JAKARTA, RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Beasiswa LPDP menjadi salah satu program pembiayaan pendidikan paling diminati di Indonesia.
Namun, tingginya jumlah pendaftar membuat proses seleksi semakin kompetitif.
Seorang mahasiswi Harvard University, Celine, membagikan sejumlah kesalahan yang menurut pengalamannya paling sering dilakukan oleh pendaftar Beasiswa LPDP hingga berujung gagal lolos.
Pengalaman tersebut berasal dari perjalanan pribadinya sebagai penerima Beasiswa LPDP sekaligus cerita dari sejumlah rekan yang sempat beberapa kali mengikuti seleksi.
Meski bersifat opini pribadi dan bukan penjelasan resmi dari LPDP, berbagai poin yang disampaikan dinilai relevan sebagai bahan evaluasi bagi calon pendaftar.
Menurutnya, masih banyak peserta yang terlalu fokus pada nilai akademik, tetapi justru mengabaikan hal-hal mendasar yang menjadi syarat utama dalam proses seleksi Beasiswa LPDP.
Baca Juga: Aksi Demo Ricuh di BGN: Tuduhan Korupsi MBG Menggema, Wakil Kepala BGN Janji Klarifikasi Terbuka
Daftar Universitas Wajib Dicek Sejak Awal
Kesalahan pertama yang paling sering terjadi adalah mendaftar ke perguruan tinggi yang tidak masuk daftar resmi LPDP.
Padahal setiap jalur beasiswa memiliki daftar universitas tujuan yang berbeda, mulai dari beasiswa reguler, Perguruan Tinggi Utama Dunia (PTUD), hingga jalur kewirausahaan.
Apabila calon peserta tetap memilih kampus di luar daftar tersebut, peluang gugur pada tahap administrasi hampir dipastikan terjadi.
Karena itu, calon pendaftar dianjurkan selalu membaca panduan resmi serta memastikan universitas tujuan telah memenuhi ketentuan LPDP.
Memahami Prioritas Pembangunan Indonesia
Celine juga menilai banyak peserta belum memahami arah pembangunan nasional yang menjadi pertimbangan pemerintah dalam memberikan beasiswa.
Menurutnya, LPDP merupakan program pemerintah sehingga bidang studi yang dipilih sebaiknya selaras dengan kebutuhan Indonesia.
Sebagai contoh, setelah pandemi Covid-19, bidang kesehatan masyarakat dan kesehatan global menjadi salah satu sektor yang memperoleh perhatian besar.
Ia menyarankan peserta mempelajari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), mengikuti perkembangan berita nasional, hingga menonton webinar LPDP yang tersedia secara gratis di YouTube.
Dari sana, calon peserta dapat mengetahui sektor mana yang sedang diprioritaskan pemerintah.
Jangan Mengandalkan Informasi Lama
Kesalahan berikutnya adalah tidak membaca buku pedoman terbaru LPDP.
Menurutnya, aturan seleksi LPDP sangat dinamis. Persyaratan yang tidak ada pada tahun sebelumnya bisa saja muncul pada periode berikutnya.
Sebagai contoh, pernah muncul kewajiban penyetaraan ijazah bagi lulusan luar negeri yang sebelumnya belum diberlakukan.
Perubahan lain juga terjadi pada kebijakan pemegang Letter of Acceptance (LoA) yang memperoleh fasilitas tertentu dalam proses seleksi.
Karena itu, peserta disarankan selalu mengunduh pedoman terbaru setiap kali pendaftaran dibuka.
Esai Harus Mudah Dipahami
Dalam penulisan esai kontribusi, Celine mengingatkan peserta agar tidak memaksakan penggunaan bahasa Inggris apabila belum benar-benar menguasainya.
Menurutnya, tidak ada aturan yang mewajibkan esai kontribusi menggunakan bahasa Inggris, termasuk bagi pendaftar tujuan luar negeri.
Yang terpenting adalah gagasan mengenai kontribusi terhadap Indonesia dapat tersampaikan secara jelas kepada tim penilai.
Ia bahkan menyebut beberapa rekannya tetap berhasil memperoleh Beasiswa LPDP meski menulis esai menggunakan bahasa Indonesia.
Topik Esai Wajib Relevan
Selain bahasa, isi esai juga harus mengikuti kondisi Indonesia saat ini.
Topik yang dipilih sebaiknya berkaitan dengan persoalan nyata yang sedang dihadapi bangsa, sehingga rencana studi dan kontribusi setelah lulus terlihat relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional.
Karena itu, calon peserta dianjurkan rutin mengikuti perkembangan berita dan isu strategis agar argumentasi dalam esai lebih kuat.
Sikap Saat Wawancara Menentukan
Kesalahan lain yang sering muncul adalah terlalu percaya diri saat wawancara hingga terkesan membanggakan diri.
Menurut Celine, pewawancara sebenarnya telah mengetahui prestasi peserta melalui CV dan dokumen pendukung.
Oleh sebab itu, peserta sebaiknya lebih banyak menjelaskan dampak dari pencapaiannya dibanding terus menonjolkan keberhasilan pribadi.
Sebaliknya, rasa minder juga menjadi hambatan besar. Banyak calon peserta memiliki kemampuan memadai tetapi gagal menunjukkan potensi karena kurang percaya diri.
Ia menekankan bahwa keseimbangan antara percaya diri dan rendah hati menjadi modal penting dalam menghadapi wawancara LPDP.
Dengan persiapan yang matang serta pemahaman terhadap aturan terbaru, peluang lolos Beasiswa LPDP dinilai akan semakin terbuka.
Baca Juga: Aksi Demo Ricuh di BGN: Tuduhan Korupsi MBG Menggema, Wakil Kepala BGN Janji Klarifikasi Terbuka
Editor : Muhamad Ahsanul Wildan