JAKARTA – Tiga pendaki jatuh beruntun saat melintasi jalur ekstrem di Gunung Rinjani.
Menyusul rangkaian pendaki jatuh, Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polhukam) RI mengumumkan penutupan sementara seluruh jalur pendakian Gunung Rinjani.
Langkah ini ditempuh untuk memastikan standar keamanan pendakian di Gunung Rinjani diperbarui secara menyeluruh.
Penutupan ini diumumkan oleh Menko Polhukam Jenderal (Purn) Budi Gunawan, Jumat (18/7/2025), usai rapat lintas lembaga bersama Basarnas, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), TNI, Polri, serta Pemerintah Provinsi NTB.
“Jalur pendakian Gunung Rinjani ditutup sementara secara total hingga pemberitahuan lebih lanjut,” ujar Budi Gunawan.
Tiga pendaki jatuh beruntun, termasuk satu korban meninggal dunia, menjadi dasar keputusan ini.
Pemerintah pusat menilai perlu dilakukan evaluasi mendalam terhadap keseluruhan aspek keselamatan pendakian.
Revisi prosedur operasi standar (SOP) serta perbaikan fasilitas darurat menjadi prioritas utama sebelum jalur kembali dibuka.
Menurut Kemenko Polhukam, peningkatan standar keamanan mencakup perbaikan infrastruktur pendakian, pemasangan sistem peringatan dini di titik-titik rawan, serta verifikasi jalur oleh tim gabungan Basarnas, TNI-Polri, dan Mountaineering Indonesia.
“Pembukaan hanya dilakukan setelah semua pihak menyatakan jalur aman dan layak digunakan,” tegas Budi Gunawan.
Deretan Insiden Serius Sejak Juni
Penutupan pendakian di Gunung Rinjani merespons tiga insiden serius yang terjadi sejak Juni 2025.
Pada 21 Juni, pendaki asal Brasil, Juliana Marins, terjatuh ke jurang sedalam 600 meter.
Ia ditemukan dalam kondisi tak bernyawa pada 24 Juni setelah operasi pencarian intensif selama empat hari.
Insiden kedua terjadi 16 Juli, saat Benedikt Emmenegger, wisatawan asal Swiss, mengalami kecelakaan di jalur Pelawangan Sembalun menuju Danau Segara Anak.
Ia mengalami patah tulang dan cedera kepala, dan harus dievakuasi menggunakan helikopter ke Bali.
Belum genap 24 jam, 17 Juli, turis asal Belanda, Sarah Tamar van Hulten, juga terjatuh di jalur yang sama.
Ia mengalami luka pada leher dan diselamatkan lewat evakuasi udara oleh tim gabungan.
Ketiga kecelakaan ini terjadi pada jalur yang dikenal curam dan minim pengamanan teknis.
Banyak pendaki melintasi jalur tersebut dengan mengandalkan insting dan aplikasi peta digital.
Evaluasi Tata Kelola Pendakian
Pemerintah menekankan bahwa penutupan ini tidak bersifat reaktif, melainkan menjadi bagian dari evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola pendakian di kawasan konservasi.
Sejumlah titik rawan akan dipetakan ulang, dan SOP pendakian dirancang ulang agar lebih tanggap terhadap kondisi cuaca maupun geografis.
Langkah lain yang direncanakan adalah penambahan fasilitas penyelamatan seperti jalur evakuasi darurat, titik istirahat berstandar keselamatan, dan pelatihan ulang bagi petugas lapangan.
Dalam masa penutupan ini, semua kegiatan pendakian Rinjani dihentikan total sementara.
Pendaki yang telah merencanakan perjalanan ke Rinjani diminta untuk menunda atau membatalkan sementara, serta mengikuti informasi resmi dari Balai TNGR atau Posko Basarnas terdekat.
Kemenko Polhukam juga mengimbau masyarakat agar tidak memaksakan diri melakukan aktivitas ilegal selama masa penutupan.
Semua upaya ini dilakukan demi mengutamakan keselamatan jiwa pendaki.
Keselamatan jiwa pendaki adalah prioritas. Jalur hanya dibuka kembali jika seluruh standar keamanan telah terpenuhi melalui koordinasi lintas instansi. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah