JAKARTA - Perubahan kebijakan membuat persiapan mengikuti LPDP 2026 tidak bisa dilakukan dengan pola lama.
Calon pendaftar perlu memahami bidang studi yang menjadi prioritas sebelum menentukan strategi, termasuk memilih program beasiswa dan perguruan tinggi tujuan.
Salah satu perubahan penting LPDP 2026 adalah pengelompokan program menjadi STEM Industri Strategis dan SHARE.
LPDP menetapkan proporsi minimal 80 persen untuk STEM dan Industri Strategis, sedangkan bidang SHARE memperoleh alokasi maksimal 20 persen.
Artinya, pemilihan jurusan menjadi semakin penting. Pendaftar harus memahami apakah program studi yang dituju masuk dalam kelompok prioritas atau berada dalam bidang SHARE sebelum menyusun seluruh dokumen pendaftaran.
Baca Juga: Gaji Pensiunan PNS Oktober 2026: Enrollment Jadi Kunci Autentikasi Digital
Jangan Mulai dari Jalur Beasiswa
Materi dalam transkrip menjelaskan bahwa pola berpikir calon pendaftar perlu diubah. Jika sebelumnya banyak orang langsung memikirkan apakah akan mengambil jalur reguler, afirmasi, ASN, atau kategori lainnya, skema 2026 membuat bidang studi dan program menjadi bagian yang harus diperhatikan sejak awal.
Pendekatan ini penting karena LPDP memang sedang mengarahkan pengembangan sumber daya manusia pada bidang yang dianggap strategis bagi Indonesia. Program STEM Industri Strategis mencakup bidang pangan, energi, pertahanan, digitalisasi, AI dan semikonduktor, kesehatan, hilirisasi, maritim, manufaktur, hingga material maju.
Sementara itu, kelompok SHARE mencakup ilmu sosial, humaniora, seni untuk masyarakat, studi keagamaan, dan ekonomi. LPDP tetap menyediakan ruang untuk bidang non-STEM tersebut, tetapi proporsinya dibatasi maksimal 20 persen.
Karena itu, strategi pendaftar sebaiknya dimulai dari kecocokan antara latar belakang, program studi, tujuan pendidikan, dan kontribusi yang ingin dilakukan setelah lulus.
Kampus Tujuan Juga Mengalami Perubahan
Selain program studi, daftar perguruan tinggi tujuan menjadi bagian yang tidak boleh dilewatkan. LPDP menyediakan daftar perguruan tinggi dalam negeri dan luar negeri yang dapat menjadi pilihan pendaftar.
Khusus Universitas Unggulan, kebijakan Tahap 2 2026 menunjukkan adanya perluasan pilihan. LPDP menyebut jumlah Universitas Unggulan bertambah dari 17 menjadi 31 perguruan tinggi. Tambahan tersebut mencakup 14 universitas yang berfokus pada bidang STEM.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa calon penerima beasiswa tidak seharusnya hanya terpaku pada sejumlah kampus yang selama ini sudah populer di kalangan pendaftar Indonesia.
Pendaftar juga perlu memeriksa ketentuan Letter of Acceptance atau LoA. LPDP menjelaskan bahwa LoA yang digunakan harus memenuhi ketentuan, termasuk mencantumkan nama pendaftar, jenjang studi, program studi, serta waktu mulai studi sesuai aturan yang berlaku.
Persiapan Esai Juga Perlu Diperhatikan
Ada satu poin dalam transkrip yang perlu diperbarui. Untuk LPDP Tahap 2 2026, LPDP menyatakan kewajiban Personal Statement dihapus. Sebagai gantinya, pengenalan diri dilakukan melalui format Profil Diri yang lebih terstruktur. Namun, esai komitmen pengabdian atau kontribusi tetap dipertahankan dengan batas maksimal 1.500 kata.
Perubahan ini membuat calon pendaftar perlu membaca panduan terbaru, bukan hanya mengandalkan informasi dari pengalaman seleksi tahun-tahun sebelumnya.
Untuk Tahap 2 2026, pendaftaran dibuka 30 Juni sampai 31 Juli 2026. Seleksi administrasi berlangsung setelah masa pendaftaran, kemudian dilanjutkan seleksi bakat skolastik dan seleksi substansi. Pengumuman hasil akhir seleksi substansi dijadwalkan pada 30 November 2026.
Dengan demikian, kunci menghadapi LPDP 2026 bukan sekadar memiliki nilai akademik tinggi. Pendaftar juga harus mampu membaca arah kebijakan, memilih bidang studi secara tepat, memastikan kampus sesuai ketentuan, serta menyiapkan dokumen berdasarkan panduan terbaru.
Baca Juga: Gaji Pensiunan PNS Oktober 2026: Enrollment Jadi Kunci Autentikasi Digital
Editor : Muhamad Ahsanul WildanSumber : Gustin Notes