Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

PO Esto, Bus Tertua di Indonesia Berdiri Sejak 1923! Berawal dari Salatiga Era Belanda, Pernah Punya 100 Armada hingga Gulung Tikar 2016

Natasha Eka Safrina • Senin, 26 Januari 2026 | 17:25 WIB

PO Esto bus tertua di Indonesia berdiri sejak 1923 di Salatiga. Pernah punya 100 armada, lalu meredup hingga gulung tikar 2016.
PO Esto bus tertua di Indonesia berdiri sejak 1923 di Salatiga. Pernah punya 100 armada, lalu meredup hingga gulung tikar 2016.

JAKARTA - Nama PO Esto mungkin sudah tidak asing bagi warga Salatiga dan sekitarnya. Perusahaan otobus legendaris ini dikenal sebagai salah satu yang tertua di Indonesia, bahkan disebut berdiri sejak era Hindia Belanda. Busnya dulu identik dengan warna hijau, sampai-sampai mendapat julukan “si kodok hijau”. Namun di balik nama besarnya, perjalanan PO Esto ternyata penuh pasang surut, dari masa kejayaan memiliki ratusan armada, hingga akhirnya gulung tikar pada 2016.

PO Esto bukan perusahaan otobus yang lahir di kota besar seperti Batavia, Semarang, atau Surabaya. Justru Salatiga menjadi titik awal sejarahnya. Banyak orang bertanya, mengapa Salatiga yang dipilih? Dari berbagai informasi, pada masa kolonial Hindia Belanda, Salatiga merupakan kota penting bagi pemerintah kolonial. Wilayah ini menjadi tempat bermukimnya orang-orang Belanda, sekaligus didukung area perkebunan luas dan statusnya sebagai kota militer.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan transportasi bermesin menjadi sangat vital. Melihat peluang itu, seorang pengusaha keturunan Cina-Jawa asal Kudus bersama istrinya, Ija King, memulai usaha persewaan mobil. Pada awal merintis, sekitar tahun 1921, ia melayani jasa sewa mobil kecil. Unit sewa itu berjejer di sepanjang Jalan Solo, yang kini dikenal sebagai Jalan Jenderal Sudirman.

Baca Juga: Gugatan Tidak Diterima, PT Jawa Pos Memenangkan Perkara PT Dharma Nyata Press di PN Surabaya

Berawal dari Rental Mobil, Lalu Beralih ke Angkutan Umum

Usaha sewa mobil yang ia jalankan ternyata mendapat respons tinggi. Tak lama kemudian, ia menambah unit truk untuk kebutuhan angkut barang sekaligus layanan transportasi. Namun langkah besar diambil pada 1923. Ia memutuskan menutup usaha rental mobil dan mulai membuka usaha angkutan umum berupa bus kota.

Tahun 1923 inilah yang kemudian dikenal sebagai awal berdirinya PO Esto. Nama “Esto” disebut berasal dari singkatan berbahasa Belanda yang merujuk pada “perusahaan transportasi pertama Salatiga”. Pemilihan nama berbahasa Belanda bukan tanpa alasan, karena pada masa itu tatanan sosial dan target konsumen yang dibidik adalah orang-orang Eropa.

Pada fase awal, PO Esto membuka trayek Salatiga–Tuntang. Jalur ini melayani warga Salatiga yang hendak melanjutkan perjalanan menggunakan kereta api melalui Stasiun Tuntang. Sistem tarifnya pun sudah dibuat berkelas, mengikuti standar sosial saat itu.

Baca Juga: Gugatan Tidak Diterima, PT Jawa Pos Memenangkan Perkara PT Dharma Nyata Press di PN Surabaya

Terdapat dua kelas layanan. Kelas dua dipatok 10 sen, dengan kursi rotan yang menghadap ke belakang. Sementara kelas satu dikenai 20 sen, dengan kursi menghadap depan serta fasilitas tambahan yang lebih nyaman.

Masa Kejayaan: 100 Armada dan Rute Antar Kota

PO Esto mencapai puncak kejayaannya pada 1925. Dalam periode itu, perusahaan disebut mampu menambah armada hingga 100 unit. Tidak hanya memperbanyak bus, mereka juga berhasil membuka bengkel sendiri, sebuah langkah besar untuk ukuran bisnis transportasi pada masa kolonial.

Perluasan layanan juga dilakukan. Jika awalnya hanya bus kota, rute berkembang menjadi angkutan antar kota. Jaringan trayeknya meluas ke berbagai daerah, di antaranya Kutoarjo, Kendal, Ringin, Semarang, Solo, Elang, Suruh, Ambarawa, Sragen, Purworejo, Kudus, hingga Pati.

Baca Juga: Update Terbaru Bansos PKH BPNT 2026: Cair Tahap 1, Tiga Golongan KPM Bisa Dapat Seumur Hidup!

Ekspansi tersebut menunjukkan bahwa PO Esto pernah menjadi salah satu pemain transportasi paling kuat di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya. Namun seperti banyak bisnis besar lainnya, kejayaan itu tidak berlangsung selamanya.

Krisis Ekonomi Membuat Armada Dijual Satu per Satu

Memasuki era 1930-an, dunia dilanda krisis ekonomi. Dampaknya ikut menghantam PO Esto. Utang perusahaan disebut menumpuk dan kerugian semakin besar. Untuk menutup beban finansial, mereka terpaksa menjual armada satu per satu.

Periode 1930 hingga 1935 menjadi masa sulit, karena jumlah armada terus menyusut. Bahkan pada 1938, bus yang tersisa dikabarkan tinggal sekitar 20 unit. Meski demikian, PO Esto masih berusaha bertahan melewati masa-masa berat, termasuk gejolak Perang Dunia II pada 1940–1945.

Setelah Indonesia merdeka, perusahaan perlahan mampu mengembalikan eksistensinya. Dalam beberapa dekade berikutnya, PO Esto masih dikenal dan tetap beroperasi, menjadi bagian dari sejarah panjang transportasi darat di Indonesia.

Baca Juga: Resmi Kabar Gembira! Bansos PKH BPNT 2026 Naik 8,6 Persen, Saldo KPM Bisa Tembus Rp13,4 Juta per Tahun dari Akumulasi Multibansos

Gulung Tikar 2016, Gagal Menyentuh Usia 100 Tahun

Sayangnya, perjalanan panjang PO Esto harus berakhir pada 2016. Perusahaan otobus legendaris ini resmi gulung tikar. Padahal, jika mampu bertahan hingga 2025, PO Esto diperkirakan sudah menginjak usia lebih dari 100 tahun.

Kisah PO Esto menjadi potret nyata bagaimana industri transportasi di Indonesia sudah tumbuh sejak era kolonial. Dari usaha sewa mobil kecil, berkembang menjadi bus kota, berjaya dengan 100 armada, lalu jatuh karena krisis ekonomi, dan akhirnya berhenti beroperasi setelah hampir satu abad.

Di tengah modernisasi transportasi hari ini, sejarah PO Esto mengingatkan bahwa bus bukan sekadar kendaraan, melainkan saksi perjalanan ekonomi, sosial, dan perkembangan kota-kota di Indonesia.

Baca Juga: Gaji PPPK Paruh Waktu Lulusan SMA 2026 Jadi Sorotan, Segini Kisaran Upah di Daerah

Editor : Natasha Eka Safrina
#bus indonesia