Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

BYD Banting Harga Mobil Listrik, Perang Harga Bikin Pasar Otomotif Indonesia Geger

Auliya Nur'Aini Khafadzoh • Minggu, 15 Februari 2026 | 21:25 WIB

Perang harga mobil listrik makin panas setelah BYD banting harga. Pasar mobil baru dan bekas terguncang, konsumen diuntungkan. Pinterest
Perang harga mobil listrik makin panas setelah BYD banting harga. Pasar mobil baru dan bekas terguncang, konsumen diuntungkan. Pinterest

Radar Tulungagung - Perang harga mobil listrik kembali memanas setelah BYD meluncurkan model terbarunya dengan banderol yang mengejutkan. Di pasar asalnya, China, mobil listrik BYD Seagull atau dikenal sebagai Atto 1 dibanderol setara Rp150 jutaan untuk varian terendah. Langkah agresif ini langsung mengguncang industri otomotif dan memicu efek domino di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Perang harga mobil listrik ini menjadi sorotan karena secara historis segmen mobil di bawah Rp200 juta di Indonesia diisi mobil konvensional seperti Brio, Agya, atau Picanto. Kehadiran mobil listrik China dengan harga setara bahkan lebih murah dari mobil bensin membuat peta persaingan berubah drastis.

Jika dibandingkan di negara asalnya, harga Wuling Bingo EV dan BYD Seagull berada di level yang hampir sama, yakni sekitar Rp160–190 jutaan. Dengan benchmark tersebut, publik awalnya berekspektasi harga mobil listrik entry level di Indonesia berada di kisaran Rp300–400 jutaan. Namun realitas berkata lain. Saat masuk ke Indonesia, harga mobil listrik justru turun jauh lebih agresif dan langsung menyedot perhatian pasar.

Efek Kejut BYD dan Kepanikan Pabrikan Lain

Masuknya BYD dengan strategi harga agresif membuat pabrikan lain tak punya banyak pilihan selain merespons. Perang harga mobil listrik pun tak terelakkan. Sejumlah merek China dan non-China terpantau melakukan banting harga besar-besaran, terutama saat pameran otomotif GIIAS 2025.

Data pergerakan harga menunjukkan penurunan tajam pada mobil listrik baru. Wuling Binguo EV yang sempat naik harga dari 2024 ke 2025, justru dibanting drastis hingga turun lebih dari 40 persen saat GIIAS. Wuling Air EV dan model lain juga mengalami koreksi harga signifikan. Kondisi ini menimbulkan kepanikan, baik di kalangan konsumen maupun pelaku industri.

Sebagian pabrikan menyebut penurunan ini sebagai diskon dealer, bukan penyesuaian harga resmi. Namun bagi konsumen, istilah tersebut tidak terlalu relevan. Yang terpenting, mobil bisa dibeli jauh lebih murah dibanding periode sebelumnya.

Mobil Listrik Bekas Ikut Tertekan

Perang harga mobil listrik tidak hanya memukul pasar mobil baru, tetapi juga menghantam keras pasar mobil bekas. Mobil listrik yang dibeli pada 2022–2024 tercatat mengalami depresiasi 20–30 persen hanya dalam satu tahun. Setelah perang harga 2025, depresiasi tersebut semakin dalam.

Contohnya, Wuling Air EV dan Binguo EV bekas kini dihargai nyaris setara dengan selisih tipis dibanding unit baru yang sudah didiskon besar. Situasi ini membuat konsumen enggan membeli unit bekas karena selisih harga yang tidak lagi menarik.

Namun menariknya, dampak tersebut tidak sepenuhnya dirasakan oleh BYD. Harga mobil listrik bekas BYD relatif lebih stabil dibanding kompetitor. BYD Dolphin dan BYD M6 hanya mengalami depresiasi sekitar 10–15 persen. Sementara BYD Seal turun lebih besar, sekitar 25 persen, tetapi masih lebih baik dibanding rival di kelasnya.

Strategi Harga dan Persepsi Merek

Stabilnya harga mobil bekas BYD dinilai berkaitan erat dengan strategi mereka yang tidak terlalu agresif membanting harga resmi. Sebagian besar koreksi harga dilakukan dengan mengembalikan ke level sebelumnya, bukan memangkas tajam. Hal ini menjaga persepsi nilai merek di pasar sekunder.

Sebaliknya, merek yang menurunkan harga terlalu dalam menghadapi tekanan psikologis dari konsumen lama. Bahkan muncul kabar bahwa Wuling tengah menyiapkan skema kompensasi bagi pemilik Binguo EV, mulai dari cashback, perpanjangan garansi, hingga fasilitas pengisian daya gratis.

Konsumen Diuntungkan, Investor Harus Waspada

Perang harga mobil listrik jelas menjadi berkah bagi calon pembeli baru. Dengan dana yang sama, konsumen kini bisa mendapatkan mobil listrik dengan spesifikasi lebih tinggi. Namun bagi pemilik lama, kondisi ini terasa pahit karena nilai kendaraan turun tajam dalam waktu singkat.

Fenomena ini juga menjadi pengingat bahwa tidak semua mobil listrik memiliki tingkat depresiasi yang sama. Model SUV dan tujuh penumpang cenderung lebih tahan nilai dibanding sedan atau city car listrik.

Ke depan, perang harga mobil listrik diperkirakan masih berlanjut seiring ekspansi agresif pabrikan China. Konsumen disarankan lebih cermat memilih merek dan model jika mempertimbangkan nilai jual kembali. Harga murah memang menggoda, tetapi stabilitas merek dan strategi jangka panjang tetap menjadi faktor penentu.

 

Editor : Auliya Nur'Aini Khafadzoh
#Mobil listrik China #BYD Indonesia #Perang harga mobil #harga mobil listrik 2026