Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Tips Dapat Beasiswa ke Belanda Meski Tanpa Prestasi, Alumni ITB Bongkar 4 Strategi Jitu

Muhamad Ahsanul Wildan • Jumat, 3 Juli 2026 | 15:40 WIB
Cara dapat beasiswa ke Belanda meski tanpa prestasi diungkap alumni ITB lewat 4 strategi jitu yang meningkatkan peluang lolos seleksi. (Ilustrasi Gemini AI)
Cara dapat beasiswa ke Belanda meski tanpa prestasi diungkap alumni ITB lewat 4 strategi jitu yang meningkatkan peluang lolos seleksi. (Ilustrasi Gemini AI)

JAKARTA, RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Mendapatkan beasiswa ke Belanda sering dianggap hanya bisa diraih oleh mahasiswa dengan IPK sempurna, segudang prestasi, dan pengalaman riset internasional.

Namun anggapan tersebut dipatahkan oleh seorang alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berhasil memperoleh dua beasiswa sekaligus ke Belanda meski mengaku tidak memiliki prestasi akademik maupun nonakademik saat menempuh pendidikan S1.

Dalam sebuah video yang diunggah di YouTube, alumni Teknik Geologi ITB tersebut membagikan pengalaman pribadinya sekaligus empat strategi yang menurutnya menjadi kunci sukses memperoleh beasiswa ke Belanda.

Ia berharap kisahnya bisa menjadi motivasi bagi banyak mahasiswa yang selama ini merasa minder karena tidak memiliki rekam jejak akademik yang menonjol.

Ia mengaku lulus dari ITB dengan IPK 3,56. Nilai tersebut, menurutnya, bukan termasuk yang terbaik di lingkungan kampusnya.

Selain itu, selama kuliah ia tidak pernah memenangkan perlombaan, tidak memiliki publikasi ilmiah, maupun prestasi akademik lainnya.

Meski begitu, ia akhirnya berhasil melanjutkan studi S2 di Belanda melalui dua program beasiswa berbeda.

Baca Juga: TPG THR 2026 Masih Belum Ada Kepastian, Guru Mulai Resah Meski Batas Pelaporan Pemda Sudah Lewat

Turunkan Ego dan Bersikap Realistis

Strategi pertama yang dibagikannya adalah menurunkan ego serta bersikap realistis ketika menentukan tujuan studi.

Menurutnya, banyak calon penerima beasiswa gagal sejak awal karena memaksakan diri mendaftar ke universitas yang sangat kompetitif tanpa mempertimbangkan kemampuan akademik maupun pengalaman yang dimiliki.

Ia menegaskan bahwa IPK bukan satu-satunya indikator keberhasilan memperoleh beasiswa.

Prestasi juga tidak selalu berbentuk piala, sertifikat lomba, ataupun publikasi penelitian.

Pengalaman membangun bisnis, aktif dalam organisasi, mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat, hingga pengalaman kerja dapat menjadi nilai tambah yang membuat seseorang lebih menonjol dibanding pelamar lainnya.

Ia juga menyarankan calon pendaftar memanfaatkan platform LinkedIn untuk melihat profil mahasiswa yang sudah diterima di universitas tujuan. Dengan cara itu, pelamar bisa mengukur peluang secara lebih objektif.

Cari Beasiswa yang Masih Sepi Peminat

Strategi kedua adalah menjadi pribadi yang cerdik, bukan sekadar pintar.

Menurutnya, banyak orang hanya fokus mengejar program beasiswa populer seperti LPDP yang memiliki jumlah pendaftar sangat besar. Akibatnya tingkat persaingan menjadi sangat ketat.

Sebaliknya, ia justru menyarankan mencari program beasiswa yang belum banyak diketahui masyarakat.

Ia mencontohkan dua beasiswa yang berhasil diperolehnya, yakni University of Twente Scholarship dan Holland Scholarship.

Karena belum terlalu populer di Indonesia, jumlah pesaing dinilai lebih sedikit sehingga peluang lolos menjadi lebih besar.

Selain itu, sejumlah program beasiswa internasional juga menerapkan kuota berdasarkan negara asal sehingga peserta asal Indonesia tetap bersaing dengan sesama warga Indonesia, bukan dengan seluruh pelamar dari berbagai negara.

Jadilah Kandidat yang Berbeda

Strategi ketiga adalah menciptakan keunikan dalam proses seleksi administrasi, terutama saat menulis esai beasiswa.

Menurutnya, asesor harus membaca ratusan dokumen setiap hari. Karena itu, kesan pertama dalam beberapa detik awal menjadi faktor yang sangat menentukan apakah esai akan dibaca hingga selesai.

Ia mengaku sengaja mengangkat kisah unik mengenai perpindahan jurusan dari Teknik Geologi ke Manajemen Energi dan Lingkungan saat melanjutkan studi S2.

Dalam esainya, ia menjelaskan pengalaman bekerja selama dua tahun di sektor pertambangan yang membuatnya menyadari pentingnya pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.

Narasi tersebut dinilai mampu menunjukkan tujuan studi yang jelas sekaligus memberikan alasan kuat mengapa ia memilih bidang yang berbeda dari latar belakang pendidikan sebelumnya.

Menurutnya, kemampuan menjual pengalaman pribadi secara menarik jauh lebih penting dibanding sekadar menampilkan daftar prestasi akademik.

Mentor Menjadi Penentu Kesuksesan

Strategi terakhir adalah mencari mentor yang telah berhasil memperoleh beasiswa luar negeri.

Ia mengungkapkan pernah meminta tiga mentor berbeda untuk mengoreksi esai beasiswanya.

Ketiganya memberikan masukan yang hampir sama meskipun tidak saling mengenal.

Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa menulis esai beasiswa memiliki teknik khusus yang hanya bisa diasah melalui latihan dan evaluasi dari orang yang lebih berpengalaman.

Selain membantu menemukan kesalahan yang sering terlewat karena penulis terlalu akrab dengan tulisannya sendiri, mentor juga dapat memberikan perspektif baru mengenai cara menyusun argumen agar lebih meyakinkan.

Di akhir videonya, ia menegaskan bahwa keberhasilan memperoleh beasiswa ke Belanda tidak semata ditentukan oleh IPK tinggi ataupun banyaknya prestasi.

Keberhasilan lebih banyak ditentukan oleh kemampuan mengenali potensi diri, memilih strategi yang tepat, membangun keunikan, serta terus belajar dari mentor yang telah lebih dahulu berhasil.

Baca Juga: TPG THR 2026 Masih Belum Ada Kepastian, Guru Mulai Resah Meski Batas Pelaporan Pemda Sudah Lewat

Editor : Muhamad Ahsanul Wildan
#tips beasiswa #beasiswa ke Belanda #Holland Scholarship #alumni ITB #beasiswa luar negeri