Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sejarah PO Sumber Kencono yang Kini Jadi Sugeng Rahayu: Dari “Raja Jalanan” Sampai Dijuluki Sumber Bencana, Ini Titik Baliknya!

Natasha Eka Safrina • Selasa, 3 Februari 2026 | 17:40 WIB

Sejarah PO Sumber Kencono hingga jadi Sugeng Rahayu, dari raja jalanan sampai Sumber Bencana. Ini kisah lengkapnya!
Sejarah PO Sumber Kencono hingga jadi Sugeng Rahayu, dari raja jalanan sampai Sumber Bencana. Ini kisah lengkapnya!

JAKARTA -
Sejarah PO Sumber Kencono menjadi salah satu kisah paling fenomenal di dunia transportasi darat Indonesia. Nama bus ini pernah begitu melegenda, bukan hanya karena jumlah armadanya yang besar, tetapi juga karena citra ekstrem yang melekat di masyarakat: cepat, berani, bahkan dianggap berbahaya. Dari sebuah usaha kecil di Jawa Timur, PO Sumber Kencono sempat menjelma menjadi “raja jalanan” sebelum akhirnya mengalami tekanan besar akibat rentetan kecelakaan.

Kisah PO Sumber Kencono bermula pada tahun 1981. Seorang pengusaha asal Sidoarjo, Jawa Timur, bernama Setyaki Sasongko memulai bisnis transportasi dengan modal awal enam unit bus. Perusahaan itu diberi nama Sumber Kencono, yang berarti “sumber emas” atau mesin penghasil uang. Rute awal yang dilayani cukup strategis, yakni Surabaya–Solo–Madiun–Yogyakarta dengan kelas ekonomi.

Baca Juga: PPPK Kemenham 2025 Dibuka Awal 2026, Ini Formasi Lengkap, Syarat, Jadwal, dan Strategi Lolos Seleksi

Namun sejak awal, persaingan di jalur tersebut sudah sangat ketat. Salah satu kompetitor utama saat itu adalah PO Flores. Dalam kondisi berebut penumpang, tak jarang terjadi manuver berbahaya seperti ngeblong dan memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Dari sinilah muncul reputasi bus-bus antarkota sebagai kendaraan yang kerap “adu cepat” di jalan.

Rivalitas Panas dan Tragedi PO Flores

Persaingan itu berubah drastis ketika terjadi peristiwa besar pada 6 Mei 1981. Saat membawa rombongan anak SMP untuk berwisata, bus PO Flores mengalami tabrakan maut dengan kereta api. Belasan penumpang dilaporkan meninggal dunia. Insiden tersebut menggemparkan publik dan membuat PO Flores mendapat sanksi larangan beroperasi di wilayah Solo.

Manajemen PO Flores akhirnya memotong rute hanya sampai perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, tepatnya di Mantingan, Ngawi. Dari titik inilah kemudian muncul cikal bakal PO Eka dan Mira, yang disebut sebagai “teman balap” Sumber Kencono di jalur tersebut.

Sementara itu, PO Sumber Kencono justru mengambil peluang dengan mengambil alih trayek yang ditinggalkan, lalu memperluas operasionalnya. Armada pun terus bertambah dari tahun ke tahun, bahkan diberangkatkan setiap 20 menit. Bus ini semakin populer karena tarifnya terjangkau untuk masyarakat menengah ke bawah, tersedia kelas ekonomi non-AC maupun AC murah, serta pelayanan yang dinilai baik.

Baca Juga: Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026 Jadi Pembuka Fenomena Langit Langka, Cincin Api Muncul di Antartika

Masa Kejayaan PO Sumber Kencono

Puncak kejayaan PO Sumber Kencono terjadi pada rentang 2005 hingga 2008. Perusahaan ini bahkan menerima penghargaan dari Kementerian Perhubungan sebagai salah satu penyelenggara angkutan lebaran dengan pelayanan terbaik.

