TULUNGAGUNG - Pergerakan IHSG Hari Ini menunjukkan dinamika yang cukup volatil pada sesi perdagangan pagi di tengah kejutan rumor dari otoritas moneter domestik. Perdagangan bursa saham dalam negeri sempat dikejutkan oleh kabar bahwa Gubernur Bank Indonesia (BI), Peri Warjio, mendadak dikabarkan mengundurkan diri dari jabatannya akibat alasan kesehatan. Isu pengunduran diri yang berembus cepat usai pemanggilan anggota Dewan Gubernur BI pada akhir pekan tersebut langsung memicu volatilitas tinggi serta respons emosional di lantai bursa.
Tekanan hebat di awal sesi perdagangan sempat menyeret IHSG Hari Ini hingga nyaris terkoreksi tajam sebesar 1 persen. Kendati demikian, daya tahan bursa saham domestik teruji kuat ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) perlahan berbalik arah menuju zona hijau. Indeks mampu merangkak naik sekitar 0,3 persen atau bertambah 18 poin hingga menyentuh level 624,83, mencerminkan adanya aksi perlawanan beli dari para pelaku pasar yang memanfaatkan momentum koreksi teknikal.
Meskipun laju IHSG Hari Ini berhasil berbalik menguat, pergerakan nilai tukar rupiah justru menunjukkan tren yang berlawanan. Mata uang Garuda harus tertekan dan terkoreksi sebesar 0,28 persen atau melemah 50 poin berbanding dolar Amerika Serikat (USD). Posisi rupiah terdorong mendekati level psikologis Rp18.000, tepatnya berada di posisi Rp17.985 per dolar AS, seiring penguatan mata uang global lainnya seperti Dolar Singapura, Yen Jepang, hingga Euro yang turut menekan rupiah.
Dorongan Sektor Saham dan Volatilitas Bursa Domestik
Pembalikan arah indeks saham domestik menuju zona hijau disokong oleh penguatan mayoritas indeks sektoral di bursa. Sektor industri manufaktur memimpin kenaikan hingga 1,24 persen, disusul oleh sektor barang konsumen non-primer sebesar 1,21 persen, serta sektor bahan baku yang naik 0,53 persen. Selain itu, sektor teknologi, energi, finansial perbankan, dan properti turut menopang pergerakan indeks dengan mencatatkan kenaikan tipis, sementara sektor barang konsumen primer cenderung bergerak stagnan.
Di sisi lain, tekanan koreksi masih menimpa beberapa sektor pendukung lainnya di bursa. Sektor kesehatan mencatatkan penurunan terbesar sebesar 0,50 persen, diikuti oleh sektor infrastruktur yang melemah 0,42 persen serta sektor transportasi yang terkoreksi 0,15 persen. Tarik-menarik antara aksi beli pada sektor siklikal dan tekanan jual pada sektor defensif membuat pergerakan bursa saham dalam negeri tampak volatil dan fluktuatif sepanjang perdagangan pagi.
Sentimen Geopolitik Timur Tengah dan Respon Pasar Global
Selain dinamika isu domestik, fokus para investor juga tertuju pada perkembangan tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Pasar merespons sinyal de-eskalasi setelah Iran menyatakan kesiapannya untuk menghentikan serangan militer apabila Amerika Serikat juga menghentikan aksi serangannya. Sinyal pemulihan ini mengemuka usai Pentagon memutuskan penghentian sementara kampanye pengeboman selama dua hari berturut-turut setelah rentetan penyerangan udara dalam dua pekan terakhir.
Langkah taktis Presiden AS Donald Trump untuk meredakan agresi militer diambil setelah para penasihat keamanan memperingatkan potensi penipisan cadangan amunisi strategis. Kendati otoritas militer menilai jeda serangan ini baru bersifat sementara dan belum mencerminkan kesepakatan damai permanen dalam perundingan, kepastian penundaan konflik cukup memberikan amunisi positif bagi pasar keuangan global untuk keluar dari tekanan ketidakpastian.
Baca Juga: Wabah Cyclospora Taco Bell Meluas ke 5 Negara Bagian, Ribuan Warga Terjangkit akibat Selada Meksiko!
Agenda Sentimen Ekonomi Global dan Keputusan Suku Bunga
Di samping isu geopolitik, pergerakan pasar saham global pekan ini diwarnai oleh deretan agenda ekonomi penting dari dua raksasa dunia, Amerika Serikat dan China. Pelaku pasar mencermati rilis data pesanan barang tahan lama (Durable Goods Orders) periode Juni dari Washington, serta memantau pelaksanaan Rapat Politbiro Partai Komunis China yang dipimpin Presiden Xi Jinping. Hasil pertemuan tahunan tersebut menjadi penentu arah stimulus kebijakan ekonomi Beijing pada paruh kedua tahun ini.
Sorotan utama investor dunia kini tertuju pada pengumuman hasil rapat kebijakan moneter The Federal Reserve (FOMC) di Amerika Serikat. Mayoritas pelaku pasar memproyeksikan Bank Sentral AS akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan di kisaran 3,75 persen. Perhatian pelaku pasar tidak lagi berfokus pada besaran angka suku bunga, melainkan pada sinyal serta narasi kebijakan (forward guidance) yang akan disampaikan oleh Ketua The Fed Kevin Warsh dalam konferensi pers.
Tidak hanya Amerika Serikat, ketetapan moneter global juga akan diramaikan oleh pengumuman suku bunga dari Bank of England (BoE) yang diperkirakan bertahan pada level 3,75 persen, serta Rapat Bank of Japan (BoO) di akhir pekan. Keputusan bank sentral Jepang dalam menahan atau mengetat arah kebijakan setelah kenaikan 25 basis poin pada Juni lalu diprediksi turut memengaruhi arah arus modal asing ke pasar negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.
Editor : Natasha Eka SafrinaSumber : CNBC Indonesia