Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Mobil Listrik 2026 Masuki Titik Penentuan, Laju Pertumbuhan Mulai Melambat tapi Tak Berhenti

Auliya Nur'Aini Khafadzoh • Minggu, 15 Februari 2026 | 21:20 WIB

Mobil listrik 2026 diprediksi melambat namun tetap tumbuh. Subsidi menyusut, hybrid menguat, dan pasar Indonesia masuk fase konsolidasi. Pinterest
Mobil listrik 2026 diprediksi melambat namun tetap tumbuh. Subsidi menyusut, hybrid menguat, dan pasar Indonesia masuk fase konsolidasi. Pinterest

Radar Tulungagung - Industri otomotif global dan nasional memasuki fase krusial menjelang 2026. Setelah ledakan tren kendaraan listrik dalam beberapa tahun terakhir, mobil listrik 2026 diprediksi menjadi titik penentuan: apakah tetap melaju kencang atau justru melambat di tengah tekanan ekonomi, kebijakan pemerintah, dan daya beli masyarakat.

Tahun 2025 disebut sebagai masa akselerasi mobil listrik. Berbagai insentif, peluncuran model baru, serta masuknya banyak merek membuat kendaraan listrik mencuri perhatian pasar. Namun memasuki 2026, arah pertumbuhan mulai berubah. Mobil konvensional masih bertahan sebagai penguasa pasar, sementara mobil listrik memasuki fase konsolidasi.

Secara global, mobil listrik 2026 tetap menunjukkan pertumbuhan. Jumlah kendaraan listrik yang beroperasi di seluruh dunia diperkirakan menembus lebih dari 100 juta unit. Penjualan mobil listrik dan plug-in hybrid diproyeksikan mencapai sekitar seperempat dari total penjualan mobil baru dunia. Meski demikian, laju pertumbuhannya tidak lagi secepat fase awal adopsi.

Subsidi Menyusut, Strategi Pabrikan Berubah

Sejumlah negara mulai mengurangi subsidi kendaraan listrik. Harga mobil listrik yang masih relatif tinggi membuat konsumen kelas menengah lebih berhitung sebelum membeli. Di Eropa dan Amerika Serikat, penjualan mobil listrik tetap naik, namun dengan tren yang lebih moderat.

China masih menjadi motor utama pasar kendaraan listrik dunia. Namun analis memproyeksikan pertumbuhan mobil listrik asal China mulai melambat akibat persaingan harga yang ketat dan berkurangnya insentif domestik. Kondisi ini mendorong perubahan strategi pabrikan.

Jika sebelumnya pabrikan fokus penuh pada battery electric vehicle (BEV), pada 2026 banyak yang kembali menguatkan lini hybrid dan plug-in hybrid. Kendaraan hybrid dinilai menjadi jembatan transisi yang realistis, menawarkan efisiensi bahan bakar dan emisi lebih rendah tanpa ketergantungan penuh pada infrastruktur pengisian daya.

Langkah ini terlihat dari strategi sejumlah pabrikan besar seperti Toyota yang konsisten memperluas portofolio hybrid, serta produsen China yang mulai agresif memasarkan plug-in hybrid sebagai solusi menengah.

Indonesia: Pertumbuhan Melandai, Bukan Berhenti

Di Indonesia, pertumbuhan mobil listrik dalam dua tahun terakhir terbilang pesat, didorong insentif pajak dan masuknya merek-merek baru. Namun secara basis, kontribusinya masih kecil dibanding total pasar otomotif nasional.

Pada mobil listrik 2026, pertumbuhan diperkirakan tetap berlanjut tetapi tidak seagresif lonjakan pada 2025. Pemerintah Indonesia berencana melakukan penyesuaian kebijakan yang berpotensi mengurangi insentif kendaraan listrik, khususnya untuk model impor utuh.

Pelaku industri menilai arah kebijakan pemerintah akan menjadi faktor penentu. Insentif diprediksi lebih difokuskan pada kendaraan listrik rakitan lokal. Tanpa subsidi, harga mobil listrik berisiko kembali kurang kompetitif bagi sebagian besar konsumen.

Sementara itu, penjualan mobil nasional secara keseluruhan diperkirakan stagnan atau hanya tumbuh tipis. Daya beli masyarakat, suku bunga kredit kendaraan, serta ketidakpastian ekonomi global masih menjadi tantangan utama.

Infrastruktur dan Biaya Jadi PR Besar

Selain harga, tantangan mobil listrik di Indonesia masih berkutat pada infrastruktur pengisian daya. Stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) belum merata, terutama di luar kota besar.

Baterai juga masih menjadi perhatian. Meski teknologi terus berkembang, biaya baterai masih menyumbang porsi terbesar harga kendaraan listrik. Biaya penggantian baterai dan nilai jual kembali juga menjadi pertimbangan serius bagi konsumen.

Di sisi lain, mobil bermesin pembakaran internal tetap menjadi tulang punggung industri. Hingga akhir 2025, mobil konvensional masih mendominasi penjualan, terutama di segmen harga terjangkau dan negara berkembang. Faktor harga, kemudahan perawatan, serta jaringan bahan bakar yang luas membuat mobil konvensional belum tergeser sepenuhnya.

2026, Fase Konsolidasi Industri Otomotif

Meski menghadapi tantangan, mobil listrik 2026 tidak diprediksi akan terjun bebas. Justru tahun ini menjadi fase konsolidasi. Pasar mulai memilah produk yang benar-benar dibutuhkan konsumen, bukan sekadar mengikuti tren.

Pabrikan akan lebih selektif, fokus pada model dengan harga terjangkau, jarak tempuh realistis, dan biaya kepemilikan rendah. Konsumen pun menjadi lebih rasional dan kritis sebelum beralih ke kendaraan listrik.

Tahun 2025 adalah masa akselerasi. Tahun 2026 menjadi titik keseimbangan baru industri otomotif. Mobil konvensional belum tersingkir, tetapi tekanan menuju elektrifikasi makin kuat. Dalam beberapa tahun ke depan, kedua teknologi diperkirakan masih berjalan berdampingan.

 

Editor : Auliya Nur'Aini Khafadzoh
#Industri Otomotif Global #pasar otomotif Indonesia #kendaraan listirk #mobil listrik 2026