Hingga sekitar tahun 2011, PO Sumber Kencono disebut memiliki total 255 armada, dengan rincian 230 unit reguler dan 22 cadangan. Pada masa itu, bus ini sangat diminati masyarakat karena jadwalnya rapat, rutenya ramai, dan biaya perjalanan relatif murah.

Namun di balik popularitas itu, muncul sisi gelap yang perlahan menggerus kepercayaan publik.

Julukan “Sumber Bencana” dan Rentetan Kecelakaan

Masalah besar PO Sumber Kencono terletak pada perilaku sebagian pengemudi yang kerap mengemudi ugal-ugalan. Manuver berbahaya, kecepatan tinggi, hingga aksi ngeblong membuat banyak pengguna jalan merasa terancam.

Dalam kurun 2009 sampai 2011, disebut terjadi 51 kali kecelakaan dengan total 129 korban. Dari jumlah itu, 36 orang meninggal dunia. Akibat tingginya angka kecelakaan, masyarakat mulai menyindir nama Sumber Kencono menjadi “Sumber Bencana”. Bahkan muncul julukan yang lebih ekstrem: “bus pencabut nyawa.”

Baca Juga: Virus Nipah Mengintai, Penularan Bisa dari Hewan hingga Manusia: Gejala Awalnya Mirip Demam Biasa tapi Berujung Fatal

Puncaknya, terjadi kecelakaan besar di Mojokerto yang menewaskan 20 orang. Kecelakaan lain juga terjadi di Ngawi yang merenggut nyawa pengendara motor. Kemarahan warga memuncak hingga ada insiden bus dibakar massa karena dianggap sudah keterlaluan.

Izin Trayek Dipangkas, Manajemen Dibenahi

Pada 12 September 2011, Gubernur Jawa Timur saat itu disebut melayangkan rekomendasi kepada Dinas Perhubungan untuk mencabut izin trayek sekaligus izin operasi PO Sumber Kencono. Pemeriksaan SIM para sopir pun dilakukan untuk memastikan kelayakan dan legalitas pengemudi.

Kementerian Perhubungan kemudian menjatuhkan sanksi administratif dengan memangkas jumlah armada hingga 40 persen. Pertimbangannya, jika perusahaan dibekukan total, dikhawatirkan terjadi PHK besar-besaran yang memicu peningkatan pengangguran.

Pemilik PO Sumber Kencono, Sasongko, mengakui kesalahan dan melakukan perombakan manajemen. Perusahaan membuat aturan baru, mulai dari jadwal istirahat sopir, peningkatan pelayanan, seleksi ulang kemampuan pengemudi, hingga pembatasan kecepatan maksimal.

Berganti Nama Jadi Sumber Selamat hingga Sugeng Rahayu

Meski sudah berbenah, citra negatif telanjur melekat. Karena itu, dilakukan regenerasi besar-besaran. Sebanyak 80 unit armada Sumber Kencono diganti nama menjadi Sumber Selamat, dengan harapan membawa nasib lebih baik sekaligus menekankan pentingnya keselamatan.

Baca Juga: Sejarah PO Harapan Jaya: Berawal 3 Bus Tahun 1977, Kini Jadi “Kuda Oren” Premium Asal Tulungagung dengan Layanan First Class!

Pada 9 Februari 2012, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat memutuskan izin trayek tidak dicabut karena perusahaan dinilai sudah dikelola lebih profesional. Untuk memantau perilaku awak bus, manajemen melengkapi armada dengan GPS yang terintegrasi dengan pemantau kecepatan. Hasilnya, jumlah kecelakaan perlahan berkurang dan kepercayaan publik mulai kembali.

Pada 2013, lahirlah nama baru sebagai pendamping, yakni Sugeng Rahayu yang berarti sejahtera atau jauh dari musibah. Perusahaan ini berada di bawah naungan PT Selamat Sugeng Rahayu dan beralamat di Jalan Sidorejo KM 25, Krian, Sidoarjo, Jawa Timur.

