RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Persoalan pensiun TNI kembali menjadi sorotan dalam rapat bersama jajaran PT Asabri dan PT Taspen. Seorang pensiunan TNI menyampaikan kritik terhadap besaran manfaat pensiun yang dinilai belum mampu menjamin kesejahteraan prajurit setelah mengakhiri masa dinas.
Dalam penyampaiannya, ia menegaskan tujuan utama program asuransi pensiun adalah menjaga keseimbangan penghasilan sekaligus memberikan jaminan kesejahteraan pada hari tua. Namun, menurutnya, kondisi yang dialami para pensiunan masih jauh dari harapan tersebut.
Ia mengaku telah mengabdi sebagai prajurit TNI selama hampir 35 tahun. Setelah memasuki masa pensiun, ia mengatakan manfaat pensiun yang diterima awalnya sebesar Rp4.770.000 dan kemudian meningkat menjadi sekitar Rp5,2 juta.
Tujuan Dana Pensiun Dinilai Belum Tercapai
Menurutnya, manfaat pensiun yang diterima belum mampu mempertahankan tingkat kesejahteraan setelah pensiun.
Ia menjelaskan selama masih aktif berdinas terdapat berbagai potongan dari gaji pokok sebagai bagian dari kepesertaan. Namun saat memasuki masa pensiun, manfaat yang diterima hanya dihitung berdasarkan sekitar 75 persen dari gaji pokok.
Padahal, menurutnya, peningkatan pendapatan prajurit selama ini lebih banyak berasal dari komponen tunjangan dibanding kenaikan gaji pokok.
Kondisi tersebut dinilai menyebabkan selisih pendapatan antara masa aktif dan masa pensiun menjadi sangat besar.
Soroti Pengelolaan Dana Asabri
Selain menyinggung besaran manfaat pensiun, ia juga mempertanyakan pengelolaan dana oleh Asabri.
Ia menyinggung kasus yang pernah terjadi pada pengelolaan dana perusahaan tersebut serta mempertanyakan kondisi keuntungan perusahaan yang dalam laporan disebut mengalami angka negatif.
Dalam penyampaiannya, ia mempertanyakan penggunaan istilah "laba minus" dan meminta penjelasan mengenai kondisi keuangan perusahaan.
Menurutnya, pengelolaan dana pensiun harus benar-benar mampu menjamin keamanan dana peserta karena menyangkut masa depan prajurit, anggota Polri, serta aparatur sipil negara di lingkungan Kementerian Pertahanan.
Usulkan Perbaikan Sistem Pensiun
Ia berharap Asabri dapat mencari solusi agar manfaat pensiun tidak mengalami penurunan yang terlalu jauh dibanding penghasilan ketika masih aktif berdinas.
Menurutnya, apabila pemerintah belum memungkinkan menaikkan gaji pokok karena berdampak pada komponen anggaran lain, diperlukan strategi lain agar kesejahteraan pensiunan tetap terjaga.
Ia memberi gambaran bahwa seorang prajurit berpangkat tinggi yang sebelumnya memperoleh penghasilan jauh lebih besar akhirnya hanya menerima pensiun sekitar Rp5 juta karena dasar perhitungannya berasal dari gaji pokok.
Ia berharap terdapat skema yang mampu membuat manfaat pensiun lebih mendekati penghasilan saat masih aktif.
Keluhkan Pengalaman Mengurus Hak Pensiun
Dalam kesempatan itu, ia juga menceritakan pengalamannya setelah pensiun pada akhir 2017.
Menurut pengakuannya, selama sekitar 18 bulan dirinya belum mengambil hak yang berkaitan dengan Asabri karena memiliki aktivitas lain.
Ia mengaku tidak pernah dihubungi selama periode tersebut sehingga akhirnya harus datang sendiri ke kantor Asabri untuk mengurus pencairan.
Menurutnya, proses tersebut tidak mudah. Ia bahkan harus mengikuti antrean meski telah berstatus pensiunan.
Pengalaman itu dinilainya menunjukkan perlunya peningkatan pelayanan kepada para peserta yang sudah memasuki usia lanjut.
Soroti Layanan Digital bagi Pensiunan Lansia
Ia juga mengomentari penerapan layanan berbasis aplikasi yang kini digunakan dalam proses administrasi.
Menurutnya, sistem verifikasi digital seperti menggerakkan kepala ke kanan dan kiri untuk pengenalan wajah bisa menjadi kendala bagi pensiunan lanjut usia.
Ia menilai tidak semua pensiunan memiliki kemampuan menggunakan teknologi maupun memiliki anggota keluarga yang dapat membantu proses tersebut.
Karena itu, ia meminta agar Asabri tetap menyediakan mekanisme pelayanan yang lebih ramah bagi peserta lansia sehingga mereka tidak mengalami kesulitan saat mengurus haknya.
Minta Penguatan Pengawasan
Selain pelayanan, ia juga menekankan pentingnya penguatan sistem pengawasan terhadap pengelolaan dana pensiun.
Ia mempertanyakan keberadaan badan pengawas baik di Asabri maupun Taspen agar kejadian yang pernah terjadi dalam pengelolaan dana tidak kembali terulang.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyinggung perlunya penguatan kelembagaan, pengelolaan kepesertaan, serta reformasi program selama seluruh kebijakan diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan para pensiunan.
Menutup penyampaiannya, ia berharap pemerintah, Asabri, dan Taspen terus mencari solusi agar manfaat pensiun benar-benar dapat menjadi jaminan hari tua bagi prajurit TNI, anggota Polri, maupun aparatur sipil negara di lingkungan Kementerian Pertahanan sesuai tujuan awal program dana pensiun.
Editor : Ingge Nayla Ayu KarinaSumber : ASN Abad 21, You Tube, Diolah dari berbagai sumber