Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Demonstrasi Mahasiswa Soroti BBM Non Subsidi dan MBG, Istana Buka Suara soal Tuntutan Publik yang Ramai Diperdebatkan

M. Helmi Nurhisam • Kamis, 18 Juni 2026 | 16:25 WIB
Demonstrasi mahasiswa soroti BBM non subsidi dan MBG. Istana buka suara soal tuntutan publik serta evaluasi program pemerintah.(Pinterest)
Demonstrasi mahasiswa soroti BBM non subsidi dan MBG. Istana buka suara soal tuntutan publik serta evaluasi program pemerintah.(Pinterest)

Radar Tulungagung - Demonstrasi mahasiswa yang terjadi di sejumlah daerah dalam beberapa hari terakhir menjadi sorotan publik. Aksi tersebut membawa sejumlah tuntutan, mulai dari evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), kebijakan kenaikan harga BBM non subsidi, hingga berbagai persoalan kebijakan pemerintah lainnya.

Pemerintah melalui Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia Muhammad Qodari memberikan tanggapan terkait gelombang demonstrasi mahasiswa tersebut. Ia menilai penyampaian aspirasi melalui aksi unjuk rasa merupakan bagian dari demokrasi yang harus dihormati.

Menurut Qodari, demonstrasi mahasiswa merupakan bentuk partisipasi politik masyarakat dalam menyampaikan kritik kepada pemerintah. Dalam negara demokrasi, masyarakat memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat melalui berbagai cara, termasuk media sosial, petisi, maupun aksi turun ke jalan.

Baca Juga: Tak Sekadar Ujian, Mahasiswa PGSD Universitas Bhinneka PGRI Tulungagung Tampilkan Karya dan Kreativitas

Pemerintah Jelaskan Soal Kenaikan BBM Non Subsidi

Salah satu isu yang ramai dibawa dalam aksi adalah kenaikan harga BBM non subsidi. Qodari menjelaskan bahwa pemerintah melihat persoalan tersebut berbeda dengan kenaikan BBM subsidi.

Ia menegaskan bahwa BBM subsidi seperti Pertalite tidak mengalami kenaikan harga. Sementara BBM non subsidi seperti Pertamax mengikuti mekanisme harga pasar yang dipengaruhi kondisi ekonomi global.

“Kenaikan BBM non subsidi memang menyesuaikan harga pasar. Berbeda dengan BBM subsidi yang masih dipertahankan pemerintah,” ujar Qodari.

Menurutnya, BBM non subsidi lebih banyak digunakan oleh kelompok masyarakat yang dianggap memiliki kemampuan ekonomi lebih tinggi. Pemerintah juga meminta agar masyarakat memahami perbedaan antara BBM subsidi dan non subsidi agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Namun, Qodari mengakui komunikasi pemerintah perlu diperkuat agar informasi kebijakan dapat diterima masyarakat secara lebih luas. Menurutnya, derasnya arus informasi saat ini membuat pemerintah harus menyampaikan penjelasan secara lebih aktif.

Baca Juga: Dari Kegelisahan Pribadi, Ayu Kartika Putri Bangun Blog untuk Suarakan Isu Perempuan dan Keadilan Gender

Istana Soroti Kritik Terhadap Program MBG

Selain BBM, program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menjadi salah satu perhatian dalam demonstrasi mahasiswa. Sejumlah pihak meminta pemerintah mengevaluasi program tersebut setelah muncul dugaan penyimpangan dalam pelaksanaan di lapangan.

Qodari menyebut MBG merupakan program yang sudah dirancang Presiden Prabowo Subianto sejak sebelum menjabat sebagai presiden. Program tersebut bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia, termasuk pelajar, ibu hamil, dan kelompok penerima manfaat lainnya.

Meski demikian, pemerintah tetap melakukan evaluasi setelah menemukan adanya persoalan dalam pelaksanaan program. Qodari menegaskan bahwa masalah yang terjadi merupakan bagian dari proses pengawasan dan perbaikan tata kelola.

Ia mengatakan dugaan pelanggaran hukum dalam pelaksanaan MBG akan diproses oleh aparat penegak hukum. Sementara pemerintah akan melakukan perbaikan manajemen agar program tersebut berjalan lebih baik.

Pemerintah Klaim MBG Beri Dampak Positif

Di tengah kritik terhadap MBG, Qodari juga menyampaikan adanya sejumlah hasil positif dari program tersebut. Ia mengutip data yang menyebut adanya penurunan jumlah siswa yang merasa lapar saat berada di sekolah setelah adanya program makan bergizi.

Selain itu, program tersebut juga dinilai memberikan dampak ekonomi karena melibatkan pelaku usaha lokal sebagai pemasok kebutuhan makanan.

“Jangan hanya melihat sisi negatifnya, sisi positif juga perlu diperhatikan. Kalau ada kekurangan, itu yang harus diperbaiki,” kata Qodari.

Ia menilai kritik dari masyarakat tetap diperlukan sebagai bentuk pengawasan terhadap jalannya pemerintahan. Namun, kritik tersebut diharapkan tetap disampaikan melalui ruang dialog dan komunikasi yang sehat.

Demokrasi Jadi Ruang Evaluasi Pemerintah

Terkait aksi penolakan terhadap kehadiran sejumlah pejabat pemerintah di kampus, Qodari menyebut perbedaan pendapat merupakan hal wajar dalam demokrasi. Menurutnya, ruang dialog seharusnya menjadi cara utama untuk menyelesaikan perbedaan pandangan.

Ia berharap masyarakat dan pemerintah dapat terus membuka komunikasi agar setiap kebijakan dapat dipahami secara lebih menyeluruh.

Pemerintah, kata Qodari, tetap akan melakukan evaluasi terhadap berbagai program besar yang sedang berjalan. Mulai dari MBG, koperasi desa, hingga kebijakan ekonomi lainnya.

Gelombang demonstrasi mahasiswa dinilai menjadi pengingat bagi pemerintah agar terus memperbaiki komunikasi publik dan memastikan kebijakan yang dibuat benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

 

Editor : M. Helmi Nurhisam
#Demonstrasi mahasiswa #BBM non subsidi #Muhammad Qodari #pemerintah indonesia #Makan Bergizi Gratis