Kekeringan Ekstrem 2026 Mengancam, Warga Rela Ambil Air Kubangan hingga Jual Ternak

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 20:20 WIB
Kekeringan ekstrem 2026 membuat warga kesulitan air bersih. Ada yang mengambil air kubangan hingga menjual ternak demi memenuhi kebutuhan keluarga.(pinterest)
Kekeringan ekstrem 2026 membuat warga kesulitan air bersih. Ada yang mengambil air kubangan hingga menjual ternak demi memenuhi kebutuhan keluarga.(pinterest)

JAKARTA - Kekeringan ekstrem 2026 mulai memberikan dampak serius bagi masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia. Sumber air mengering, sumur warga tidak lagi menghasilkan air, sementara kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi setiap hari.

Kekeringan ekstrem 2026 membuat warga di Grobogan, Jawa Tengah, harus mencari sumber air yang tersisa di tengah sungai yang mulai mengering. Air dari kubangan yang keruh dan berbau pun terpaksa dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga.

Kondisi serupa terjadi di Bantul dan Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Warga harus mengantre berjam-jam, menggunakan selang ratusan meter, hingga membeli air dari tangki swasta untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dua Bulan Kehilangan Sumber Air

Di Desa Ketro, Grobogan, warga disebut telah mengalami kesulitan air bersih selama sekitar dua bulan. Hartini bersama warga lainnya mencari air dengan mengeruk bagian sungai yang sudah hampir kering.

Baca Juga: Harga Bawang Merah Nganjuk Hari Ini: Panen Sudah 50 Persen, Segini Harganya

Dari cekungan tersebut, masih terdapat sedikit air yang kemudian ditampung menggunakan ember dan jerigen. Kondisinya tidak ideal karena air terlihat keruh dan mengeluarkan bau.

Namun, keterbatasan sumber air membuat warga tidak mempunyai banyak pilihan. Air tersebut digunakan untuk memasak, mandi, mencuci, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.

Untuk mendapatkan air, warga harus menunggu antrean sekitar satu hingga dua jam. Setelah mendapatkan pasokan, mereka harus berjalan sekitar dua kilometer dan bolak-balik beberapa kali untuk membawa air pulang.

Persediaan tersebut bahkan hanya mencukupi kebutuhan selama satu hari. Keesokan harinya, warga kembali melakukan perjuangan yang sama.

Selang 400 Meter Jadi Solusi Warga Bantul

Krisis air juga dialami warga Kalidadap, Bantul. Selama sekitar satu bulan, debit Sendang Wonosari sebagai salah satu sumber air warga terus berkurang.

Baca Juga: Harga Bawang Merah Probolinggo Hari Ini Turun, Segini Harga Terbarunya 15 Agustus 2026

Warga kemudian memasang selang dengan panjang mencapai sekitar 400 meter dari sumber air menuju rumah. Sistem tersebut dilakukan tanpa mesin pompa.

Warga harus mengatur waktu pengambilan air agar seluruh masyarakat mendapatkan bagian. Pengambilan dilakukan pada pagi, siang, sore, dan malam.

Keterbatasan sumber air membuat warga berharap adanya bantuan sumur bor. Infrastruktur tersebut dinilai dapat menjadi alternatif ketika sumber air permukaan tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Air Tangki Dibayar dengan Menjual Ternak

Di Dusun Kemesu, Gunung Kidul, persoalan air bersih juga berdampak terhadap kondisi ekonomi warga. Sumur dan telaga mengering sehingga pasokan air menjadi semakin terbatas.

Pasokan PDAM disebut hanya mengalir sekitar satu kali dalam sepekan. Jumlah tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga selama beberapa hari.

Warga akhirnya membeli air dari truk tangki swasta. Biaya yang harus dikeluarkan menjadi beban tambahan, terutama bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari sektor pertanian.

Seorang warga bahkan harus menjual kambing dan ayam untuk mendapatkan uang pembelian air. Pilihan tersebut terpaksa dilakukan karena kebutuhan air tidak dapat ditunda.

El Nino dan Ancaman Kebakaran

Kondisi kekeringan terjadi di tengah pengaruh fenomena El Nino. Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam video, BMKG memperkirakan musim kemarau 2026 berlangsung lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal di sejumlah wilayah.

Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 di sekitar 48,84 persen luas daratan Indonesia. Sementara sekitar 25,41 persen wilayah lainnya diperkirakan mengalami puncak kemarau pada September.

Kondisi tersebut juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran dilaporkan terjadi di kawasan konservasi Bromo, Jawa Timur, serta kawasan Surya Kencana Gunung Gede Pangrango di Cianjur, Jawa Barat.

Medan yang terjal menjadi salah satu tantangan dalam proses pemadaman. Sejumlah akses wisata dan jalur pendakian juga ditutup sementara demi keselamatan masyarakat.

Kekeringan ekstrem 2026 tidak hanya menyebabkan krisis air bersih. Dampaknya mulai merembet ke kehidupan ekonomi warga dan meningkatkan ancaman kebakaran hutan. Bantuan air bersih serta langkah mitigasi diperlukan agar masyarakat dapat menghadapi musim kemarau dengan lebih aman.

Editor : Maylanni Diana Fitri
kekeringan ekstrem 2026 musim kemarau el nino kebakaran hutan krisis air bersih