Radar Tulungagung - Berkembangnya teknologi kendaraan dengan dapur pacu listrik memang sudah bukan hal yang sukar ditemui.
Terlebih alat transportasi listrik sudah cukup mudah ditemui di jalanan wilayah Tulungagung.
Kendati telah tersedia satu Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di depan kantor Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Tulungagung, penggunaan kendaraan listrik di Tulungagung masih tergolong tahap awal.
Baca Juga: Hanya Rp 50 Juta, Mobil Ini Cocok Jadi Mobil Pertama di Tulungagung
Tak hanya itu, terbatasnya infrastruktur pendukung penggunaan kendaraan listrik pun menjadi faktor kurang maraknya alat transportasi listrik tersebut.
Diketahui infrastruktur pengisian daya atau SPKLU di Tulungagung menawarkan dua opsi guna pengisian daya.
Pertama yakni pengisian daya dengan mode fast charging. Dimana untuk mengisi daya mulai dari 0 hingga 100 persen hanya membutuhkan 45 menit dengan kapasitas 66 KVA.
Baca Juga: Kejatuhan Balon Udara Berhias Mercon, Satu Rumah dan Dua Mobil di Tulungagung Rusak
Kedua pengisian daya mode standar charging. Adapun pengisian daya dengan mode ini menggunakan daya 16,5 KVA dengan waktu kecepatan pengisian sesuai dengan kapasitas batrai.
Pengisian daya pada SPKLU ini dipatok dengan harga Rp 2.500 per kWh. Kendati telah tersedia SPKLU, fasilitas ini hanya dapat digunakan oleh mobil listrik dan belum mendukung pengisian sepeda motor listrik.
Berdasarkan data, penggunaan SPKLU di Tulungagung masih tegolong rendah.
Baca Juga: Inilah 7 Langkah Pertolongan Pertama Mobil Mogok Saat Mudik Lebaran Idul Fitri
Diketahui setiap minggunya hanya ada dua hingga tiga kendaraan yang mengisi daya di SPKLU Tulungagung.
Artinya dengan data tersebut, tingkat adobsi masyarakat terhadap mobil listrik di Tulungagung masih tergolong rendah.
Meski Tulungagung telah memulai langkah penggunaan mobil listrik, infrastruktur penunjang masih belum cukup untuk mendukung adobsi massal terhadap kendaraan listrik.
Dimana hal ini memerlukan penambahan fasilitas pengisian daya termasuk untuk pengguna sepedah motor listrik.
Editor : Matlaul Ngainul Aziz