Gempa Manggarai Timur, 459 Warga Mengungsi di Kuburan karena Belum Dapat Bantuan

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 20:15 WIB
Gempa Manggarai Timur membuat 459 warga mengungsi di area kuburan. Korban disebut belum mendapat bantuan pemerintah dan mulai dijangkau relawan.(SC Youtube)
Gempa Manggarai Timur membuat 459 warga mengungsi di area kuburan. Korban disebut belum mendapat bantuan pemerintah dan mulai dijangkau relawan.(SC Youtube)

MANGGARAI TIMUR - Gempa Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), membuat ratusan warga Desa Nangalabang, Kecamatan Borong, terpaksa mengungsi ke area kuburan. Sebanyak 459 jiwa dilaporkan mengungsi karena khawatir terjadi gempa susulan. Mereka disebut belum mendapat bantuan pemerintah hingga Rabu pagi.

Kondisi para pengungsi di Desa Nangalabang cukup memprihatinkan. Mereka tidur di area pemakaman tanpa perlindungan memadai dan penerangan. Sebagian warga lainnya memilih tidur beralaskan terpal di halaman rumah tanpa atap.

Di antara warga yang mengungsi terdapat bayi berusia tiga bulan dan puluhan lanjut usia. Sebagian lansia disebut sudah dalam kondisi sakit-sakitan. Mereka tetap bertahan di lokasi pengungsian karena merasa area tersebut lebih aman jika gempa susulan kembali terjadi.

Dampak gempa di Desa Nangalabang juga tergolong parah. Berdasarkan data warga, enam rumah mengalami hancur total. Sementara 18 rumah lainnya rusak berat sehingga tidak dapat ditempati lagi.

Kondisi tersebut membuat warga membutuhkan tempat berlindung dan kebutuhan dasar. Namun hingga laporan tersebut dibuat, para korban di desa itu disebut belum mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Sejumlah relawan kemanusiaan mulai menjangkau warga yang mengungsi. Bantuan yang diberikan antara lain satu karung beras tambahan, mi instan, ayam beku, serta terpal untuk sekitar 150 warga yang mengungsi di lokasi tersebut.

Bantuan tersebut menjadi salah satu dukungan yang diterima warga di tengah kondisi pengungsian yang masih jauh dari memadai. Para korban masih bertahan di tempat terbuka dan area pemakaman karena belum memiliki tempat pengungsian yang layak.

Ratusan Warga Tidur di Tenda Darurat

Kondisi serupa juga terlihat di lokasi pengungsian Lapangan SD Negeri Robok, Kecamatan Wiri, Kabupaten Manggarai. Lebih dari 700 orang dilaporkan mengungsi di tempat tersebut.

Baca Juga: Mobil Bekas Murah di Garasi MBG, Ada CX-5 hingga Alphard Mulai Rp67 Juta

Para pengungsi terpaksa tidur di tenda darurat seadanya. Di antara mereka juga terdapat bayi dan warga lanjut usia. Mereka meninggalkan tempat tinggal karena khawatir gempa susulan kembali terjadi.

Selain ancaman gempa susulan, warga di lokasi tersebut juga mengkhawatirkan dampak guncangan terhadap Gunung Ranaka yang disebut sebagai gunung api aktif.

Berbeda dengan pengungsi di Desa Nangalabang, warga yang berada di lokasi pengungsian Lapangan SD Negeri Robok telah mendapatkan bantuan. Mereka juga mendapat kunjungan Menteri Keuangan Purbaya pada Rabu siang.

Sementara itu, sebagian pengungsi di Kota Borong, Kabupaten Manggarai Timur, masih disebut belum tersentuh bantuan. Dalam kondisi tersebut, warga melakukan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Sebagian pengungsi bahkan mengumpulkan besi dari puing-puing bangunan akibat gempa. Besi yang ditemukan dan dikumpulkan kemudian dijual. Hasil penjualannya diserahkan kepada dapur umum untuk membeli kebutuhan makanan.

Aktivitas tersebut dilakukan secara beramai-ramai. Warga mengumpulkan puing besi yang dibuang untuk mendapatkan penghasilan yang kemudian digunakan membantu memenuhi kebutuhan konsumsi para pengungsi.

Gambaran kondisi di sejumlah lokasi pengungsian menunjukkan situasi yang berbeda. Di Desa Nangalabang, ratusan warga masih bertahan di area kuburan dan halaman rumah dengan perlindungan terbatas. Mereka juga disebut belum memperoleh bantuan pemerintah dan baru mulai dijangkau relawan kemanusiaan.

Sementara di Lapangan SD Negeri Robok, lebih dari 700 pengungsi telah mendapatkan bantuan dan kunjungan pejabat pemerintah. Mereka tetap tinggal di tenda darurat karena khawatir terhadap gempa susulan dan kemungkinan dampak guncangan terhadap Gunung Ranaka.

Di sisi lain, pengungsi di Kota Borong masih berupaya memenuhi kebutuhan makanan dengan mengumpulkan besi dari puing-puing gempa untuk dijual. Hasilnya kemudian digunakan untuk membantu dapur umum.

Kondisi tersebut memperlihatkan kebutuhan mendesak para korban gempa di sejumlah wilayah Manggarai Timur. Sebagian warga masih tidur tanpa perlindungan memadai, sementara kebutuhan makanan dan tempat berlindung terus diperlukan selama mereka memilih bertahan di pengungsian.

Editor : Maylanni Diana Fitri
Gempa Manggarai Timur Pengungsi Gempa Borong nusa tenggara timur bencana alam