Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sejarah PO Bus Arion hingga Agramas: Ternyata Pernah Diambil Alih Pemerintah Jadi Perum PPD, Ini Jejak Panjang Operator Legendaris di Jakarta

Natasha Eka Safrina • Selasa, 3 Februari 2026 | 20:58 WIB

Sejarah PO Bus Arion: berdiri 1969, sempat diambil alih jadi Perum PPD 1979, lalu bangkit lagi di charter dan pariwisata.
Sejarah PO Bus Arion: berdiri 1969, sempat diambil alih jadi Perum PPD 1979, lalu bangkit lagi di charter dan pariwisata.

JAKARTA - Sejarah PO Bus Arion kembali ramai dibicarakan setelah berbagai catatan perjalanan perusahaan transportasi lawas di Jakarta diulas ulang dari sejumlah sumber. Nama Arion bukan sekadar bus wisata yang kerap terlihat di kawasan ibu kota, tetapi juga bagian dari babak penting perubahan industri angkutan umum di Indonesia, termasuk ketika pemerintah mengambil alih sejumlah operator bus kota dan menyatukannya ke dalam Perum PPD.

Dalam penelusuran sejarah, Arion disebut sudah hadir sejak 1969. Kala itu, Arion muncul untuk memenuhi kebutuhan transportasi darat yang nyaman, aman, dan berkualitas di wilayah DKI Jakarta. Cikal bakal kelompok usaha Arion Paramita berawal dari layanan bus Ikarus dengan nama perusahaan CK. Seiring waktu, usaha ini berkembang ke berbagai sektor, namun bisnis transportasi tetap dipertahankan sebagai akar utama yang kemudian dikenal dengan nama PT Arion Indonesia Transport.

Sejarah PO Bus Arion juga menyingkap sosok pendirinya. Arion merupakan perusahaan bus wisata yang berbasis di Jakarta Timur dan didirikan oleh Mangaraja Haolanan Hutagalung. Dalam catatan perjalanan bisnisnya, Arion pernah menjadi operator bus kota hingga 1979. Namun setelah itu, perusahaan ini sempat meninggalkan bisnis transportasi sebelum akhirnya kembali merintis usaha bus pada 1982.

Baca Juga: Viral Gaji Pensiunan Naik 12 Persen dan Rapel Cair Februari 2026, TASPEN Kediri Tegaskan Faktanya Berbeda

Peristiwa 1979: Arion Masuk Daftar Operator yang Diambil Alih Negara

Salah satu titik balik paling besar terjadi pada 17 April 1979. Pemerintah RI melalui Departemen Perhubungan dan Departemen Keuangan mengambil alih manajemen delapan perusahaan bus kota di DKI Jakarta. Seluruh perusahaan itu disatukan menjadi Perum PPD (BUMN).

Dalam proses tersebut, Arion termasuk salah satu perusahaan yang masuk pengambilalihan. Disebutkan, sebanyak 175 unit armada dan karyawan PT Arion Paramita turut menjadi bagian dari penggabungan tersebut, dengan ganti rugi yang dinilai layak.

Setelah tidak lagi mengelola jasa transportasi, Mangaraja Hutagalung kemudian mengalihkan fokus usaha ke sektor industri karoseri atau auto body manufacturing. Pada periode itu berdirilah PT Uni Cipta Karya di Jakarta, yang disebut menjadi rekanan berbagai instansi pemerintah, swasta, hingga perorangan.

Arion Bangkit Lagi 1982, Fokus Charter dan Pariwisata

Kebangkitan Arion di sektor transportasi terjadi pada 1982. Generasi kedua disebut berperan besar dalam upaya mengembalikan perusahaan ke bisnis jasa transportasi, khususnya di bidang charter dan pariwisata.

Pada 7 Mei 1987, pendiri sekaligus pemilik kelompok usaha Arion Paramita, Mangaraja Haolanan Hutagalung, wafat. Namun kaderisasi yang telah disiapkan sebelumnya membuat generasi kedua tetap mampu menjalankan bisnis dan melakukan berbagai terobosan baru. Arion tidak hanya bertahan di transportasi, tetapi juga merambah sektor usaha lainnya.

Baca Juga: Sejarah Perum Damri: Dari Jawatan Angkutan 1946 hingga Kini Jadi Raksasa Transportasi Nasional, Ini Layanan dan Jaringannya di Seluruh Indonesia

Jejak Panjang Damri: BUMN Transportasi yang Bertahan Lebih dari 70 Tahun

Selain Arion, video juga mengulas perjalanan Perum Damri sebagai perusahaan otobus milik negara yang menjadi bagian dari sejarah transportasi Indonesia. Damri disebut terbentuk sejak era 1943, kemudian resmi menjadi Damri pada 25 November 1946. Perusahaan ini mengalami transformasi status, mulai dari BPUN pada 1961, menjadi perusahaan negara pada 1965, hingga menjadi Perum pada 1984 yang disempurnakan melalui PP Nomor 31 Tahun 2002.

Damri berkantor pusat di Jalan Matraman Raya Nomor 25, Jakarta Timur, dan disebut pernah membukukan pendapatan di atas Rp1 triliun pada 2013. Perusahaan ini juga disebut meraih berbagai penghargaan, mulai dari sertifikat ISO 9001 tahun 2015, hingga apresiasi layanan angkutan Lebaran dan pelayanan haji.

Hiba Utama dan Mayasari Bakti, Nama Besar yang Melekat di Jalanan Ibu Kota

Daftar perusahaan bus legendaris lainnya adalah Hiba Utama yang berdiri sejak 1949. Hiba Group disebut menjadi salah satu perusahaan transportasi besar di Indonesia dengan berbagai armada yang tersebar di sejumlah kota di Pulau Jawa. Hiba juga memiliki anak perusahaan seperti Laju Prima, Laju Utama, hingga Maya.

Nama besar lain yang juga disorot adalah Mayasari Bakti. Perusahaan ini dikenal sebagai salah satu PO dengan trayek dan armada terbanyak, bahkan disebut mencapai lebih dari 3.000 unit. Mayasari Bakti melayani bus kota, bus pariwisata, hingga AKAP, dengan jaringan trayek di Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Baca Juga: Pendaftaran PPPK 2025 KemenHAM Dibuka Lagi, 500 Formasi S1 dan D3 untuk Umum, Ini Syarat dan Jadwal Lengkapnya

Blue Star dan Agramas, Pemain Baru yang Tumbuh di Era Modern

Di era lebih baru, ada Blue Star yang berdiri pada 2004 di Jakarta. Blue Star fokus melayani pariwisata dan antar-jemput karyawan. Armada big bus menggunakan Mercedes-Benz, sementara bus medium menggunakan Mitsubishi. Fasilitasnya meliputi AC, TV layar datar, karaoke, reclining seat, serta perlengkapan keselamatan seperti palu pemecah kaca dan APAR.

Sementara itu, Agramas berdiri pada 2003 di bawah PT Anugerah Mas. Agramas dikenal lewat warna merahnya dan menjadi salah satu penyedia transportasi populer di Jabodetabek, lalu berkembang masuk layanan AKAP sejak 2011.

Agramas juga disebut punya akar dari PO Giri Indah di Wonogiri. Owner Agramas, David Aryawan, menceritakan bahwa brand Agramas lahir agar tidak rancu dengan trayek PO Giri Indah, hingga akhirnya berkembang dan memperluas jalur ke berbagai rute termasuk DIY lewat jalur selatan.

Editor : Natasha Eka Safrina
#bus pariwisata jakarta #sejarah bus #bus damri