Sugeng Rahayu kemudian berkembang dengan berbagai layanan, termasuk kelas patas rute Surabaya–Yogyakarta sejak 2014, serta trayek lebih jauh seperti Bandung, Jember, Cilacap, Purwokerto, hingga Semarang. Selain angkutan reguler, perusahaan juga memiliki divisi pariwisata Golden Star dan ekspedisi SR Express.

JAKARTA - Sejarah PO Sumber Kencono menjadi salah satu kisah paling fenomenal di dunia transportasi darat Indonesia. Nama bus ini pernah begitu melegenda, bukan hanya karena jumlah armadanya yang besar, tetapi juga karena citra ekstrem yang melekat di masyarakat: cepat, berani, bahkan dianggap berbahaya. Dari sebuah usaha kecil di Jawa Timur, PO Sumber Kencono sempat menjelma menjadi “raja jalanan” sebelum akhirnya mengalami tekanan besar akibat rentetan kecelakaan.

Kisah PO Sumber Kencono bermula pada tahun 1981. Seorang pengusaha asal Sidoarjo, Jawa Timur, bernama Setyaki Sasongko memulai bisnis transportasi dengan modal awal enam unit bus. Perusahaan itu diberi nama Sumber Kencono, yang berarti “sumber emas” atau mesin penghasil uang. Rute awal yang dilayani cukup strategis, yakni Surabaya–Solo–Madiun–Yogyakarta dengan kelas ekonomi.

Baca Juga: Sejarah PO Rosalia Indah: Dari 1 Colt Diesel Rute Solo–Blitar hingga Jadi “Sultan Palur” dengan 21 Bus Double Decker Rekor MURI!

Namun sejak awal, persaingan di jalur tersebut sudah sangat ketat. Salah satu kompetitor utama saat itu adalah PO Flores. Dalam kondisi berebut penumpang, tak jarang terjadi manuver berbahaya seperti ngeblong dan memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Dari sinilah muncul reputasi bus-bus antarkota sebagai kendaraan yang kerap “adu cepat” di jalan.

Rivalitas Panas dan Tragedi PO Flores

Persaingan itu berubah drastis ketika terjadi peristiwa besar pada 6 Mei 1981. Saat membawa rombongan anak SMP untuk berwisata, bus PO Flores mengalami tabrakan maut dengan kereta api. Belasan penumpang dilaporkan meninggal dunia. Insiden tersebut menggemparkan publik dan membuat PO Flores mendapat sanksi larangan beroperasi di wilayah Solo.

Manajemen PO Flores akhirnya memotong rute hanya sampai perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, tepatnya di Mantingan, Ngawi. Dari titik inilah kemudian muncul cikal bakal PO Eka dan Mira, yang disebut sebagai “teman balap” Sumber Kencono di jalur tersebut.

Sementara itu, PO Sumber Kencono justru mengambil peluang dengan mengambil alih trayek yang ditinggalkan, lalu memperluas operasionalnya. Armada pun terus bertambah dari tahun ke tahun, bahkan diberangkatkan setiap 20 menit. Bus ini semakin populer karena tarifnya terjangkau untuk masyarakat menengah ke bawah, tersedia kelas ekonomi non-AC maupun AC murah, serta pelayanan yang dinilai baik.

Masa Kejayaan PO Sumber Kencono

Puncak kejayaan PO Sumber Kencono terjadi pada rentang 2005 hingga 2008. Perusahaan ini bahkan menerima penghargaan dari Kementerian Perhubungan sebagai salah satu penyelenggara angkutan lebaran dengan pelayanan terbaik.

Hingga sekitar tahun 2011, PO Sumber Kencono disebut memiliki total 255 armada, dengan rincian 230 unit reguler dan 22 cadangan. Pada masa itu, bus ini sangat diminati masyarakat karena jadwalnya rapat, rutenya ramai, dan biaya perjalanan relatif murah.

