Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cara Dapat Beasiswa ke Belanda Meski Tanpa Prestasi, Alumni ITB Bongkar 4 Strategi Jitu

Muhamad Ahsanul Wildan • Jumat, 3 Juli 2026 | 15:30 WIB
Cara dapat beasiswa ke Belanda tanpa prestasi akademik ternyata bukan hal mustahil. Simak empat strategi jitu agar peluang lolos makin besar. (Ilustrasi Gemini AI)
Cara dapat beasiswa ke Belanda tanpa prestasi akademik ternyata bukan hal mustahil. Simak empat strategi jitu agar peluang lolos makin besar. (Ilustrasi Gemini AI)

JAKARTA, RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Cara dapat beasiswa ke Belanda ternyata tidak selalu bergantung pada IPK sempurna maupun sederet prestasi akademik.

Seorang alumni Teknik Geologi ITB membagikan pengalamannya berhasil meraih dua beasiswa sekaligus ke Belanda meski mengaku tidak memiliki prestasi saat menempuh pendidikan S1.

Kisah tersebut menjadi motivasi bagi banyak mahasiswa yang selama ini merasa minder untuk mendaftar beasiswa luar negeri.

Menurutnya, rasa tidak percaya diri justru menjadi penghalang terbesar dibandingkan keterbatasan nilai akademik.

Ia mengungkapkan lulus dengan IPK 3,56 tanpa predikat cumlaude. Selama kuliah, dirinya tidak pernah mengikuti lomba maupun menerbitkan penelitian ilmiah.

Namun, kondisi tersebut tidak menghalangi langkahnya memperoleh dua beasiswa menuju Belanda.

Baca Juga: TPG THR 2026 Masih Belum Ada Kepastian, Guru Mulai Resah Meski Batas Pelaporan Pemda Sudah Lewat

Realistis Memilih Universitas

Menurutnya, langkah pertama dalam cara dapat beasiswa ke Belanda adalah menurunkan ego dan bersikap realistis.

Banyak calon penerima beasiswa terlalu fokus mengejar kampus-kampus elite dunia tanpa melihat kemampuan akademik yang dimiliki.

Ia menilai IPK memang penting, tetapi bukan satu-satunya faktor penentu.

Pengalaman organisasi, membangun bisnis, kegiatan sosial, hingga pengabdian kepada masyarakat juga dapat menjadi nilai tambah yang kuat dalam proses seleksi.

Karena itu, calon pendaftar disarankan memetakan universitas yang sesuai dengan profil masing-masing.

Salah satu caranya adalah memanfaatkan LinkedIn untuk melihat latar belakang mahasiswa yang telah diterima di kampus tujuan sehingga peluang lolos dapat diperkirakan secara lebih realistis.

Cari Beasiswa yang Masih Sepi Peminat

Strategi berikutnya adalah menjadi pribadi yang cerdik, bukan sekadar pintar.

Ia menjelaskan bahwa semakin sedikit orang mengetahui sebuah program beasiswa, maka peluang untuk lolos biasanya semakin besar karena jumlah pesaing lebih sedikit.

Sebagai contoh, ia membandingkan popularitas LPDP yang memiliki puluhan ribu pendaftar setiap tahun dengan beasiswa yang lebih jarang dikenal publik, seperti University of Twente Scholarship maupun Holland Scholarship.

Menurutnya, banyak mahasiswa hanya menunggu informasi beasiswa yang viral di media sosial.

Padahal, peluang justru lebih besar jika meluangkan waktu mencari program-program beasiswa yang belum banyak diketahui masyarakat.

Selain itu, beberapa beasiswa internasional juga menerapkan kuota berdasarkan negara asal peserta sehingga persaingan lebih terfokus dengan sesama pelamar dari Indonesia.

Esai Harus Menarik Sejak 10 Detik Pertama

Tahap seleksi administrasi dinilai menjadi bagian paling menentukan dalam proses memperoleh beasiswa.

Ia mengutip pesan profesornya yang menyebut asesor hanya membutuhkan sekitar 10 detik pertama untuk memutuskan apakah sebuah esai layak dibaca hingga selesai atau tidak.

Karena itu, esai harus mampu langsung menarik perhatian dengan menunjukkan keunikan pelamar.

Dalam pengalamannya, ia mengangkat alasan berpindah bidang studi dari Teknik Geologi menuju Manajemen Energi dan Lingkungan.

Pengalaman bekerja di sektor pertambangan membuatnya memahami dampak eksploitasi sumber daya terhadap lingkungan.

Namun, ia juga menyadari aktivitas pertambangan masih dibutuhkan selama perkembangan teknologi terus berlangsung.

Dari situ, ia menyampaikan gagasan bahwa solusi terbaik bukan menghentikan pertambangan, melainkan memperbaiki tata kelola dan manajemen sektor tersebut agar lebih ramah lingkungan.

Cerita tersebut dinilai mampu membedakan dirinya dari pelamar lain yang memiliki latar belakang akademik lebih kuat.

Mentor Jadi Kunci Penyempurnaan

Tips terakhir adalah mencari mentor yang telah berhasil memperoleh beasiswa luar negeri.

Menurutnya, tidak ada format baku dalam menyusun esai maupun menghadapi wawancara beasiswa. Karena itulah, masukan dari mentor menjadi sangat penting.

Ia mengaku memiliki tiga mentor yang ditemui melalui LinkedIn dan jaringan alumni.

Ketiganya memberikan banyak koreksi terhadap esai yang telah disusun.

Menariknya, meski tidak saling mengenal, ketiga mentor tersebut memberikan masukan yang hampir sama.

Hal itu membuatnya menyadari bahwa penulisan esai beasiswa memiliki teknik tertentu yang hanya dapat dikuasai melalui latihan dan evaluasi berulang.

Ia juga menyoroti adanya familiarity bias, yaitu kondisi ketika penulis terlalu terbiasa membaca tulisannya sendiri sehingga sulit menemukan kesalahan.

Karena itu, mentor berperan sebagai pihak yang mampu melihat kelemahan yang sering terlewat oleh penulis.

Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa cara dapat beasiswa ke Belanda bukan semata ditentukan oleh prestasi akademik, melainkan strategi yang tepat, kemampuan menunjukkan keunikan diri, serta kemauan belajar dari orang yang telah lebih dahulu berhasil.

Baca Juga: TPG THR 2026 Masih Belum Ada Kepastian, Guru Mulai Resah Meski Batas Pelaporan Pemda Sudah Lewat

Editor : Muhamad Ahsanul Wildan
#cara dapat beasiswa ke Belanda #beasiswa Belanda #tips beasiswa #esai beasiswa #beasiswa luar negeri