17 Provinsi Masuk Status Awas Kekeringan 11-20 Agustus 2026, El Nino Masih Bertahan

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 20:25 WIB
Kekeringan 2026 mengancam sejumlah wilayah Indonesia. BMKG menetapkan 17 provinsi berstatus awas pada 11-20 Agustus akibat El Nino.(pinterest)
Kekeringan 2026 mengancam sejumlah wilayah Indonesia. BMKG menetapkan 17 provinsi berstatus awas pada 11-20 Agustus akibat El Nino.(pinterest)

JAKARTA - Kekeringan 2026 menjadi perhatian setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini untuk periode 11-20 Agustus 2026. Sebanyak 17 provinsi masuk kategori status awas kekeringan.

Ancaman kekeringan 2026 terjadi ketika fenomena El Nino masih bertahan. BMKG memperkirakan kondisi tersebut berlangsung hingga setidaknya awal kuartal pertama 2027.

Selain El Nino, potensi kekeringan juga dapat meningkat apabila Indian Ocean Dipole (IOD) positif aktif pada September hingga Desember 2026. Kombinasi kondisi tersebut berpotensi membuat sejumlah wilayah mengalami musim kemarau lebih kering dan panjang.

17 Provinsi Masuk Status Awas

Dalam peringatan dini untuk 11-20 Agustus 2026, BMKG membagi tingkat kekeringan meteorologis menjadi tiga kategori, yakni waspada, siaga, dan awas.

Baca Juga: Harga Bawang Merah Nganjuk Hari Ini: Panen Sudah 50 Persen, Segini Harganya

Wilayah yang masuk kategori waspada antara lain Bali, Bengkulu, Jawa Barat, dan Kalimantan Barat. Sementara kategori siaga mencakup Bali, Banten, dan DKI Jakarta.

Adapun 17 provinsi ditetapkan dalam status awas. Namun, daftar lengkap provinsi tersebut tidak disebutkan dalam materi video yang menjadi sumber berita ini.

Status awas menunjukkan wilayah yang perlu mendapat perhatian lebih serius karena kondisi kering berpotensi memberikan dampak terhadap ketersediaan air dan aktivitas masyarakat.

Lebih dari Separuh Daratan Masuk Kemarau

BMKG mencatat terdapat 509 zona musim (ZOM) di Indonesia. Hingga pertengahan Juli 2026, sekitar 54,5 persen luas daratan Indonesia telah memasuki musim kemarau.

Baca Juga: Harga Bawang Merah Probolinggo Hari Ini Turun, Segini Harga Terbarunya 15 Agustus 2026

Sebanyak 77 ZOM atau sekitar 11,8 persen masih mengalami musim hujan. Sementara itu, 113 ZOM atau sekitar 33,7 persen berada di wilayah dengan pola satu musim.

Puncak musim kemarau 2026 diperkirakan terjadi pada Agustus. Periode tersebut mencakup sekitar 48,84 persen luas daratan Indonesia.

Selanjutnya, puncak kemarau pada September diperkirakan mencakup sekitar 25,41 persen wilayah daratan. Kondisi ini membuat masyarakat di sejumlah daerah perlu mengantisipasi berkurangnya sumber air.

El Nino Masih dalam Kategori Kuat

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Arda Sena Sopa Heluakan menyampaikan hasil pemantauan pada akhir Juni 2026 menunjukkan indeks bulanan Nino 3.4 mencapai 1,56.

Angka tersebut berada di atas ambang kategori kuat yang ditetapkan pada 1,5. Kondisi itu menunjukkan El Nino masih memberikan pengaruh terhadap pola cuaca dan musim di Indonesia.

BMKG juga memantau kondisi suhu permukaan laut di Samudra Hindia. Angkanya tercatat -0,387 dan disebut menunjukkan peluang munculnya fenomena IOD positif pada periode berikutnya.

Jika IOD positif berkembang bersamaan dengan El Nino, kondisi kering di sejumlah wilayah berpotensi semakin meningkat.

Kemarau Diprediksi Lebih Panjang

Selain lebih kering, musim kemarau 2026 juga diperkirakan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal. BMKG memperkirakan 437 ZOM atau sekitar 48,77 persen luas daratan Indonesia mengalami durasi kemarau lebih panjang.

Curah hujan kategori tinggi baru diperkirakan mulai muncul secara bertahap pada Oktober hingga November 2026.

Kondisi kering juga meningkatkan potensi munculnya titik panas atau hotspot. Risiko tersebut terutama berada di wilayah dengan vegetasi yang mudah terbakar.

Warga Diminta Waspadai Karhutla

Kekeringan meteorologis dapat berdampak langsung terhadap ketersediaan air. Penurunan pasokan air bersih berpotensi menyulitkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sektor pertanian juga menjadi salah satu bidang yang rentan terdampak. Keterbatasan air dapat menghambat pengairan lahan dan memengaruhi pertumbuhan tanaman, terutama di wilayah yang masih bergantung pada curah hujan.

BMKG juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan. Aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran sebaiknya dihindari, terutama ketika kondisi lingkungan sangat kering.

Dengan El Nino yang diperkirakan masih bertahan hingga 2027, antisipasi terhadap kekeringan 2026 menjadi penting. Masyarakat dan pemerintah daerah perlu mempersiapkan pengelolaan air serta langkah pencegahan kebakaran sejak dini.

Editor : Maylanni Diana Fitri
kekeringan 2026 El Nino 2026 17 provinsi bmkg musim kemarau 2026