JAKARTA - Harga minyak dunia diperkirakan masih akan bertahan tinggi dalam beberapa bulan ke depan setelah ketegangan di Selat Hormus semakin memanas. Situasi ini dipicu laporan Pentagon terkait dugaan pemasangan ranjau oleh Iran di jalur pelayaran vital tersebut.
Kekhawatiran pasar global meningkat setelah Pentagon mengungkap proses pembersihan ranjau di Selat Hormus diperkirakan dapat memakan waktu hingga enam bulan. Kondisi tersebut memunculkan ancaman baru terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Lonjakan ketegangan di kawasan Timur Tengah membuat harga minyak dunia berpotensi tetap mahal karena Selat Hormus menjadi jalur utama distribusi minyak dan gas internasional. Sekitar seperlima pasokan energi dunia diketahui melintasi kawasan tersebut setiap harinya.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak, ICP Indonesia Tembus 102 Dolar AS akibat Konflik Selat Hormus
Dalam laporan yang beredar, Pentagon menduga Iran telah menempatkan lebih dari 20 ranjau di dalam dan sekitar Selat Hormus. Ranjau tersebut disebut menggunakan teknologi GPS yang memungkinkan perangkat berpindah secara otomatis sehingga sulit terdeteksi.
Juru bicara Pentagon Sean Parnell memang menyebut sebagian informasi dalam laporan tersebut tidak akurat. Namun kabar mengenai ancaman ranjau tetap memicu kekhawatiran besar di pasar energi global.
Selat Hormus Makin Berbahaya
Iran juga memperingatkan adanya zona bahaya seluas sekitar 1.400 kilometer persegi yang diduga menjadi lokasi penyebaran ranjau. Peringatan itu membuat kapal-kapal komersial semakin waspada untuk melintasi kawasan Selat Hormus.
Baca Juga: Redmi Note 15 Review: Baterai Awet dan Fast Charging 67W Jadi Senjata Utama Xiaomi
Kondisi tersebut diperparah dengan blokade yang dilakukan Iran dan Amerika Serikat di sebagian besar area selat. Langkah militer kedua negara membuat jalur distribusi energi internasional berada dalam tekanan besar.
Ketidakpastian keamanan di Selat Hormus langsung berdampak terhadap pasar komoditas global. Investor khawatir gangguan distribusi minyak mentah dan gas alam dapat memicu lonjakan harga energi lebih tinggi dalam waktu dekat.
Pentagon juga memperkirakan operasi pembersihan ranjau belum akan dimulai sebelum perang benar-benar selesai. Situasi ini membuat pasar memperhitungkan risiko jangka panjang terhadap distribusi energi global.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Usai Serangan AS ke Iran, IHSG Ambruk dan Pasar Global Bergejolak
Sebelumnya Iran sempat mengumumkan pembukaan penuh jalur pelayaran Selat Hormus. Namun keputusan tersebut kemudian dicabut kembali sebagai respons terhadap langkah Amerika Serikat yang masih memblokade pelabuhan Iran.
Langkah saling blokade antara kedua negara memperlihatkan bahwa tensi konflik di kawasan Timur Tengah masih sangat tinggi. Situasi ini membuat pelaku pasar terus memantau perkembangan geopolitik dengan penuh kewaspadaan.
Harga Minyak Dunia Berpotensi Naik Lagi
Pengamat energi menilai ketidakstabilan di Selat Hormus dapat membuat harga minyak dunia sulit turun dalam waktu dekat. Ancaman gangguan pasokan energi membuat pasar cenderung mempertahankan harga minyak pada level tinggi.
Selain memengaruhi sektor energi, kenaikan harga minyak dunia juga berpotensi memberi tekanan terhadap ekonomi global. Negara-negara pengimpor energi dapat menghadapi kenaikan biaya logistik, transportasi, hingga inflasi yang lebih tinggi.
Di Indonesia, lonjakan harga minyak mentah global juga dapat berdampak pada beban subsidi energi dan biaya impor bahan bakar. Pemerintah diperkirakan perlu menyiapkan langkah mitigasi untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik.
Analis pasar menyebut konflik di Selat Hormus kini menjadi salah satu faktor utama yang menentukan arah pergerakan harga minyak dunia. Selama ketegangan Iran dan Amerika Serikat belum mereda, volatilitas pasar energi diprediksi masih akan terus terjadi.
Baca Juga: Cek Saldo BPNT Tahap 2 Pagi Ini 28 Mei 2026, KKS 2017, 2018 dan 2021 Masih Kosong
Pasar internasional saat ini menunggu apakah jalur diplomasi dapat kembali dibuka atau justru konflik berkembang menjadi krisis yang lebih besar. Jika eskalasi terus meningkat, harga minyak dan gas dunia diperkirakan masih berpotensi naik signifikan.
Situasi ini sekaligus menunjukkan besarnya pengaruh Selat Hormus terhadap stabilitas ekonomi global. Ketika jalur vital tersebut terganggu, pasar energi internasional langsung merespons dengan lonjakan harga yang tajam.
Editor : Novica Satya Nadianti