JAKARTA - PO Gumarang Jaya menjadi salah satu nama besar yang tak bisa dilepaskan dari sejarah transportasi darat di Pulau Sumatera. Perusahaan otobus legendaris asal Bandar Lampung ini dikenal luas oleh masyarakat lintas provinsi, terutama penumpang yang sering bepergian dari Sumatera menuju Pulau Jawa.
Kisah PO Gumarang Jaya bermula pada tahun 1974. Perusahaan ini didirikan oleh Haji Alizar Datuk Bagindo, seorang perantau asal Minangkabau, Sumatera Barat. Kehadiran PO ini lahir dari keprihatinan pendirinya terhadap minimnya moda transportasi darat yang layak di Sumatera pada masa itu, ketika perjalanan antarkota masih penuh tantangan.
Nama “Gumarang” sendiri tidak dipilih sembarangan. Dalam transkrip yang dilansir dari berbagai sumber, disebutkan bahwa nama tersebut diambil dari kuda legendaris milik Raja Cindu Mato dalam cerita rakyat Kerajaan Pagaruyung. Nama itu menjadi simbol harapan agar armada busnya dapat menjadi andalan masyarakat Sumatera, bahkan Indonesia secara keseluruhan.
Baca Juga: Bansos Beras Januari 2026 Segera Cair, Ini Syarat Lengkap KPM PKH dan BPNT serta Cara Pengambilannya
Awal Perjalanan: Rute Lampung–Bukittinggi 5–6 Hari
Pada masa awal operasionalnya, PO Gumarang Jaya menggunakan armada Chevrolet Colt untuk melayani rute Bandar Lampung menuju Bukittinggi. Namun perjalanan pada era tersebut jauh dari kata mudah. Waktu tempuhnya bisa mencapai 5 hingga 6 hari, dipengaruhi kondisi infrastruktur jalan yang belum memadai.
Bahkan, perjalanan lintas provinsi itu disebut harus menyeberangi tujuh sungai menggunakan rakit. Jalur yang dilalui meliputi wilayah Sarolangun, Rantau Panjang, Muara Obo, Bangko, Sinamar, Muara Tebo, Pulau Musang, hingga Sungai Dareh. Gambaran ini menunjukkan betapa ekstremnya tantangan perjalanan darat di Sumatera pada masa itu.
Puncak Kejayaan: Jadi Raksasa PO di Sumatera
Seiring waktu, PO Gumarang Jaya berkembang pesat dan mencapai masa keemasan. Pada puncak kejayaannya, perusahaan ini disebut menjadi salah satu PO terbesar di Sumatera bersama Lampung Jaya yang berada dalam satu manajemen.
Trayek yang dilayani pun semakin luas. Armada mereka menghubungkan berbagai kota di Sumatera seperti Padang, Bukittinggi, Lubuk Basung, Solok, Jambi, Palembang, hingga Bandar Lampung. Tak hanya itu, rute mereka bahkan menembus Pulau Jawa menuju Jakarta, Pati, dan Solo.
Di kalangan pecinta bus, Gumarang Jaya juga mudah dikenali lewat identitas visualnya. Bus ini terkenal dengan livery berwarna dasar putih yang dihiasi kombinasi hitam, merah, dan kuning. Warna tersebut terinspirasi dari marawa, bendera kebesaran Minangkabau, sekaligus menegaskan akar budaya sang pendiri.
Menariknya, hingga saat ini PO Gumarang Jaya masih beroperasi. Perusahaan ini disebut terus berinovasi dalam layanan dan armada untuk menjawab kebutuhan penumpang di era modern, sekaligus menjaga eksistensinya di tengah persaingan transportasi yang semakin ketat.
Deretan PO Legendaris Lampung Lainnya: Puspa Jaya dan Mertasari
Selain Gumarang Jaya, Lampung juga dikenal sebagai “rumah” bagi sejumlah perusahaan otobus legendaris lain. Salah satunya adalah PO Puspa Jaya, yang punya sejarah panjang dan unik karena didirikan oleh seorang transmigran asal Bali.
Dalam transkrip, PO Puspa Jaya disebut bermula dari sosok Iketut Naria. Pada 1963, ia mengikuti program transmigrasi ke Lampung akibat erupsi Gunung Agung. Setelah menetap, ia memulai usaha dari berdagang hasil bumi hingga melihat peluang besar di sektor transportasi.
Pada 31 Oktober 1978, Iketut Naria mendirikan usaha angkutan bus bernama Puspasari dengan satu armada. Rute awalnya melayani jalur Banjit–Way Kanan–Kertajaya–Bandar Lampung. Seiring berkembangnya usaha, perusahaan mulai merintis trayek antar provinsi pada 1989, termasuk rute Lampung–Yogyakarta–Solo.
Perubahan besar terjadi pada 1992 ketika kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Iketut Pasek. Di bawah kepemimpinannya, perusahaan memisahkan diri dari PT Puspasari di Bali dan menggunakan nama PO Puspa Jaya.
Puspa Jaya dikenal cepat dan punya pelayanan yang diandalkan. Bahkan, ada penumpang yang menjulukinya “ngibrit” karena kecepatannya. PO ini juga tercatat meraih sejumlah penghargaan, mulai dari 2013 hingga 2021, termasuk pengakuan dari Menteri Perhubungan.
Sementara itu, ada pula PO Mertasari yang disebut sebagai bus legendaris asal Lampung. Perusahaan ini didirikan oleh Imed Bagiase, perantau asal Bali yang menetap di Lampung. Pada masa jayanya, Mertasari dikenal melayani rute panjang Lampung–Solo–Blitar dan menjadi pilihan penumpang karena cepat serta tepat waktu.
PO Mertasari juga disebut menjadi bagian dari grup Bareka yang menaungi perusahaan otobus lain seperti Puspasari dan Puspa Jaya. Namun kini, operasionalnya lebih banyak berfokus pada trayek dalam provinsi seperti Lampung Barat dan Kota Agung dibanding rute antarpulau seperti dulu.
Editor : Natasha Eka Safrina