Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kisah Sunan Kalijaga: Dari Perampok Lokajaya Menjadi Wali Allah, Perjalanan Hijrah yang Menginspirasi

Muhamad Ahsanul Wildan • Rabu, 8 Juli 2026 | 19:11 WIB
Kisah Sunan Kalijaga dari Berandal Lokajaya hingga menjadi wali Allah membuktikan kekuatan taubat dan dakwah melalui budaya. (Ilustrasi Gemini AI)
Kisah Sunan Kalijaga dari Berandal Lokajaya hingga menjadi wali Allah membuktikan kekuatan taubat dan dakwah melalui budaya. (Ilustrasi Gemini AI)

RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Nama Sunan Kalijaga hingga kini dikenal sebagai salah satu tokoh penyebar Islam paling berpengaruh di Pulau Jawa. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa perjalanan hidupnya dipenuhi lika-liku sebelum akhirnya menjadi wali yang dihormati masyarakat. Kisah Sunan Kalijaga bermula dari seorang bangsawan bernama Raden Said yang memilih jalan penuh risiko demi membela rakyat kecil.

Perjalanan Sunan Kalijaga menjadi sosok ulama besar tidak terjadi dalam waktu singkat. Ia harus melewati masa sebagai penentang ketidakadilan, hidup sebagai perampok yang dijuluki Lokajaya, hingga akhirnya menemukan jalan dakwah melalui bimbingan Sunan Bonang.

Lahir di Tuban pada abad ke-15 sebagai putra Adipati Wilatikta, Raden Said tumbuh dengan kehidupan berkecukupan. Meski berasal dari lingkungan bangsawan, ia justru lebih senang bergaul dengan rakyat biasa. Sejak kecil, ia menyaksikan kesenjangan sosial yang begitu mencolok antara kehidupan keraton dan masyarakat miskin.

Baca Juga: Rumah Makan Di Lalap Api, Kerugian Ditaksir Rp 250 Juta

Awal Perlawanan terhadap Ketidakadilan

Raden Said sering melihat rakyat kelaparan sementara gudang keraton dipenuhi bahan makanan. Kondisi itu membuat hatinya terusik. Ia bahkan mempertanyakan kepada keluarganya mengapa kemiskinan dibiarkan terjadi.

Karena kecewa, Raden Said diam-diam mengambil beras dari gudang keraton untuk dibagikan kepada masyarakat miskin. Tindakannya akhirnya diketahui sang ayah yang murka. Perselisihan tersebut membuat Raden Said memilih meninggalkan istana.

Di luar lingkungan keraton, ia kemudian dikenal sebagai Berandal Lokajaya. Bersama para pengikutnya, ia merampas harta milik saudagar kaya dan pejabat yang dianggap tamak. Hasil rampasan tersebut bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan dibagikan kepada fakir miskin.

Meski dipuja rakyat kecil, hati Raden Said tetap diliputi kegelisahan. Ia mulai menyadari bahwa tujuan baik tidak selalu dapat dicapai melalui cara yang salah.

Pertemuan yang Mengubah Hidup

Perubahan terbesar dalam hidup Raden Said dimulai ketika bertemu Sunan Bonang. Sang guru memberikan ujian yang tidak biasa, yakni memintanya menjaga sebuah tongkat di tepi sungai tanpa meninggalkan tempat tersebut.

Hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan bertahun-tahun dilalui dengan penuh kesabaran. Selama menjalani ujian itu, Raden Said menghadapi berbagai hinaan, rasa lapar, kesepian, hingga godaan untuk kembali menjadi perampok.

Namun ia memilih tetap bertahan sambil memperbanyak zikir dan mendekatkan diri kepada Allah. Kesabaran itu menjadi titik balik yang mengubah kepribadiannya secara menyeluruh.

Ketika Sunan Bonang kembali, tongkat yang selama ini dijaga telah tumbuh menjadi pohon hijau. Peristiwa tersebut menjadi simbol keberhasilan Raden Said menaklukkan hawa nafsunya.

Sejak saat itu, Sunan Bonang memberikan nama baru kepadanya, yakni Sunan Kalijaga, yang berarti penjaga kali.

Berdakwah Lewat Seni dan Budaya

Setelah memperoleh ilmu agama, Sunan Kalijaga tidak memilih pendekatan dakwah yang keras. Ia justru mendekati masyarakat melalui budaya yang telah akrab dengan kehidupan orang Jawa.

Ia mengenakan pakaian sederhana, hidup bersama rakyat, dan mengajarkan Islam dengan penuh kelembutan. Cara tersebut membuat masyarakat merasa dekat tanpa adanya tekanan.

Sunan Kalijaga juga memanfaatkan gamelan, tembang Jawa, hingga wayang kulit sebagai media dakwah. Melalui pertunjukan seni, nilai-nilai Islam disampaikan secara halus sehingga mudah diterima berbagai kalangan.

Bagi Sunan Kalijaga, dakwah bukan sekadar menyampaikan ajaran agama, melainkan juga memahami budaya masyarakat yang menjadi sasaran dakwah.

Warisan pemikirannya masih terasa hingga sekarang. Banyak tradisi Islam Nusantara yang diyakini berkembang berkat pendekatan budaya yang diperkenalkan Sunan Kalijaga.

Perjalanan hidupnya menjadi bukti bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Dari seorang bangsawan yang gelisah, perampok yang ditakuti, hingga akhirnya menjadi wali Allah yang dikenang sepanjang zaman, kisah Sunan Kalijaga terus menjadi inspirasi tentang makna taubat, kesabaran, dan dakwah penuh kasih sayang.

Baca Juga: Rumah Makan Di Lalap Api, Kerugian Ditaksir Rp 250 Juta

Editor : Muhamad Ahsanul Wildan
#dakwah Islam #Raden Said #Berandal Lokajaya #sunan kalijaga #Sunan Bonang