Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Perang Diponegoro: Perlawanan Besar Rakyat Jawa Melawan Belanda dan Strategi Gerilya Sang Pangeran

Novica Satya Nadianti • Rabu, 10 Juni 2026 | 20:40 WIB

 

 

Perang Diponegoro jadi perlawanan terbesar rakyat Jawa melawan Belanda. Simak sejarah, strategi gerilya, hingga akhir perang.(gemini AI)
Perang Diponegoro jadi perlawanan terbesar rakyat Jawa melawan Belanda. Simak sejarah, strategi gerilya, hingga akhir perang.(gemini AI)

 

JAKARTA - Perang Diponegoro menjadi salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajahan Belanda. Perang besar yang berlangsung selama lima tahun, dari 1825 hingga 1830, ini dipimpin langsung oleh Pangeran Diponegoro, seorang bangsawan dari Kesultanan Yogyakarta yang menolak campur tangan kolonial Belanda dalam urusan keraton dan kehidupan rakyat Jawa.

Perlawanan tersebut bermula dari akumulasi kemarahan rakyat Jawa terhadap penindasan dan kebijakan sepihak Belanda. Dalam sejarahnya, pengaruh kolonial mulai semakin kuat sejak kedatangan Marsekal Herman Willem Daendels di Batavia. Ia mengubah etiket dan tata upacara di Keraton Yogyakarta serta memaksa pihak keraton memberikan akses terhadap sumber daya alam dan manusia dengan dukungan kekuatan militer.

Situasi semakin memanas setelah wafatnya Sri Sultan Hamengkubuwono IV. Pemerintahan Yogyakarta kala itu dipimpin oleh pejabat Belanda, J.H. Smissaert, yang dianggap terlalu banyak mencampuri urusan internal keraton. Pangeran Diponegoro yang menjabat sebagai wali raja merasa tidak tahan dengan kehadiran Belanda di lingkungan istana dan memilih kembali ke kediamannya di Tegalrejo.

Baca Juga: Review Polytron Fox 500: Top Speed 130 Km/Jam dan Jarak Tempuh 130 Km, Tapi Radius Putarnya Jadi Sorotan

Pemicu Pecahnya Perang Diponegoro

Perang Diponegoro pecah pada pertengahan Mei 1825 ketika pemerintah kolonial memutuskan memperbaiki jalan dari Yogyakarta menuju Magelang. Jalur tersebut dibelokkan melewati wilayah Tegalrejo dan bahkan melintasi makam leluhur Pangeran Diponegoro. Belanda memasang patok-patok pembangunan di sepanjang area makam tersebut.

Tindakan itu dianggap sebagai penghinaan besar dan memicu kemarahan Diponegoro serta rakyat setempat. Sebagai bentuk pernyataan perang, Pangeran Diponegoro mengganti patok-patok Belanda dengan tombak. Peristiwa itu menandai dimulainya Perang Jawa yang kemudian mengguncang kekuasaan kolonial di Pulau Jawa.

Strategi Gerilya Pangeran Diponegoro

Dalam menghadapi pasukan Belanda, Pangeran Diponegoro menerapkan strategi perang gerilya. Ia memanfaatkan kondisi geografis Jawa dengan melakukan pengelabuan, serangan kilat, dan pengepungan tak terlihat. Taktik ini membuat pasukan Belanda kesulitan menghadapi gerakan laskar Diponegoro yang bergerak cepat dan sulit diprediksi.

Baca Juga: First Ride Polytron Fox 500: Motor Listrik Rasa XMAX, Tenaganya Bikin Kaget tapi Ada Kekurangan yang Mengganggu

Sebaliknya, Belanda yang dipimpin Jenderal Hendrik de Kock menerapkan strategi Benteng Stelsel. Strategi ini dilakukan dengan membangun benteng-benteng di setiap daerah yang berhasil dikuasai dan menghubungkannya melalui jalan agar komunikasi serta pergerakan pasukan lebih lancar. Benteng Stelsel perlahan berhasil memecah kekuatan pasukan Diponegoro sehingga lebih mudah dikalahkan.

Pada 1829, Belanda berhasil menangkap Kyai Mojo, pemimpin spiritual perlawanan. Tak lama kemudian, Pangeran Mangkubumi dan panglima utama Diponegoro, Alibasah Sentot Prawirodirjo, juga menyerah kepada Belanda. Kekuatan laskar Diponegoro pun semakin melemah.

Akhir Perang Diponegoro dan Pengasingan Sang Pangeran

Akhir perang terjadi pada 28 Maret 1830 ketika Jenderal de Kock berhasil menjepit pasukan Diponegoro di Magelang. Dalam perundingan, Pangeran Diponegoro menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota laskarnya dibebaskan. Namun, setelah menyerah, ia justru ditangkap oleh Belanda.

Baca Juga: Polytron Fox 350 Resmi Meluncur, Harga Mulai Rp15,5 Juta dengan Segudang Upgrade dari Fox-R

Pangeran Diponegoro kemudian diasingkan ke Manado sebelum dipindahkan ke Makassar. Ia menghabiskan sisa hidupnya di Benteng Rotterdam hingga wafat pada 8 Januari 1855.

Dampak Besar Perang Jawa

Perang Diponegoro merupakan salah satu pertempuran terbesar yang pernah dihadapi Belanda selama pendudukannya di Nusantara. Konflik ini menelan korban sangat besar. Diperkirakan sekitar 200.000 penduduk Jawa tewas akibat perang, sementara pihak Belanda kehilangan sekitar 8.000 tentara Eropa dan 7.000 serdadu pribumi.

Selain kerugian jiwa, perang ini juga menguras keuangan Belanda dan memperlihatkan kuatnya perlawanan rakyat Indonesia terhadap kolonialisme. Meski berakhir dengan kekalahan Diponegoro, perang tersebut menjadi simbol perjuangan dan semangat nasionalisme yang terus dikenang dalam sejarah Indonesia.

Editor : Novica Satya Nadianti
#Perang Diponegoro #Pangeran Diponegoro #Perang Jawa #Benteng Stelsel #Sejarah Indonesia