Namun di balik popularitas itu, muncul sisi gelap yang perlahan menggerus kepercayaan publik.

Julukan “Sumber Bencana” dan Rentetan Kecelakaan

Masalah besar PO Sumber Kencono terletak pada perilaku sebagian pengemudi yang kerap mengemudi ugal-ugalan. Manuver berbahaya, kecepatan tinggi, hingga aksi ngeblong membuat banyak pengguna jalan merasa terancam.

Dalam kurun 2009 sampai 2011, disebut terjadi 51 kali kecelakaan dengan total 129 korban. Dari jumlah itu, 36 orang meninggal dunia. Akibat tingginya angka kecelakaan, masyarakat mulai menyindir nama Sumber Kencono menjadi “Sumber Bencana”. Bahkan muncul julukan yang lebih ekstrem: “bus pencabut nyawa.”

Puncaknya, terjadi kecelakaan besar di Mojokerto yang menewaskan 20 orang. Kecelakaan lain juga terjadi di Ngawi yang merenggut nyawa pengendara motor. Kemarahan warga memuncak hingga ada insiden bus dibakar massa karena dianggap sudah keterlaluan.

Izin Trayek Dipangkas, Manajemen Dibenahi

Pada 12 September 2011, Gubernur Jawa Timur saat itu disebut melayangkan rekomendasi kepada Dinas Perhubungan untuk mencabut izin trayek sekaligus izin operasi PO Sumber Kencono. Pemeriksaan SIM para sopir pun dilakukan untuk memastikan kelayakan dan legalitas pengemudi.

Kementerian Perhubungan kemudian menjatuhkan sanksi administratif dengan memangkas jumlah armada hingga 40 persen. Pertimbangannya, jika perusahaan dibekukan total, dikhawatirkan terjadi PHK besar-besaran yang memicu peningkatan pengangguran.

Pemilik PO Sumber Kencono, Sasongko, mengakui kesalahan dan melakukan perombakan manajemen. Perusahaan membuat aturan baru, mulai dari jadwal istirahat sopir, peningkatan pelayanan, seleksi ulang kemampuan pengemudi, hingga pembatasan kecepatan maksimal.

Berganti Nama Jadi Sumber Selamat hingga Sugeng Rahayu

Meski sudah berbenah, citra negatif telanjur melekat. Karena itu, dilakukan regenerasi besar-besaran. Sebanyak 80 unit armada Sumber Kencono diganti nama menjadi Sumber Selamat, dengan harapan membawa nasib lebih baik sekaligus menekankan pentingnya keselamatan.

Pada 9 Februari 2012, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat memutuskan izin trayek tidak dicabut karena perusahaan dinilai sudah dikelola lebih profesional. Untuk memantau perilaku awak bus, manajemen melengkapi armada dengan GPS yang terintegrasi dengan pemantau kecepatan. Hasilnya, jumlah kecelakaan perlahan berkurang dan kepercayaan publik mulai kembali.

Pada 2013, lahirlah nama baru sebagai pendamping, yakni Sugeng Rahayu yang berarti sejahtera atau jauh dari musibah. Perusahaan ini berada di bawah naungan PT Selamat Sugeng Rahayu dan beralamat di Jalan Sidorejo KM 25, Krian, Sidoarjo, Jawa Timur.

Sugeng Rahayu kemudian berkembang dengan berbagai layanan, termasuk kelas patas rute Surabaya–Yogyakarta sejak 2014, serta trayek lebih jauh seperti Bandung, Jember, Cilacap, Purwokerto, hingga Semarang. Selain angkutan reguler, perusahaan juga memiliki divisi pariwisata Golden Star dan ekspedisi SR Express.

Editor : Natasha Eka Safrina
#PO Sumber Kencono #bus indonesia #Sejarah PO Sumber Kencono