Radar Tulungagung - Kelas menengah Indonesia menghadapi tekanan besar dalam beberapa tahun terakhir. Kelompok yang selama ini menjadi tulang punggung konsumsi nasional justru mengalami penyusutan akibat kenaikan biaya hidup, perlambatan ekonomi, serta melemahnya daya beli masyarakat.
Data terbaru menunjukkan kelas menengah Indonesia berkurang sekitar 9,48 juta orang sejak 2019 hingga 2024. Penurunan tersebut membuat jumlah masyarakat kelas menengah turun menjadi sekitar 47,85 juta orang atau hanya sekitar 17 persen dari total penduduk Indonesia.
Fenomena turunnya kelas menengah Indonesia tidak hanya menjadi persoalan sosial, tetapi juga mulai memengaruhi dunia bisnis. Perusahaan menghadapi perubahan perilaku konsumen yang semakin berhati-hati dalam berbelanja, sehingga penjualan menurun dan persaingan harga semakin ketat.
Biaya Hidup Naik, Masyarakat Mulai Bertahan
Kondisi ekonomi yang menekan membuat banyak masyarakat harus mengatur ulang pola pengeluaran. Pendapatan yang tidak banyak berubah sementara harga kebutuhan terus meningkat menyebabkan ruang belanja masyarakat semakin sempit.
Kelompok kelas menengah yang sebelumnya memiliki kemampuan membeli barang berkualitas kini mulai mengubah kebiasaan. Mereka lebih memilih produk dengan harga terjangkau dibandingkan mempertahankan gaya hidup lama.
Pengeluaran makanan menjadi salah satu beban terbesar rumah tangga. Pada 2024, porsi konsumsi makanan kelas menengah meningkat signifikan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Hal tersebut membuat masyarakat mulai mengurangi aktivitas yang sebelumnya dianggap normal, seperti makan di restoran, berlibur, membeli produk bermerek, hingga menikmati layanan tambahan.
Selain kebutuhan makanan, biaya rumah, transportasi, listrik, bahan bakar, serta komunikasi juga ikut meningkat. Kondisi ini membuat masyarakat harus lebih selektif dalam menentukan prioritas pengeluaran.
Pelemahan Industri Ikut Menekan Kelas Menengah
Salah satu faktor yang mempercepat penurunan kelas menengah adalah melemahnya sektor industri manufaktur. Padahal, sektor ini memiliki peran penting karena mampu menyerap banyak tenaga kerja.
Ketika industri mengalami perlambatan, ancaman pemutusan hubungan kerja ikut meningkat. Banyak pekerja akhirnya berpindah ke sektor informal seperti pengemudi ojek online, pekerja lepas, pedagang kecil, dan pekerjaan harian lainnya.
Namun, sektor informal memiliki tantangan tersendiri karena sebagian pekerja tidak mendapatkan perlindungan sosial seperti pekerja formal.
Tekanan ekonomi tersebut juga berdampak pada kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan jangka panjang seperti pendidikan, kesehatan, dan kepemilikan rumah.
Tidak sedikit masyarakat yang akhirnya mencari jalan keluar melalui pinjaman online untuk memenuhi kebutuhan, meskipun hal itu bisa menimbulkan masalah baru jika tidak dikelola dengan baik.
Perusahaan Harus Mengubah Strategi Bisnis
Melemahnya daya beli masyarakat membuat perusahaan harus mencari cara baru agar tetap bertahan. Banyak pelaku usaha memilih memberikan diskon untuk menarik konsumen dan mengurangi stok barang.
Namun, strategi perang harga memiliki risiko besar karena dapat mengurangi keuntungan perusahaan. Jika terus dilakukan, kondisi tersebut bisa mengganggu keberlangsungan bisnis.
Beberapa perusahaan dunia berhasil melewati situasi serupa dengan melakukan efisiensi biaya produksi. Dengan mengoptimalkan rantai pasok dan mengurangi biaya operasional, perusahaan tetap mampu menawarkan harga yang lebih kompetitif.
Selain efisiensi, inovasi juga menjadi kunci. Perusahaan dapat menciptakan produk baru yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat daya beli melemah.
Strategi membuka pasar baru juga dapat menjadi solusi. Dengan memahami perubahan perilaku konsumen, bisnis bisa tetap berkembang meski kondisi ekonomi sedang penuh tantangan.
Pemerintah Perlu Dorong Pemulihan Ekonomi
Penguatan kelas menengah menjadi pekerjaan penting bagi pemerintah karena kelompok ini berperan besar terhadap perputaran ekonomi.
Pemerintah perlu mendorong investasi, khususnya sektor yang mampu menciptakan lapangan kerja besar seperti manufaktur. Dengan bertambahnya pekerjaan formal, pendapatan masyarakat diharapkan kembali meningkat.
Selain itu, stabilitas harga kebutuhan pokok juga menjadi faktor utama agar daya beli masyarakat tidak terus melemah.
Pengendalian biaya pendidikan, kesehatan, dan perumahan juga diperlukan agar beban rumah tangga kelas menengah dapat berkurang.
Kelas menengah bukan hanya kelompok konsumsi, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi ekonomi nasional. Jika jumlahnya terus berkurang, cita-cita Indonesia menjadi negara maju pada 2045 bisa semakin sulit dicapai.
Karena itu, pemulihan daya beli dan penguatan kelas menengah harus menjadi prioritas agar ekonomi Indonesia dapat tumbuh lebih stabil dan berkelanjutan.