, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat berada di level 90,02 dolar AS per barel atau naik 7,36 persen. Sementara minyak mentah Brent diperdagangkan di posisi 96 dolar AS per barel atau melonjak 6,2 persen.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Usai Serangan AS ke Iran, IHSG Ambruk dan Pasar Global Bergejolak
Lonjakan harga minyak dunia itu turut memengaruhi pergerakan Indonesian Crude Price (ICP) yang menjadi acuan harga minyak mentah Indonesia di pasar internasional.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaiman menyampaikan bahwa kenaikan ICP tidak terlepas dari dinamika geopolitik global yang terus memanas sepanjang Maret 2026.
Konflik Selat Hormus Picu Kekhawatiran Pasokan Energi
Selat Hormus selama ini dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran paling vital bagi distribusi minyak dunia. Sebagian besar pasokan minyak mentah dari negara-negara Timur Tengah dikirim melalui jalur tersebut menuju pasar internasional.
Karena itu, setiap peningkatan ketegangan di kawasan tersebut hampir selalu berdampak langsung terhadap harga minyak dunia. Investor dan pelaku pasar khawatir konflik yang berkepanjangan dapat mengganggu distribusi energi global.
Lonjakan harga minyak dunia kali ini juga dipicu meningkatnya ketidakpastian geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Konflik tersebut membuat pasar energi bergerak sangat fluktuatif dalam beberapa pekan terakhir.
Pemerintah Indonesia pun mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak lanjutan dari gejolak harga energi global. Kementerian ESDM memastikan terus memantau perkembangan pasar minyak internasional secara intensif.
Baca Juga: Cara Cek Bansos BPNT BRI Sudah Cair atau Belum, Cukup Pakai NIK di Website Kemensos
Laode Sulaiman menegaskan pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi guna menjaga ketahanan energi nasional di tengah kondisi global yang tidak menentu.
Salah satu langkah yang disiapkan pemerintah adalah mencari alternatif sumber pasokan energi agar kebutuhan domestik tetap aman apabila terjadi gangguan distribusi global.
ICP Indonesia Tembus 102 Dolar AS
Penetapan ICP sebesar 102,26 dolar AS per barel menunjukkan tekanan besar yang sedang terjadi di pasar energi internasional. Kenaikan harga minyak mentah berpotensi memengaruhi berbagai sektor ekonomi nasional.
Jika harga minyak dunia terus bertahan tinggi, maka biaya impor energi Indonesia juga dapat meningkat. Kondisi ini berisiko memberi tekanan terhadap subsidi energi dan anggaran negara.
Selain itu, lonjakan harga minyak dunia juga dapat berdampak pada inflasi domestik, terutama melalui kenaikan biaya transportasi dan distribusi barang.
Pengamat energi menilai pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara stabilitas pasokan energi dan pengendalian dampak ekonomi akibat kenaikan harga minyak mentah global.
Di sisi lain, kenaikan ICP juga dapat memberikan tambahan penerimaan negara dari sektor migas. Namun manfaat tersebut tetap harus diimbangi dengan langkah pengamanan terhadap dampak inflasi dan tekanan fiskal.
Baca Juga: Cek Saldo BPNT Tahap 2 Hari Ini 28 Mei 2026, KKS 2017 hingga 2021 Masih Kosong Belum Ada Pencairan
Pasar global kini masih menunggu perkembangan terbaru konflik di Selat Hormus. Ketidakpastian geopolitik diperkirakan masih akan menjadi faktor utama yang memengaruhi harga minyak dunia dalam waktu dekat.
Apabila tensi konflik terus meningkat, harga minyak mentah internasional diperkirakan berpotensi kembali naik dan memicu volatilitas pasar energi global yang lebih besar.
Pemerintah Indonesia pun memastikan akan terus melakukan evaluasi dan penyesuaian kebijakan energi sesuai perkembangan situasi global demi menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Editor : Novica Satya Nadianti