JAKARTA, RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Beasiswa ke Belanda sering dianggap hanya bisa diraih oleh mahasiswa dengan IPK tinggi, segudang prestasi, serta pengalaman riset internasional.
Namun anggapan tersebut dipatahkan oleh pengalaman seorang alumni Teknik Geologi ITB yang berhasil memperoleh dua beasiswa sekaligus meski mengaku tidak memiliki prestasi akademik selama kuliah.
Ia mengisahkan bahwa rasa minder sempat menghantuinya ketika ingin melanjutkan studi ke luar negeri.
Nilai yang dimiliki tidak tergolong istimewa, bahkan dirinya tidak pernah mengikuti kompetisi maupun memublikasikan penelitian ilmiah selama menempuh pendidikan sarjana.
Meski demikian, ia akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa ke Belanda berbekal strategi yang matang serta kemampuan menampilkan keunikan diri di hadapan tim seleksi.
Baca Juga: TPG THR 2026 Masih Belum Ada Kepastian, Guru Mulai Resah Meski Batas Pelaporan Pemda Sudah Lewat
Prestasi Tidak Selalu Berupa Piala
Menurutnya, banyak mahasiswa gagal menyadari bahwa prestasi tidak selalu identik dengan gelar juara lomba atau publikasi ilmiah.
Pengalaman membangun usaha, aktif di organisasi, hingga terlibat dalam kegiatan sosial juga dapat menjadi nilai jual yang membedakan seorang kandidat dengan pelamar lainnya.
Karena itu, ia menyarankan setiap calon pendaftar mulai menggali pengalaman hidup yang paling berkesan dan relevan dengan program studi yang akan dituju.
Selain itu, pemilihan universitas juga harus dilakukan secara realistis berdasarkan kemampuan akademik yang dimiliki.
Jangan Hanya Mengincar Beasiswa Populer
Ia menilai banyak pelamar hanya fokus mengejar program yang sudah terkenal sehingga persaingan menjadi sangat ketat.
Sebaliknya, ia justru memperoleh peluang dari program beasiswa yang belum banyak dikenal masyarakat Indonesia, seperti University of Twente Scholarship dan Holland Scholarship.
Menurutnya, semakin sedikit jumlah pelamar, maka kesempatan lolos akan semakin besar.
Karena itu, mahasiswa perlu meluangkan waktu mencari berbagai informasi beasiswa internasional, bukan hanya mengandalkan program yang sering muncul di media sosial.
Esai Menjadi Penentu
Dalam proses seleksi, esai disebut sebagai salah satu dokumen paling penting.
Ia menjelaskan asesor hanya memiliki waktu singkat untuk menentukan apakah sebuah tulisan layak dibaca hingga selesai.
Oleh sebab itu, pembuka esai harus mampu menarik perhatian sekaligus menunjukkan alasan mengapa pelamar berbeda dari kandidat lain.
Ia memilih mengangkat pengalaman bekerja di industri pertambangan yang membuatnya tertarik mempelajari manajemen energi dan lingkungan sebagai solusi menjaga keberlanjutan sektor tambang.
Cerita tersebut dinilai mampu memperlihatkan arah karier yang jelas sekaligus memberikan alasan kuat mengapa dirinya layak menerima beasiswa.
Pentingnya Mentor
Selain menulis esai yang menarik, keberadaan mentor juga dianggap menjadi faktor penting.
Ia mengaku meminta masukan kepada tiga penerima beasiswa luar negeri sebelum mengirimkan dokumen pendaftaran.
Berbagai kritik yang diterima membuat kualitas esainya meningkat secara signifikan.
Menurutnya, setiap penulis memiliki kecenderungan melewatkan kesalahan pada tulisannya sendiri sehingga masukan dari pihak lain sangat dibutuhkan.
Pengalaman itu membuktikan bahwa memperoleh beasiswa ke Belanda bukan hanya soal kecerdasan akademik, tetapi juga tentang strategi, keberanian menunjukkan identitas diri, kemampuan menyusun cerita yang kuat, serta kemauan terus belajar melalui bimbingan mentor.
Baca Juga: TPG THR 2026 Masih Belum Ada Kepastian, Guru Mulai Resah Meski Batas Pelaporan Pemda Sudah Lewat
Editor : Muhamad Ahsanul Wildan