Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Asal Usul Gunung Bromo: Anak dari Letusan Gunung Tengger

Aini Nihayatul Khusna • Minggu, 6 Juli 2025 | 16:30 WIB
Sejarah Gunung Bromo dan proses terbentuknya dari kaldera purba, hingga keunikannya yang menjadikannya istimewa baik secara geologi maupun budaya.
Sejarah Gunung Bromo dan proses terbentuknya dari kaldera purba, hingga keunikannya yang menjadikannya istimewa baik secara geologi maupun budaya.

PROBOLINGGO- Gunung Bromo dikenal sebagai salah satu destinasi wisata paling ikonik di Indonesia.

Namun, tak banyak yang tahu bahwa Gunung Bromo sebenarnya lahir dari kehancuran sebuah gunung raksasa purba bernama Gunung Tengger.

Letusan besar ribuan tahun lalu tak hanya membentuk Kaldera Tengger, tetapi juga menjadi tempat lahirnya Gunung Bromo anak gunung berapi yang hingga kini masih aktif.

Gunung Tengger: Raksasa yang Meledak

Sekitar 45.000 tahun yang lalu, Gunung Tengger meletus dengan kekuatan yang luar biasa besar. 

Letusan ini termasuk kategori supervolkanik, yaitu letusan yang bisa mengubah lanskap secara permanen dan mempengaruhi iklim.

Letusan dahsyat tersebut menyebabkan puncak Gunung Tengger runtuh ke dalam perut bumi, menciptakan kaldera raksasa berdiameter hampir 10 kilometer.

Kaldera ini dikenal hingga sekarang sebagai Kaldera Tengger, dengan luas lebih dari 5.250 hektar, dan menjadi salah satu kaldera terbesar di Indonesia. 

Proses Terbentuknya Gunung Bromo

Setelah kaldera terbentuk, aktivitas vulkanik tidak berhenti.

Dari dasar kaldera, tekanan magma terus mendorong ke permukaan dan membentuk kerucut baru.

Inilah awal mula Gunung Bromo terbentuk dari Kaldera Tengger.

Gunung Bromo sendiri merupakan jenis kerucut sinder (cinder cone), yang terbentuk akibat letusan berulang dari celah kecil di dasar kaldera.

Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 2.329 meter di atas permukaan laut, jauh lebih rendah dibandingkan "induk"-nya yakni Gunung Tengger.

Namun, dari segi aktivitas, Bromo jauh lebih dinamis. 

Gunung ini termasuk dalam daftar gunung berapi aktif di Indonesia, dan letusan kecilnya tercatat sejak tahun 1804 hingga letusan freatik terakhir pada Juli 2019.

Kaldera Tengger dan Keunikan Gunung Bromo

Kaldera Tengger tidak hanya menjadi tempat lahirnya Gunung Bromo, tetapi juga menyimpan lautan pasir vulkanik yang luas dan unik.

Fenomena seperti ini sangat jarang ditemukan di dunia.

Lautan pasir tersebut merupakan endapan dari abu dan material vulkanik hasil letusan purba.

Pemandangan yang tersaji pun begitu dramatis, Gunung Bromo berdiri sendiri di tengah lautan pasir, dikelilingi dinding kaldera yang menjulang tinggi. 

Kombinasi antara kaldera luas dan anak gunung berapi aktif di tengahnya menjadikan kawasan ini sangat menarik bagi ilmuwan geologi dan wisatawan.

Gunung Bromo dalam Perspektif Budaya

Bagi masyarakat sekitar, khususnya Suku Tengger, Gunung Bromo bukan hanya gunung biasa.

Gunung ini dianggap sebagai tempat suci, pusat spiritual, dan simbol keseimbangan antara manusia dan alam.

Setiap tahun, masyarakat Tengger menggelar Upacara Yadnya Kasada, yaitu ritual persembahan yang dilakukan di kawah Bromo.

Legenda Roro Anteng dan Joko Seger, yang menjadi asal mula suku Tengger, juga melekat erat dengan keberadaan Bromo.

Cerita rakyat ini semakin memperkuat posisi Bromo sebagai gunung yang tidak hanya penting secara fisik, tetapi juga secara spiritual dan budaya.

Gunung Bromo adalah bukti nyata bahwa alam selalu memiliki cara untuk menciptakan kehidupan dari kehancuran.

Ia bukan gunung biasa, tetapi anak dari letusan Gunung Tengger yang kini menjadi ikon wisata dan pusat spiritual masyarakat lokal.

Dengan keindahan yang berpadu dengan sejarah geologi dan nilai budaya yang tinggi, Gunung Bromo tidak hanya menarik untuk dikunjungi, tetapi juga untuk dipahami.

Setiap asap yang mengepul dari kawahnya adalah napas dari sebuah sejarah panjang bumi yang terus hidup hingga kini.

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#Gunung Tengger #gunung bromo #suku tengger bromo #asal usul gunung Bromo