JAKARTA - Soal TIU CPNS 2026 tidak hanya menguji kemampuan peserta melakukan perhitungan. Dalam materi perbandingan kuantitatif, peserta juga dituntut mampu membaca hubungan antara dua variabel agar bisa menentukan jawaban dengan lebih cepat.
Materi tersebut dibahas Om Alman dari channel Sang Tutor dalam pembahasan persiapan CPNS dan sekolah kedinasan 2026/2027. Salah satu materi yang ditekankan adalah perbandingan dua variabel yang memungkinkan peserta menemukan jawaban tanpa harus melakukan perhitungan panjang.
Menurut pembahasan tersebut, materi perbandingan kuantitatif dapat muncul sekitar tiga sampai empat soal. Jika terdapat empat soal dengan bobot yang sama, penguasaan materi ini berpotensi membantu peserta memperoleh hingga 20 poin.
Konsep utama yang perlu dipahami adalah hubungan antara nilai pada variabel A dan B. Peserta perlu melihat apakah kedua nilai memiliki hubungan langsung, berbanding terbalik, atau mempunyai pola tertentu.
Contohnya terlihat pada soal mengenai sebuah mesin yang mampu mencetak 1.260 brosur dalam waktu 45 menit. Peserta diminta menentukan jumlah brosur yang dapat dicetak dalam 12 menit dan kemudian membandingkannya dengan nilai B sebesar 168.
Karena waktu pengerjaan lebih sedikit, jumlah brosur yang dihasilkan juga semakin sedikit. Hubungan tersebut merupakan perbandingan senilai.
Dengan menghitung 1.260 dibagi 45, diperoleh kemampuan mesin mencetak 28 brosur per menit. Dalam 12 menit, jumlah brosur yang dihasilkan adalah 336. Artinya, nilai A sebesar 336, sedangkan B sebesar 168.
Dari sini peserta sebenarnya tidak membutuhkan proses panjang untuk mengetahui hubungan keduanya. Nilai A merupakan dua kali nilai B.
Perbandingan Tidak Selalu Harus Dihitung Panjang
Contoh berikutnya menggunakan bentuk aljabar. Diketahui X = 8a + b dan Y = 4a - 2b, dengan a = 3/4 serta b = -1/2.
Baca Juga: Kades Kedungwaru Jadi Tersangka Korupsi Dana Desa, Ditahan Polres Tulungagung
Setelah nilai a dan b dimasukkan, X menghasilkan nilai 2. Sementara itu, Y menghasilkan nilai 4. Dengan demikian, Y bernilai dua kali X.
Pola seperti ini menunjukkan pentingnya ketelitian ketika memasukkan angka ke dalam bentuk aljabar. Kesalahan tanda negatif dapat membuat hasil akhir berubah.
Pada soal ketiga, peserta diminta membandingkan hasil yang berasal dari nilai rata-rata. Variabel B merupakan rata-rata dari 60, 66, 58, dan 64. Jumlah seluruh nilai tersebut adalah 248 sehingga rata-ratanya 62.
Sementara itu, variabel A merupakan nilai ujian kelima agar rata-rata dari lima nilai, yakni 76, 88, 91, 79, dan A, menjadi 84.
Total nilai yang diperlukan untuk mendapatkan rata-rata 84 adalah 420. Empat nilai yang sudah diketahui berjumlah 334. Maka nilai A yang dibutuhkan adalah 86.
Perbandingan kemudian dilakukan antara 2A dan 3B. Nilai 2A adalah 172, sedangkan 3B adalah 186. Hasilnya menunjukkan bahwa 2A lebih kecil daripada 3B.
Dari tiga contoh tersebut, peserta dapat melihat bahwa kunci soal perbandingan kuantitatif bukan sekadar kemampuan menghitung. Peserta juga perlu memahami hubungan antarnilai dan mencari pola yang dapat mempercepat proses pengerjaan.
Strategi tersebut menjadi penting karena waktu dalam ujian terbatas. Ketika hubungan antara dua variabel sudah terlihat, peserta dapat langsung menentukan perbandingan tanpa menghabiskan waktu untuk langkah perhitungan yang sebenarnya tidak diperlukan.
Materi TIU perbandingan kuantitatif pada akhirnya menguji dua kemampuan sekaligus, yakni ketepatan berhitung dan kemampuan membaca hubungan matematis. Memahami perbandingan senilai, pola kelipatan, serta cara menentukan nilai dari sebuah rata-rata dapat membantu peserta menghadapi variasi soal yang diberikan.
Editor : Maylanni Diana Fitri