Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Chef SPPG Palmerah Bongkar Tantangan MBG Rp10 Ribu, Kunci Menu Bergizi Ada di UMKM Lokal

Cholifatun Nisak • Kamis, 2 Juli 2026 | 21:48 WIB
Program makan bergizi gratis Rp10.000 di Jakarta jadi tantangan SPPG Palmerah. UMKM lokal dan AKG jadi kunci menu tetap bergizi.
Program makan bergizi gratis Rp10.000 di Jakarta jadi tantangan SPPG Palmerah. UMKM lokal dan AKG jadi kunci menu tetap bergizi.

 

JAKARTA, RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Program makan bergizi gratis Rp10.000 per porsi yang mulai berjalan pada Senin, 6 Januari 2025, menghadirkan tantangan tersendiri bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), khususnya di wilayah Jakarta. Kenaikan harga bahan pokok di ibu kota membuat pengelolaan anggaran harus dilakukan secara sangat efisien tanpa mengurangi standar gizi.

Salah satu tantangan utama dalam program makan bergizi gratis Rp10.000 ini diungkap oleh Kepala SPPG Palmerah, Yuda Permana. Ia menyebut bahwa meski anggaran terbatas dan harga bahan pangan di Jakarta relatif lebih mahal dibanding daerah lain, pihaknya tetap berupaya menyajikan makanan bergizi sesuai standar Badan Gizi Nasional (BGN).

Menurut Yuda, kunci keberhasilan program ini terletak pada pemanfaatan sumber daya lokal serta keterlibatan UMKM. Dengan strategi tersebut, biaya produksi dapat ditekan tanpa mengorbankan kualitas dan kandungan gizi makanan yang disajikan kepada siswa.

Baca Juga: Modus Korupsi Program Makan Bergizi Gratis Terbongkar, BGN Ungkap Godaan Rp20 Juta per Bulan

Tantangan Kelola MBG Rp10 Ribu di Jakarta

Yuda mengakui bahwa pengelolaan program makan bergizi gratis Rp10.000 di Jakarta tidak mudah. Perbedaan harga bahan pokok menjadi faktor utama yang harus disiasati oleh setiap SPPG.

Namun, pihaknya tetap optimistis karena seluruh proses telah dirancang secara sistematis mulai dari perencanaan menu, pemilihan bahan baku, hingga pengawasan kualitas makanan.

SPPG Palmerah juga telah menyiapkan sekitar 40 jenis menu yang digunakan secara bergantian. Selain itu, terdapat sekitar 300 menu acuan dari Badan Gizi Nasional yang dapat dijadikan referensi oleh setiap dapur MBG di seluruh Indonesia.

Menu Disusun Berdasarkan AKG Anak

Dalam pelaksanaan program makan bergizi gratis Rp10.000, penyusunan menu tidak dilakukan secara sembarangan. Yuda menjelaskan bahwa setiap menu disusun berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) sesuai kelompok usia siswa.

Setelah kebutuhan gizi ditentukan, SPPG memilih bahan baku terbaik dari sumber lokal. Pendekatan berbasis lokal ini dinilai mampu menjaga kestabilan harga sekaligus mendukung ekonomi masyarakat sekitar.

Dengan melibatkan UMKM lokal, rantai pasok menjadi lebih efisien dan biaya distribusi dapat ditekan. Hal ini menjadi salah satu strategi utama agar program tetap berjalan meski dengan anggaran terbatas.

Sistem Ketat Pemilihan Bahan Baku

Setiap bahan baku yang masuk ke dapur SPPG harus melalui proses pemeriksaan ketat. Yuda menegaskan bahwa bahan yang tidak sesuai spesifikasi langsung ditolak atau reject dan diminta untuk diganti.

Proses pemeriksaan meliputi pengecekan berat, kualitas, kesegaran, hingga kondisi fisik bahan pangan. Jika ditemukan bahan yang tidak layak, maka tidak akan digunakan dalam produksi makanan siswa.

Setelah lolos inspeksi awal, bahan baku kemudian masuk ke tahap pencucian, pemotongan, hingga penyimpanan dalam pendingin untuk menjaga kualitas dan kesegaran.

Baca Juga: Modal Awal Dapur MBG Capai Rp2 Miliar, Menteri UMKM Ungkap Rincian Investasi Program Makan Bergizi Gratis

UMKM Lokal Jadi Penopang Utama

Salah satu strategi penting dalam program makan bergizi gratis Rp10.000 adalah keterlibatan UMKM lokal sebagai pemasok utama bahan pangan.

Dengan memanfaatkan pelaku usaha kecil di sekitar wilayah dapur, SPPG dapat memperoleh bahan dengan harga lebih kompetitif dibandingkan pemasok besar. Selain itu, pendekatan ini juga memberikan dampak ekonomi langsung kepada masyarakat sekitar.

Yuda menilai kolaborasi ini menjadi kunci penting agar program tidak hanya fokus pada pemenuhan gizi anak sekolah, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi lokal secara berkelanjutan.

Standar Gizi Tetap Jadi Prioritas

Meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran, Yuda menegaskan bahwa standar gizi tetap menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program.

Seluruh menu yang disajikan telah melewati proses perhitungan kebutuhan gizi agar sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh BGN. Dengan demikian, setiap porsi makanan tetap memenuhi kebutuhan nutrisi siswa.

Ia memastikan bahwa pengelolaan SPPG Palmerah dilakukan secara transparan dan terukur agar tidak ada penurunan kualitas makanan meskipun berada dalam tekanan biaya operasional.

Evaluasi Menu Secara Berkala

Selain menyusun menu dan mengelola bahan baku, SPPG juga melakukan evaluasi berkala terhadap menu yang disajikan. Tujuannya adalah untuk memastikan makanan tetap disukai siswa dan tidak menimbulkan kebosanan.

Dari sekitar 40 menu yang tersedia, rotasi dilakukan secara rutin agar variasi makanan tetap terjaga. Hal ini juga menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan konsumsi makanan oleh siswa penerima manfaat.

Dengan sistem tersebut, program makan bergizi gratis Rp10.000 diharapkan dapat berjalan efektif, berkelanjutan, serta memberikan dampak positif bagi kesehatan anak-anak sekolah di Indonesia.

Baca Juga: Chef Dapur MBG Bongkar Standar Ketat Makan Bergizi Gratis, Masak Dimulai Tengah Malam demi Cegah Keracunan

Editor : Cholifatun Nisak
#program makan bergizi gratis Rp10.000 #Yuda Permana #badan gizi nasional #UMKM Lokal #SPPG Palmerah