TULUNGAGUNG - Keputusan mendadak terkait gubernur bi mundur Peri Warjio sempat mengejutkan pasar keuangan nasional. Mantan pimpinan bank sentral tersebut secara resmi mengundurkan diri secara sukarela dari jabatannya karena alasan pribadi sejak Sabtu lalu, di mana surat pengunduran diri telah disampaikan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto. Walau sempat mengejutkan pelaku bursa, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) relatif mampu bertahan dan terhindar dari gelombang aksi jual besar-besaran (panic selling).
Respon tenang dari para investor pasca-kejadian gubernur bi mundur tersebut tercermin dari penguatan tipis IHSG sebesar 0,06 persen atau naik 3 poin pada sesi perdagangan pagi. Pelaku pasar cenderung mengambil sikap menanti (wait and see) guna melihat kejelasan arah kebijakan moneter nasional. Untuk menjaga stabilitas moneter dan tata kelola kelembagaan, Dewan Gubernur BI menunjuk Deputi Gubernur Senior BI, Destri Damayanti, sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Bank Indonesia.
Di tengah penunjukan Plt usai gubernur bi mundur tersebut, pemerintah juga memperkuat koordinasi stabilitas sistem keuangan nasional. Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan agar Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dilibatkan secara rutin dalam setiap pertemuan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Kepala BPI Danantara, Rosan Roeslani, menegaskan langkah ini bertujuan agar perumusan kebijakan KSSK turut mempertimbangkan dampaknya terhadap sektor riil dan iklim investasi nasional.
Baca Juga: IHSG Hari Ini Sempat Anjlok di Tengah Rumor Gubernur BI Mundur, Kenapa Berbalik Hijau?
Fluktuasi Sektoral Bursa Saham dan Tekanan pada Kurs Rupiah
Meskipun IHSG mampu merangkak ke zona hijau, pergerakan sektoral di lantai bursa memperlihatkan dinamika yang bervariasi. Sektor finansial mengalami koreksi sebesar 0,39 persen, memberikan tekanan yang cukup signifikan bagi laju indeks. Sementara itu, sektor teknologi mencatatkan penurunan sebesar 0,43 persen, dan sektor kesehatan bergerak stagnan sepanjang sesi perdagangan.
Penahanan laju penurunan IHSG ditopang oleh performa positif sektor unggulan lainnya. Sektor konsumer primer memimpin kenaikan dengan apresiasi 0,80 persen, disusul sektor bahan baku sebesar 0,72 persen, serta sektor energi dan perindustrian yang masing-masing menguat 0,34 persen. Selain itu, sektor properti naik 0,26 persen, sektor konsumer non-primer bertambah 0,25 persen, dan sektor transportasi menguat tipis 0,15 persen.
Berbeda dengan ketahanan pasar saham, nilai tukar rupiah justru harus menahan tekanan cukup berat di pasar valuta asing. Kurs rupiah terkoreksi sebesar 0,39 persen atau melemah 70 poin berbanding Dolar AS, sehingga terdorong ke posisi Rp18.070 per USD. Pelemahan rupiah ini turut terjadi secara merata terhadap Dolar Singapura yang menguat 0,34 persen, Yen Jepang naik 0,40 persen, dan Euro yang menguat 0,45 persen.
Isu Geopolitik Timur Tengah dan Anjloknya Harga Minyak Dunia
Dari panggung internasional, perhatian investor terbagi oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa komunikasi diplomasi berjalan positif, membuka peluang kesepakatan damai. Namun, Trump menegaskan operasi militer AS akan dilanjutkan apabila jalur negosiasi gagal membuahkan hasil.
Eskalasi konflik kawasan tetap hangat di tengah jeda serangan udara dua pekan dari Washington, ditandai laporan serangan drone di Arab Saudi, Yordania, dan Irak. Kondisi ini berdampak langsung pada pergerakan harga minyak mentah dunia yang mengalami penurunan tajam. Minyak mentah jenis Brent merosot 8,7 persen ke level USD 88,36 per barel, sementara jenis West Texas Intermediate (WTI) anjlok 7,5 persen ke posisi USD 82,61 per barel.
Indikator Ekonomi AS dan Arah Kebijakan Suku Bunga The Fed
Sentimen mancanegara juga dipengaruhi oleh rilis data pesanan barang tahan lama (Durable Goods Orders) Amerika Serikat periode Juni 2026 yang naik tipis 0,3 persen secara bulanan menjadi USD 334,8 miliar. Kenaikan ini membaik dibanding Mei yang sempat anjlok 4 persen, namun masih berada di bawah ekspektasi pasar yang memproyeksikan angka 1,6 persen.
Selain data manufaktur, sorotan utama pelaku pasar global tertuju pada pelaksanaan Rapat FOMC oleh bank sentral AS, The Fed. Pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75 persen. Investor kini mencermati arah kebijakan Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang secara konsisten menegaskan komitmen menekan angka inflasi AS agar kembali ke target 2 persen.
Editor : Natasha Eka SafrinaSumber : CNBC Indonesia