JAKARTA – Dua Gerhana Matahari Total yang akan terjadi pada 2026 dan 2027 menjadi perhatian para astronom serta pemburu gerhana dari berbagai negara. Meski sama-sama menghadirkan fenomena langit yang berubah gelap pada siang hari, kedua peristiwa tersebut menawarkan pengalaman yang berbeda, mulai dari jalur lintasan, durasi totalitas, hingga tantangan cuaca.
Dilansir dari Space, dalam rentang 2026 hingga 2028 akan terjadi tiga gerhana matahari total. Namun, gerhana pada Agustus 2026 dan Agustus 2027 menjadi yang paling banyak dibahas karena memiliki karakteristik unik dan diperkirakan memicu lonjakan wisata astronomi dunia.
Gerhana Matahari Total pertama akan berlangsung pada 12 Agustus 2026. Peristiwa ini menjadi istimewa karena merupakan gerhana total pertama yang melintasi daratan Eropa sejak 1999.
Jalur totalitas dimulai dari kawasan Siberia, melintasi Greenland bagian timur, Islandia barat, hingga berakhir di Spanyol dan Laut Mediterania.
Keunggulan utama gerhana ini adalah akses menuju lokasi pengamatan yang relatif mudah, terutama bagi masyarakat Eropa. Sejumlah kota besar di Spanyol seperti Bilbao, Zaragoza, León, Burgos, dan Valladolid berada di jalur totalitas sehingga diperkirakan dipadati wisatawan dan pemburu gerhana.
Tak hanya itu, panorama yang ditawarkan juga menjadi daya tarik tersendiri.
Baca Juga: Kerupuk Rambak Pemalang Dibuat 3 Tahap Jemur, Rahasia Kriuknya Ada di Sini
Di Islandia, gerhana diprediksi muncul dengan latar gletser dan gunung berapi yang ikonik. Sementara di Spanyol, fase totalitas berlangsung ketika Matahari mulai rendah di ufuk menjelang terbenam sehingga menghadirkan suasana yang lebih dramatis.
Meski memiliki banyak keunggulan, Gerhana Matahari Total 2026 juga memiliki sejumlah tantangan.
Durasi totalitasnya relatif singkat, yakni sekitar dua menit. Selain itu, kondisi cuaca di Islandia maupun Spanyol bagian utara berpotensi mengganggu pengamatan karena tingginya peluang awan.
Risiko kabut asap akibat kebakaran hutan di Spanyol juga menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan para pemburu gerhana sebelum menentukan lokasi pengamatan.
Karena itu, pemantauan prakiraan cuaca menjadi bagian penting dalam merencanakan perjalanan menyaksikan fenomena tersebut.
Berbeda dengan tahun sebelumnya, Gerhana Matahari Total yang terjadi pada 2 Agustus 2027 justru terkenal karena memiliki durasi totalitas yang sangat panjang.
Baca Juga: Honor 2.500 PPPK Paruh Waktu di Tulungagung Naik Jadi Rp 750 Ribu Per Bulan Mulai September 2026
Di kawasan Luxor, Mesir, Bulan diperkirakan akan menutupi Matahari selama 6 menit 22 detik.
Durasi tersebut menjadi yang terlama sejak 1991 dan diperkirakan tidak akan terulang lagi hingga tahun 2114.
Bagi para astronom maupun fotografer langit, waktu pengamatan yang lebih panjang memberikan kesempatan lebih besar untuk menikmati korona Matahari serta perubahan warna langit selama fase totalitas berlangsung.
Selain durasinya yang panjang, Gerhana Matahari Total 2027 juga diunggulkan karena peluang cuaca cerah lebih tinggi.
Wilayah Mesir dan Tunisia dikenal memiliki kondisi atmosfer yang relatif stabil dibandingkan sebagian kawasan Eropa.
Hal itu membuat peluang menyaksikan gerhana secara utuh menjadi lebih besar.
Tak hanya menyuguhkan fenomena langit, lokasi pengamatan di Mesir juga menawarkan nilai sejarah. Banyak wisatawan diperkirakan memilih menyaksikan gerhana dari kawasan Lembah Para Raja maupun kompleks Kuil Karnak yang menjadi ikon peradaban Mesir Kuno.
Meski Gerhana Matahari Total 2027 sering disebut sebagai "gerhana abad ini", bukan berarti semua orang harus memilihnya.
Astronom sekaligus seniman gerhana asal New York, Tyler Nordgren, menilai durasi bukan satu-satunya faktor penentu pengalaman terbaik saat menyaksikan gerhana.
Menurutnya, lokasi yang memang ingin dikunjungi tetap menjadi pertimbangan utama.
Gerhana 2026 cocok bagi mereka yang menginginkan akses perjalanan lebih mudah serta panorama Matahari terbenam yang dramatis.
Sementara Gerhana Matahari Total 2027 menjadi pilihan ideal bagi pemburu gerhana yang ingin menikmati fase totalitas terlama dengan peluang cuaca cerah yang lebih tinggi, meski harus menghadapi suhu ekstrem hingga 41 derajat Celsius dan biaya perjalanan yang lebih besar.
Apapun pilihannya, kedua fenomena tersebut dipastikan menjadi momen penting dalam dunia astronomi sekaligus berpotensi mendorong berkembangnya wisata berbasis sains di berbagai negara yang dilintasi jalur gerhana.
Editor : Brilian Syifa Almasih