WONOGIRI – PO bus legendaris Wonogiri punya cerita panjang yang tak bisa dipisahkan dari perjalanan masyarakat perantauan, jalur Pantura, hingga masa-masa keras sebelum jalan tol dan fasilitas bus semewah sekarang. Dari bus ekonomi non-AC bermesin depan yang raungannya “garing” sampai unit premium bertingkat, Wonogiri menjadi salah satu daerah yang melahirkan banyak nama besar di dunia otobus.
Menariknya, kisah PO bus legendaris Wonogiri bukan hanya soal armada, tetapi juga tentang bagaimana mereka bertahan menghadapi kompetisi, krisis ekonomi, hingga perubahan selera penumpang. Ada yang masih eksis sampai kini, ada pula yang tinggal kenangan, namun namanya tetap melekat di ingatan warga.
Salah satu yang disebut pernah merasakan masa kejayaan adalah bus Mulia. Mengutip sumber fecttomotive.com, Mulia sempat mencicipi manisnya dunia bus pada era 80 hingga 90-an, sebelum kemudian kalah bersaing dengan kompetitor yang menawarkan kenyamanan lebih baik. Pada masa itu, bus ekonomi non-AC dengan mesin depan dan suara nyaring di kabin menjadi ciri khas. Bahkan, momen arus balik Lebaran sering membuat penumpang membludak hingga harus mendatangkan bus tambahan.
Baca Juga: Bansos Beras Januari 2026 Segera Cair, Ini Syarat Lengkap KPM PKH dan BPNT serta Cara Pengambilannya
Bagi penikmat perjalanan jalur Pantura, sensasi “balap malam” di rute Batang sampai Cikopo juga jadi cerita tersendiri. Meski bukan termasuk bus tercepat, aksi saling menyalip di jalur padat tetap memberi ketegangan yang memikat. Sekitar 2006, bus Mulia disebut berhenti beroperasi di Jakarta.
Selain Mulia, perantau Wonogiri juga dikenal akrab dengan Purwoputro, bus dengan livery perpaduan merah-putih-biru yang unik. Bagian kepala dan atap berwarna merah, badan bus dominan putih, sedangkan bagian bawah diberi aksen biru dengan tambahan merah. Kombinasi warna ini membuatnya mudah dikenali di jalanan pada masanya.
Ada pula Bus Gununggiri yang menurut akun Facebook Gareng Pong, sudah beroperasi sejak era 1960/1970-an. Bus ini melayani trayek Pracimantoro–Solo dan Pracimantoro–Semarang, bahkan sempat menjalankan rute Wonogiri–Jakarta. Namun, operasionalnya disebut berhenti sekitar 1984-an.
Nama lain yang tak kalah legendaris adalah Sari Gede, bus asli Wonogiri yang dikenal dengan bodi orisinalnya. Armada ini disebut menggunakan karoseri Restu Ibu, dan melayani rute Pracimantoro–Wonogiri–Solo–Jakarta. Bagi sebagian warga, Sari Gede menjadi simbol masa ketika perjalanan lintas kota masih mengandalkan jalur panjang dengan kondisi jalan yang belum sebaik sekarang.
Sementara itu, PO Wasis menjadi legenda yang kini tinggal kenangan. Mengutip kirimfotis.blogspot.com, PO ini disebut sudah tidak eksis sejak pertengahan era 90-an, sekitar 1993–1995. Armada yang beroperasi kala itu melayani trayek Wonogiri–Solo–Jakarta pulang-pergi, menggunakan body Banteng dari karoseri GMM dan mesin Mercedes-Benz OH306 rear engine.
Kemudian ada Mustika Jaya Baru, bus asli Jatisrono Wonogiri yang juga sudah tinggal sejarah. Perusahaan ini didirikan Bapak Sutarwo pada era 1980-an dan pernah melayani rute Ponorogo–Wonogiri–Jakarta. Banyak sumber menyebut Mustika Jaya Baru sebagai salah satu “pelari gahar” di antara bus-bus Wonogiri sebayanya, terutama dengan mesin Mitsubishi dan body yang banyak memakai karoseri Trijaya Union.
Legenda lain yang disebut cukup terkenal adalah Joko Muda, yang menurut tulisan Instagram baskem Indonesia, aktif pada dekade 1984 sampai 1990. Bus ini pernah mengaspal di rute Wonogiri–Jakarta, melibas Pantura hingga tanjakan Alas Roban. Bus ini awalnya bernama PO Damar (1983) dengan sasis OF 10013 dan karoseri Rahayu Santosa, lalu berganti nama menjadi Joko Muda. Pada masa itu, tiket Wonogiri–Jakarta masih berkisar Rp2.500 sampai Rp4.000, namun penumpang sering penuh hingga berdiri di koridor.
Kisah lain datang dari PO Giri Indah yang dimulai pada 1970-an. PO ini membangun rute Wonogiri–Sukoharjo–Semarang, lalu generasi kedua mengekspansi hingga Jakarta untuk mengejar konsumen perantau yang pindah akibat proyek Waduk Gajah Mungkur. Pada 1984, Giri Indah bahkan mendatangkan bus sasis Mercedes-Benz sebagai inovasi. Namun krisis moneter 1998 membuat perusahaan ini terpukul dan akhirnya tumbang sekitar tahun 2000.
Salah satu yang punya pengaruh besar adalah PO Timbul Jaya, didirikan almarhum H. Atmo Wiranto sekitar 1970. Awalnya usaha angkutan barang memakai truk tua, lalu berkembang menjadi bus penumpang dengan dua armada pada 1973. Timbul Jaya disebut menjadi “cikal bakal” lahirnya pengusaha bus sukses Wonogiri, termasuk Suroso pendiri Rosalia Indah yang pernah menjadi agen tiket dan kepala cabang.
Sementara itu, Putra Mulya Sejahtera menjadi simbol transformasi modern. Berawal dari mikrobus pada 1985, lalu merintis AKDP pada 1992, Putra Mulya masuk jalur AKAP pada 2000. Pada 2016, mereka bangkit membawa unit Mercedes-Benz dan Hino, lalu membuat gebrakan dengan membeli bus tingkat Scania. Bus tingkat Putra Mulya Sejahtera bahkan disebut sebagai bus double decker pertama untuk rute jarak jauh di Pulau Jawa, menghadirkan kelas First Executive dan Elegant Class.
Editor : Natasha Eka Safrina