TULUNGAGUNG - Laju pergerakan ihsg hari ini berhasil melanjutkan tren penguatan hingga kembali menembus level psikologis 6.000 pada sesi perdagangan awal. Setelah kemarin ditutup melonjak 1,92 persen, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat 0,45 persen ke level 6.059 dengan nilai transaksi mencapai Rp6,9 triliun. Penguatan indeks ini dipicu oleh rilis lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings yang memutuskan untuk mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan prospek stabil.
Meskipun pergerakan ihsg hari ini menunjukkan sinyal positif, aksi jual bersih (net foreign sell) oleh investor asing tercatat masih terus berlanjut. Secara akumulatif sejak awal tahun (year to date), catatan nilai aksi jual bersih investor asing di pasar modal Indonesia telah menembus angka fantastis Rp90 triliun. Pengamat pasar modal menilai para pelaku pasar global saat ini masih cenderung mengambil sikap wait and see atau bersikap waspada akibat bayang-bayang ketidakpastian dan dinamika ekonomi global.
Keputusan S&P yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia dinilai sangat krusial dalam menopang pergerakan ihsg hari ini. Kepastian ini berhasil meredam narasi serta kekhawatiran para pelaku pasar mengenai potensi downgrade atas pasar modal Indonesia. Kondisi tersebut sekaligus membakar kembali gairah investor lokal untuk mengoleksi saham di berbagai sektor unggulan, sehingga mayoritas sektor di bursa mampu bertahan kuat di zona hijau.
Dorongan Sektor Unggulan dan Proyeksi Bullish IHSG
Berdasarkan pantauan pergerakan bursa, dari 11 sektor yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, hanya satu sektor yang mengalami pelemahan tipis, yakni sektor keuangan atau perbankan. Sementara itu, 10 sektor lainnya sukses bertahan kukuh di zona positif. Pengamat pasar modal Wahyu Laksono mengungkapkan bahwa keberhasilan IHSG menembus level psikologis 6.000 menjadi modal kuat bagi indeks untuk melanjutkan penguatan secara terbatas dalam jangka pendek.
Wahyu memproyeksikan pergerakan IHSG pada perdagangan hari ini akan mampu bertahan pada kisaran level psikologis 6.060 hingga menuju rentang resistance di level 6.120. Apabila pergerakan indeks berhasil menembus benteng resistance terkuat di level 6.170, maka IHSG berpotensi membuka ruang kenaikan lanjutan hingga menyentuh level 6.300 sampai 6.380. Potensi bullish ini memperlihatkan adanya optimisme pelaku pasar dalam negeri untuk mendorong penguatan indeks lebih jauh.
Baca Juga: Strategi Investasi Saham ala Feri Irwandi: Trik Cuan Miliaran Tanpa Saham Gorengan, Apa Rahasianya?
Shadow Ketegangan Geopolitik dan Kebijakan Suku Bunga The Fed
Kendati pasar saham dalam negeri bergerak optimis, para pelaku pasar tetap mencermati sejumlah sentimen penekan dari eksternal. Salah satu faktor utama yang membayangi pergerakan pasar adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai dimulainya kembali permusuhan dan agenda kongres terkait Iran memicu kekhawatiran baru yang membuat investor global menahan diri masuk ke emerging markets.
Selain geopolitik, sikap tegas Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) juga menjadi penekan utama. Pejabat The Fed Christopher Waller memberi isyarat bahwa opsi kenaikan suku bunga acuan masih terbuka lebar. Kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama (higher for longer) atau hawkish ini memicu kepanikan investor. Imbasnya, tiga indeks utama bursa Wall Street seperti Nasdaq dan Dow Jones kompak ditutup melemah, yang kemudian menjalar ke koreksi tipis bursa utama Asia.
Tekanan Nilai Tukar Rupiah dan Sikap Waspada Investor Asing
Di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpantau menguat tipis 0,02 persen ke posisi Rp18.095 per dolar AS. Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menyebutkan bahwa pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih berada di bawah tekanan cukup berat. Tingginya ekspektasi suku bunga The Fed yang hawkish serta gejolak geopolitik Timur Tengah menjadi pemicu utama yang menahan penguatan rupiah di atas level Rp18.000.
Baca Juga: Gubernur BI Mundur Mendadak Bikin Pasar Geger, Bagaimana Nasib IHSG dan Kurs Rupiah?
Meskipun emiten sektor keuangan dan nilai tukar rupiah mengalami tekanan, para analis menilai ketahanan IHSG di atas level 6.000 menjadi pertanda positif bagi keberlanjutan tren penguatan. Keberhasilan mempertahankan peringkat kredit BBB dari S&P setidaknya memberikan benteng pertahanan yang solid dari guncangan eksternal. Pelaku pasar kini menantikan apakah ketahanan sektor-sektor domestik mampu membawa IHSG menembus level resistance terkuatnya hingga akhir perdagangan.
Editor : Natasha Eka SafrinaSumber : Metro TV