JAKARTA – Gerhana Matahari Total 13 Agustus 2026 kembali menjadi perbincangan di media sosial setelah muncul informasi yang menyebut fenomena tersebut akan terjadi pada 12 Agustus 2026. Namun, astronom BRIN menegaskan bahwa informasi itu keliru. Gerhana berlangsung pada Kamis dini hari, 13 Agustus 2026, dan tidak dapat disaksikan dari Indonesia karena jalur totalitas berada di belahan bumi utara.
Fenomena astronomi ini terjadi ketika Bulan berada tepat di antara Matahari dan Bumi sehingga menutupi seluruh piringan Matahari. Di wilayah yang dilalui jalur totalitas, langit siang akan berubah gelap menyerupai malam selama beberapa menit dan suhu udara dapat mengalami penurunan.
Klarifikasi tersebut disampaikan Astronom dan Fisikawan BRIN, Thomas Jamaluddin, untuk meluruskan berbagai informasi yang beredar mengenai waktu maupun lokasi pengamatan gerhana.
Baca Juga: Ketua IGTK Kabupaten Tulungagung: Suasana Belajar yang Menyenangkan Jadi Kunci Anak Betah di Sekolah
BRIN Tegaskan Gerhana Terjadi 13 Agustus 2026
Thomas Jamaluddin menjelaskan bahwa Gerhana Matahari Total bukan terjadi pada 12 Agustus seperti yang ramai dibagikan di media sosial.
Menurutnya, fenomena tersebut berlangsung mulai Rabu malam hingga Kamis dini hari, yakni sekitar 23.58 WIB hingga 01.34 WIB pada 13 Agustus 2026.
Gerhana matahari total terjadi ketika Bulan menutupi seluruh piringan Matahari sehingga cahaya Matahari tertutup sempurna bagi wilayah yang berada di jalur totalitas.
Akibatnya, kondisi siang hari di wilayah tersebut berubah menjadi gelap layaknya malam dalam beberapa menit sebelum Matahari kembali terlihat.
"Gerhana Matahari Total bukan terjadi pada 12 Agustus, melainkan Kamis dini hari 13 Agustus 2026," jelas Thomas Jamaluddin dalam penjelasannya.
Indonesia Tidak Masuk Jalur Totalitas
Meski fenomena ini menjadi perhatian dunia, masyarakat Indonesia dipastikan tidak dapat menyaksikan Gerhana Matahari Total Agustus 2026.
Hal itu karena Indonesia berada di luar jalur totalitas gerhana.
Lintasan gerhana total meliputi kawasan Kutub Utara, Greenland hingga Spanyol.
Sementara itu, gerhana matahari sebagian masih dapat diamati di sejumlah wilayah lain, termasuk sebagian Eropa, Afrika Barat Laut, Amerika Utara bagian utara, Samudra Atlantik, Samudra Arktik, dan sebagian Asia Utara.
Beberapa negara yang berpeluang menyaksikan fenomena tersebut antara lain Britania Raya, Prancis, Jerman, Italia, Norwegia, Swedia, Finlandia, Kanada, Amerika Serikat bagian utara, dan Maroko.
Karena tidak berada di lintasan gerhana, langit Indonesia tidak akan mengalami perubahan menjadi gelap akibat fenomena tersebut.
Gerhana Matahari Total Bukan Fenomena Langka
Thomas Jamaluddin juga meluruskan anggapan bahwa Gerhana Matahari Total merupakan fenomena yang sangat langka.
Menurutnya, gerhana matahari total sebenarnya terjadi secara berkala di berbagai wilayah Bumi.
Yang tergolong tidak biasa pada peristiwa tahun 2026 adalah jalur totalitasnya yang melintasi kawasan Kutub Utara, sehingga hanya wilayah tertentu yang dapat menikmati pemandangan langit gelap di siang hari.
Fenomena ini tetap menjadi salah satu peristiwa astronomi yang menarik untuk diamati karena memberikan kesempatan bagi ilmuwan maupun masyarakat di jalur lintasan untuk menyaksikan proses tertutupnya Matahari secara sempurna.
Meski masyarakat Indonesia tidak dapat melihatnya secara langsung, informasi mengenai jadwal dan lintasan gerhana tetap penting dipahami agar tidak terjadi kesalahpahaman mengenai waktu maupun wilayah pengamatannya.
Dengan demikian, Gerhana Matahari Total akan berlangsung pada 13 Agustus 2026, bukan 12 Agustus, dan hanya dapat diamati dari wilayah yang berada di jalur totalitas di belahan bumi utara sesuai penjelasan BRIN.
Source YouTube Kompas
Editor : Valentyo Samuel Putra Widodo