Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 Jadi Fenomena Astronomi Langka, Bisakah Disaksikan dari Indonesia?

Brilian Syifa Almasih • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 17:05 WIB
Fenomena Gerhana Matahari Total akan kembali menghiasi langit dunia pada 12 Agustus 2026. Meski Indonesia tidak berada di jalur totalitas, peristiwa astronomi ini tetap menjadi sorotan karena akan melintasi Greenland, Islandia, hingga Spanyol dan disaksikan jutaan pengamat langit dari berbagai negara. Jangan lupa, pengamatan gerhana harus menggunakan kacamata khusus demi melindungi mata dari paparan sinar Matahari.
Fenomena Gerhana Matahari Total akan kembali menghiasi langit dunia pada 12 Agustus 2026. Meski Indonesia tidak berada di jalur totalitas, peristiwa astronomi ini tetap menjadi sorotan karena akan melintasi Greenland, Islandia, hingga Spanyol dan disaksikan jutaan pengamat langit dari berbagai negara. Jangan lupa, pengamatan gerhana harus menggunakan kacamata khusus demi melindungi mata dari paparan sinar Matahari.

JAKARTA Gerhana Matahari Total 2026 dipastikan menjadi salah satu fenomena astronomi paling dinantikan tahun depan. Peristiwa yang berlangsung pada **12 Agustus 2026** itu akan melintasi sejumlah wilayah di belahan bumi utara, termasuk Greenland, Islandia, hingga Spanyol, dan diperkirakan menarik jutaan pengamat langit dari berbagai negara.  

Sayangnya, Indonesia tidak termasuk wilayah yang dapat menyaksikan fase total gerhana tersebut. Masyarakat Tanah Air hanya bisa mengikuti peristiwa ini melalui siaran langsung yang disediakan lembaga antariksa internasional, termasuk NASA.

Gerhana Matahari Total terjadi ketika Bulan berada tepat di antara Matahari dan Bumi sehingga seluruh piringan Matahari tertutup dari pandangan pengamat di jalur totalitas.

Baca Juga: 3 Resep Es Kopi Modal di Bawah Rp 10.000, Begini Cara Membuat Es Kopi Susu, Es Kopi Cokelat, hingga Kopteh Viral ala Kafe

Fenomena pada 12 Agustus 2026 akan dimulai dari kawasan dekat Kutub Utara. Jalurnya kemudian bergerak melintasi Greenland, Islandia, Semenanjung Iberia, hingga berakhir di kawasan Laut Mediterania.

Peristiwa ini menjadi istimewa karena Spanyol kembali dilintasi gerhana matahari total setelah lebih dari satu abad. Kondisi tersebut diperkirakan memicu lonjakan wisata astronomi di negara tersebut.

Meski menjadi perhatian dunia, masyarakat Indonesia dipastikan tidak dapat menyaksikan Gerhana Matahari Total secara langsung.

Baca Juga: Honor 2.500 PPPK Paruh Waktu di Tulungagung Naik Jadi Rp 750 Ribu Per Bulan Mulai September 2026

Lintasan totalitas sama sekali tidak melewati wilayah Indonesia. Karena itu, langit di Indonesia tidak akan berubah gelap seperti yang terjadi di kawasan yang berada tepat di bawah bayangan Bulan.

Bagi masyarakat Indonesia yang ingin mengikuti fenomena tersebut, siaran langsung dari NASA maupun berbagai observatorium internasional menjadi alternatif untuk menyaksikan jalannya gerhana.

Durasi fase totalitas berbeda di setiap wilayah yang dilalui gerhana.

Baca Juga: Jalur Kediri Tulungagung Lebar dan Ramai, Jembatan Ngujang Jadi Titik Perhatian

Wilayah lepas pantai barat Islandia diperkirakan menjadi lokasi dengan fase totalitas terlama, yakni mencapai sekitar 2 menit 18 detik.

Sementara itu, di Spanyol fase total berlangsung sekitar satu menit karena berada di bagian akhir lintasan bayangan Bulan.

Selain wilayah totalitas, jutaan penduduk di berbagai negara juga masih dapat menyaksikan gerhana matahari sebagian.

Baca Juga: JPL 29 Tulungagung Jadi Spot Berburu Kereta, Gajayana hingga Matarmaja Melintas

Fenomena tersebut diperkirakan terlihat di Kanada, Amerika Serikat bagian utara, sebagian besar Eropa, Afrika Barat, hingga Siberia dengan tingkat penutupan Matahari yang berbeda-beda.

Di Dublin, penutupan Matahari diperkirakan mencapai 94 persen. Oslo sekitar 83 persen, Montreal 18 persen, New York 9 persen, sedangkan Norfolk di Amerika Serikat sekitar 2 persen.

Para ahli mengingatkan masyarakat agar tidak melihat Matahari secara langsung tanpa pelindung yang sesuai.

Baca Juga: Pendapatan Pajak Daerah Tulungagung Tembus Rp 171,46 Miliar hingga Juli 2026, Parkir Berlangganan Jadi Penyumbang Utama

Meski hanya terjadi gerhana sebagian, paparan sinar Matahari tetap berisiko menyebabkan kerusakan permanen pada retina mata.

Karena itu, pengamatan hanya disarankan menggunakan kacamata gerhana bersertifikasi atau teleskop maupun binokular yang telah dipasang filter Matahari khusus.

Tanggal 12 Agustus 2026 tidak hanya menghadirkan Gerhana Matahari Total.

Baca Juga: Cara Membuat Pisang Goreng Renyah dan Gurih, Resep Sederhana dengan Hasil Crispy Tahan Lama

Sebelum Matahari terbit, enam planet di Tata Surya diperkirakan tampak membentuk lengkungan di langit sehingga menciptakan panorama langka bagi para pengamat.

Memasuki malam hari, hujan meteor Perseid diprediksi mencapai puncaknya.

Kondisi bulan baru pada hari yang sama membuat langit menjadi lebih gelap sehingga meteor dapat terlihat lebih jelas dibandingkan malam-malam biasa.

Baca Juga: Cara Membuat Pisang Goreng Renyah dan Gurih, Resep Sederhana dengan Hasil Crispy Tahan Lama

Kombinasi Gerhana Matahari Total, parade enam planet, dan puncak hujan meteor Perseid menjadikan 12 Agustus 2026 sebagai salah satu hari paling spektakuler dalam kalender astronomi dunia.

Bagi masyarakat Indonesia, meski tidak dapat menyaksikan gerhana secara langsung, fenomena ini tetap dapat diikuti melalui siaran daring dan menjadi momentum untuk meningkatkan minat terhadap ilmu astronomi serta berbagai peristiwa langit yang terjadi di seluruh dunia.

Editor : Brilian Syifa Almasih
gerhana matahari total 2026 Hujan Meteor Perseid Gerhana Matahari 12 Agustus 2026 fenomena astronomi nasa