RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Asabri menjadi sorotan setelah seorang pensiunan TNI mengungkap pengalaman pribadi saat mengurus hak pensiunnya. Selain mempertanyakan besaran manfaat pensiun, ia juga menilai pelayanan kepada peserta lanjut usia masih perlu mendapat perhatian.
Di hadapan jajaran PT Asabri dan PT Taspen, ia mengingatkan bahwa tujuan utama asuransi pensiun adalah memberikan jaminan kesejahteraan setelah seseorang selesai mengabdi kepada negara.
Namun, menurutnya, tujuan tersebut belum sepenuhnya dirasakan oleh banyak pensiunan.
Mengaku Tidak Dihubungi Selama 18 Bulan
Dalam penyampaiannya, ia menceritakan pengalaman setelah pensiun dari TNI pada akhir 2017.
Ia mengatakan tidak mengambil hak yang berkaitan dengan Asabri selama sekitar 18 bulan karena memiliki kesibukan lain.
Selama rentang waktu tersebut, ia mengaku tidak pernah dihubungi oleh pihak terkait untuk mengingatkan pencairan maupun kelengkapan administrasi.
Saat akhirnya datang ke kantor Asabri, ia mengaku tetap harus mengikuti antrean untuk menyelesaikan proses administrasi.
Menurutnya, kondisi itu menjadi tantangan tersendiri bagi pensiunan yang telah berusia lanjut.
Sistem Digital Dinilai Belum Ramah Lansia
Ia juga menyoroti perubahan pelayanan yang kini memanfaatkan aplikasi digital.
Menurutnya, proses verifikasi identitas melalui pengenalan wajah dapat menyulitkan sebagian pensiunan, terutama mereka yang sudah lanjut usia.
Ia menggambarkan adanya tahapan menggerakkan kepala ke kanan dan kiri untuk proses verifikasi yang tidak selalu mudah dilakukan.
Karena itu, ia berharap tersedia mekanisme pelayanan lain yang lebih sederhana sehingga peserta lansia tetap dapat memperoleh pelayanan tanpa hambatan.
Besaran Pensiun Ikut Dipertanyakan
Selain pelayanan, ia kembali mengangkat persoalan manfaat pensiun yang diterima para prajurit setelah menyelesaikan masa dinas.
Ia mengaku telah mengabdi selama hampir 35 tahun sebagai anggota TNI.
Menurutnya, manfaat pensiun yang diterima hanya sekitar Rp4,77 juta pada awal pensiun dan kemudian meningkat menjadi sekitar Rp5,2 juta.
Ia menjelaskan bahwa besaran pensiun dihitung dari gaji pokok, sedangkan peningkatan penghasilan prajurit selama bertugas justru lebih banyak berasal dari tunjangan.
Akibatnya, pendapatan setelah pensiun mengalami penurunan yang cukup besar.
Harap Ada Solusi dari Asabri
Ia meminta manajemen Asabri mencari langkah agar manfaat pensiun lebih mencerminkan kebutuhan para purnawirawan.
Menurutnya, mereka yang telah puluhan tahun mengabdikan diri kepada negara seharusnya memperoleh jaminan kehidupan yang lebih baik setelah pensiun.
Ia juga berharap kebijakan yang akan datang dapat mengurangi kesenjangan antara penghasilan saat masih aktif dan manfaat yang diterima ketika pensiun.
Pengelolaan Dana Perlu Terus Diawasi
Dalam kesempatan itu, ia turut menyinggung pengelolaan dana Asabri.
Ia mengingatkan agar persoalan yang pernah terjadi pada pengelolaan dana tidak kembali terulang.
Menurutnya, pengawasan menjadi faktor penting karena dana tersebut merupakan hak para peserta yang telah menyelesaikan masa pengabdiannya.
Ia juga mempertanyakan keberadaan mekanisme pengawasan di Asabri maupun Taspen sebagai bagian dari upaya menjaga kepercayaan peserta.
Dorong Reformasi Berpihak kepada Peserta
Menjelang akhir penyampaiannya, ia menyatakan mendukung setiap upaya reformasi kelembagaan yang bertujuan meningkatkan pelayanan kepada peserta.
Ia juga menilai perubahan kebijakan perlu difokuskan pada kemudahan layanan, keamanan pengelolaan dana, serta peningkatan kesejahteraan pensiunan.
Menurutnya, keberhasilan program pensiun tidak hanya diukur dari besarnya dana yang dikelola, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan rasa aman dan pelayanan yang mudah diakses oleh seluruh peserta, khususnya para pensiunan yang telah memasuki usia lanjut.
Editor : Ingge Nayla Ayu KarinaSumber : ASN Abad 21, You Tube, DIOLAH