Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Taspen Kelola Dana Rp400 Triliun, Ini Fakta Layanan Pensiun ASN dan Kinerja Terbarunya

Ingge Nayla Ayu Karina • Kamis, 16 Juli 2026 | 15:00 WIB
Taspen mengelola dana lebih dari Rp400 triliun dan mencatat laba Rp1,2 triliun. Simak fakta terbaru layanan pensiun ASN.
Taspen mengelola dana lebih dari Rp400 triliun dan mencatat laba Rp1,2 triliun. Simak fakta terbaru layanan pensiun ASN.

 

RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - PT Taspen kembali menjadi sorotan setelah memaparkan kondisi terkini pengelolaan dana pensiun Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI. Dalam pemaparan tersebut, terungkap bahwa Taspen saat ini mengelola aset dan dana investasi dengan total mencapai lebih dari Rp400 triliun.

 

Paparan mengenai kinerja Taspen ini menjadi perhatian publik karena menyangkut nasib jutaan pensiunan dan pegawai negeri sipil di Indonesia. Selain membahas layanan pensiun, manajemen Taspen juga membeberkan berbagai inovasi digital hingga capaian investasi yang dinilai berada di atas rata-rata pasar.

 

Direktur Utama PT Taspen, Roni, menjelaskan bahwa perusahaan pelat merah tersebut saat ini melayani sekitar 7,89 juta peserta. Jumlah tersebut terdiri atas sekitar 4,7 juta peserta aktif dan sekitar 3,1 juta penerima pensiun.

 

Taspen Layani Jutaan ASN dan Pensiunan

 

Roni mengungkapkan bahwa layanan Taspen menjangkau seluruh Indonesia melalui 57 kantor cabang, sekitar 17 ribu titik layanan, serta bekerja sama dengan 44 mitra bayar.

 

Selain itu, Taspen juga menempatkan personel di 128 titik Mal Pelayanan Publik untuk mempermudah akses layanan bagi peserta.

 

"DNA Taspen hanya ada dua, yaitu pelayanan dan investasi," ujar Roni dalam rapat bersama Komisi XI DPR.

 

Peserta Taspen meliputi PNS pusat, pegawai daerah, pejabat negara termasuk anggota DPR, penerima pensiun anggota ABRI sebelum 1 April 1989, hingga para veteran.

 

Dalam menjalankan tugasnya, Taspen mengelola empat program utama, yakni Tabungan Hari Tua (THT), program pensiun, Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), dan Jaminan Kematian (JKM).

 

Digitalisasi Masih Menjadi Tantangan

 

Meski terus mendorong transformasi digital, pemanfaatan layanan online oleh peserta ternyata masih belum maksimal.

 

Taspen mencatat hanya sekitar 35 persen peserta yang memanfaatkan layanan pengajuan klaim secara digital. Sementara sekitar 65 persen lainnya masih menggunakan metode manual.

 

Hal serupa juga terjadi pada layanan otentifikasi pensiun. Saat ini, baru sekitar 58 persen pensiunan yang melakukan verifikasi secara digital menggunakan aplikasi dan ponsel.

 

Sisanya, sekitar 42 persen peserta masih memilih melakukan otentifikasi secara manual dengan mendatangi kantor cabang atau melalui kunjungan petugas Taspen ke rumah.

 

Menurut Roni, kondisi tersebut terjadi karena sebagian pensiunan masih belum terbiasa menggunakan teknologi digital.

 

"Banyak yang masih takut salah atau khawatir tertipu sehingga lebih nyaman menggunakan layanan manual," jelasnya.

 

Taspen bahkan masih menyediakan layanan kunjungan langsung kepada penerima pensiun, terutama bagi mereka yang tidak melakukan otentifikasi selama tiga bulan berturut-turut.

 

Kelola Aset Lebih dari Rp400 Triliun

 

Dalam aspek keuangan, Taspen mengungkapkan bahwa total aset program THT, JKK, dan JKM mencapai Rp149,53 triliun.

 

Sementara itu, dana Akumulasi Iuran Pensiun (AIP) yang dikelola mencapai Rp250,77 triliun.

 

Jika digabungkan, total dana yang berada dalam pengelolaan Taspen mencapai lebih dari Rp400 triliun.

 

Menariknya, hasil investasi Taspen juga tercatat cukup tinggi. Yield on Investment (YOI) untuk program THT mencapai 7,68 persen secara neto, sedangkan program AIP mencatatkan imbal hasil sebesar 7,24 persen.

 

Angka tersebut berada di atas rata-rata imbal hasil pasar yang berada di kisaran 6,3 hingga 6,5 persen.

 

Sebagian besar investasi Taspen ditempatkan pada Surat Berharga Negara (SBN) dengan tenor jangka panjang.

 

Meski demikian, Taspen juga menghadapi tantangan besar berupa tingginya rasio klaim THT.

 

Pada 2024, rasio klaim THT mencapai 257 persen. Artinya, setiap Rp1.000 iuran yang diterima, Taspen harus membayarkan sekitar Rp2.570 untuk memenuhi kewajiban klaim peserta.

 

Kondisi tersebut ditutup melalui hasil investasi dan pendapatan lainnya.

 

Laba Taspen Tembus Rp1,2 Triliun

 

Di tengah tingginya beban klaim, Taspen tetap mampu mencatatkan kinerja positif.

 

Perusahaan mencatat laba korporasi sebesar Rp1,2 triliun sepanjang tahun 2024.

 

Menurut manajemen, capaian tersebut menunjukkan kondisi keuangan perusahaan masih terjaga dan berada di atas target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).

 

Selain itu, tingkat kepuasan peserta juga terus meningkat dari tahun ke tahun berdasarkan survei independen yang dilakukan pihak ketiga.

 

Peningkatan layanan, inovasi digital, serta pengelolaan investasi yang optimal menjadi faktor utama yang mendorong naiknya indeks kepuasan peserta Taspen.

 

Dengan jutaan peserta aktif dan pensiunan yang bergantung pada layanan perusahaan, Taspen menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan pelayanan sekaligus menjaga keberlanjutan dana pensiun ASN di masa mendatang.

Editor : Ingge Nayla Ayu Karina
Sumber : Info Pensiun ASN, youtube, DIOLAH
Aset Taspen Rp400 Triliun taspen dana pensiun ASN Pensiunan PNS komisi xi dpr