TULUNGAGUNG - Menghadapi dinamika bursa efek Indonesia yang sangat fluktuatif, penerapan strategi investasi saham yang tepat menjadi kunci utama agar portofolio tidak tergerus gelombang volatilitas pasar. Kreator konten sekaligus investor Feri Irwandi membagikan pengalamannya berhasil meraup keuntungan hingga miliaran rupiah di tengah kondisi pasar modal yang sedang tidak stabil. Menariknya, capaian fantastis tersebut diraih tanpa perlu menyentuh saham gorengan maupun mengandalkan sinyal harian dari grup berbayar, melainkan murni memanfaatkan analisis fundamental serta pengelolaan risiko yang ketat.
Feri mengungkapkan bahwa banyak investor pemula keliru memahami strategi investasi saham dengan terlalu berfokus memprediksi arah pergerakan harga saham (forecasting) jangka pendek. Menurutnya, pasar saham di Indonesia memiliki tingkat sensitivitas yang sangat tinggi, kedalaman pasar yang relatif dangkal, serta sangat dipengaruhi oleh pergerakan modal besar (big money). Hal inilah yang membuat prediksi pergerakan harga saham harian menjadi sangat sulit dan berisiko tinggi bagi investor ritel.
Saking besarnya keuntungan yang diraih saat pasar bergejolak, Feri bahkan sempat disangka sebagai insider yang memiliki akses informasi rahasia. Ia membantah keras tuduhan tersebut karena dirinya tidak menjual kelas investasi maupun mempromosikan emiten tertentu di media sosial. Dibandingkan terjebak menebak arah angin bursa, ia menekankan pentingnya membangun kerangka kerja (framework) strategi investasi saham yang berpatokan pada tiga pilar utama: penentuan cakrawala waktu (time horizon), kalkulasi alokasi modal kapital terukur, serta kedisiplinan eksekusi.
Baca Juga: Gubernur BI Mundur Mendadak Bikin Pasar Geger, Bagaimana Nasib IHSG dan Kurs Rupiah?
Tiga Pilar Utama Kerangka Kerja Investasi Saham
Pilar pertama yang wajib ditetapkan seorang investor adalah time horizon atau jangka waktu investasi. Dalam contoh kasusnya, Feri membidik horizon investasi jangka panjang hingga 20 tahun yang ditujukan untuk menyiapkan dana pendidikan anak. Ketika indeks saham domestik sempat merosot dan emiten berfundamental kuat seperti perbankan big cap terkoreksi ke harga terjangkau, ia menetapkan target harga masuk berdasarkan kalkulasi profil perusahaan serta pembagian dividen berkala.
Pilar kedua berkaitan erat dengan kalkulasi modal kapital dan pengelolaan porsi posisi (position sizing). Investor diimbau hanya menggunakan dana dingin yang siap ditanggung risikonya tanpa mengganggu pemenuhan kebutuhan dasar harian. Feri menetapkan batas atas dan batas bawah harga pembelian secara rigid, misalnya batas akumulasi pada rentang harga tertentu. Pendekatan disiplin ini memastikan investor siap melakukan aksi beli bertahap (averaging down/up) tanpa merusak kesehatan mental saat pasar bergerak fluktuatif.
Di samping itu, Feri mengingatkan pentingnya memaksimalkan pendapatan di usia produktif untuk memperbesar modal investasi. Menurutnya, persentase kenaikan harga saham yang tinggi tidak akan memberikan hasil finansial yang optimal apabila modal awal yang ditanamkan relatif sangat kecil. Oleh karena itu, meningkatkan kapasitas penghasilan dari pekerjaan utama atau bisnis jauh lebih efektif ketimbang menghabiskan waktu memantau pergerakan grafik lilin (candlestick) setiap hari.
Kedisiplinan Psikologis dan Peluang Transaksi Global
Pilar ketiga yang tidak kalah penting adalah kedisiplinan psikologis untuk mengendalikan emosi diri. Di tengah gempuran rumor bursa dan fenomena fear of missing out (FOMO), investor yang disiplin tidak akan mudah panik melakukan aksi jual saat harga turun (panic selling) atau nekat berutang demi membeli saham. Ketika harga emiten perbankan tersebut perlahan merangkak naik dari level terendah hingga menembus angka tertinggi, kerangka kerja yang sudah dikunci dari awal secara otomatis menghasilkan margin keuntungan yang sangat signifikan.
Selain membedah strategi di bursa saham domestik, Feri yang kini tengah menyelesaikan urusan studi di Melbourne, Australia, juga menyoroti pentingnya efisiensi finansial bagi masyarakat diaspora. Aktivitas transfer uang lintas negara menurutnya sering kali memicu kerugian terselubung akibat selisih nilai tukar kurs dan biaya administrasi yang mahal jika tidak dicermati secara teliti.
Untuk mengatasi persoalan transaksi internasional tersebut, Feri memanfaatkan platform remitansi seperti aplikasi TabTabSend. Layanan ini menawarkan keunggulan berupa bebas biaya transfer (free transfer fee), nilai kurs yang sangat kompetitif, transparansi nominal penerimaan di Indonesia, serta fitur rate lock untuk mengunci nilai tukar terbaik saat bertransaksi.
Pada akhirnya, Feri menegaskan bahwa kunci sukses berinvestasi bukanlah berusaha menjadi peramal pasar terbaik, melainkan menjadi pengelola risiko terbaik. Dengan membangun sistem yang terukur, disiplin mengelola modal, dan siap menghadapi segala skenario pasar, investor dapat terhindar dari potensi kerugian besar sekaligus mengamankan keuntungan finansial secara optimal.
Editor : Natasha Eka SafrinaSumber : Ferry Irwandi