Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kenapa Mobil Sedan Kurang Laku di Indonesia? Dulu Primadona, Kini Kalah dari SUV dan MPV

Fadhilah Salsa Bella • Rabu, 18 Maret 2026 | 19:10 WIB
Mobil sedan kurang laku di Indonesia akibat pajak mahal, budaya, dan kondisi jalan. Kini kalah saing dari SUV dan MPV.
Mobil sedan kurang laku di Indonesia akibat pajak mahal, budaya, dan kondisi jalan. Kini kalah saing dari SUV dan MPV.

RADAR TULUNGAGUNG - mobil sedan kurang laku di Indonesia meski dulu sempat menjadi simbol kemewahan dan kenyamanan berkendara. Pada era 1990-an hingga awal 2000-an, sedan menjadi pilihan utama masyarakat urban yang menginginkan kendaraan bergaya, nyaman, serta mencerminkan status sosial.

Saat itu, pilihan tipe mobil belum sebanyak sekarang. Pasar otomotif hanya diramaikan beberapa segmen utama seperti MPV dan sedan. Mobil keluarga biasanya memilih MPV legendaris seperti Toyota Kijang dan Isuzu Panther karena mampu mengangkut banyak penumpang.

Sementara kalangan muda dan eksekutif yang mengutamakan kenyamanan serta tampilan elegan lebih melirik sedan. Produk sedan Jepang seperti Toyota Corolla dan Honda Civic menjadi idola, ditambah merek Eropa seperti BMW dan Mercedes-Benz yang identik dengan kemewahan.

Namun kini, kondisi berubah drastis. mobil sedan kurang laku di Indonesia karena kalah pamor dibanding SUV dan MPV yang dianggap lebih serbaguna.

Baca Juga: 7 HP Gaming 3-4 Jutaan Terbaik 2026: Rekomendasi HP Gaming Murah Spek Gahar, Main Game Berat Rata Kanan

Pergeseran Persepsi Konsumen

Salah satu penyebab utama mobil sedan kurang laku di Indonesia adalah perubahan persepsi masyarakat. Sedan kerap dianggap sebagai mobil kalangan atas yang lebih cocok untuk kebutuhan formal atau eksekutif di perkotaan.

Akibatnya, sedan tidak lagi dipandang sebagai kendaraan keluarga yang fleksibel. Konsumen kini cenderung memilih mobil multifungsi yang bisa digunakan untuk berbagai aktivitas, mulai dari bekerja hingga bepergian bersama keluarga besar.

Budaya dan Kondisi Jalan Jadi Faktor Penentu

Karakteristik geografis Indonesia juga memengaruhi minat masyarakat terhadap jenis kendaraan. Jalanan yang tidak selalu mulus, banyak lubang, polisi tidur tinggi, hingga medan perbukitan membuat masyarakat lebih memilih kendaraan dengan ground clearance tinggi.

SUV dan MPV dinilai lebih tangguh menghadapi kondisi jalan tersebut. Sebaliknya, sedan memiliki jarak bodi ke tanah yang rendah sehingga rentan mentok saat melewati jalan rusak atau polisi tidur tinggi.

Faktor budaya turut berperan. Masyarakat Indonesia cenderung memilih kendaraan yang mampu mengangkut banyak penumpang serta barang dalam satu perjalanan. Hal ini membuat MPV dan SUV lebih unggul dibanding sedan yang kapasitas kabinnya lebih terbatas.

Baca Juga: 7 HP Gaming 4-5 Jutaan Terbaik Maret 2026: Performa Gahar, Memori Lega, Siap Libas Game Berat Tanpa Lag

Pajak Sedan Pernah Lebih Mahal

Penurunan minat terhadap sedan juga dipengaruhi kebijakan pajak di masa lalu. Pemerintah sempat memberlakukan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) lebih tinggi untuk sedan dibanding MPV dan SUV.

Tarif PPnBM sedan bahkan pernah berada di kisaran 30 hingga 125 persen, sedangkan LMPV hanya dikenakan sekitar 10 persen. Perbedaan ini membuat harga sedan jauh lebih mahal.

Dampaknya, banyak produsen mencari celah dengan menghadirkan versi hatchback dari model yang sama agar terhindar dari pajak tinggi. Salah satu contoh terlihat pada Honda Civic yang menghadirkan varian hatchback dengan harga lebih terjangkau dibanding versi sedan.

Kebijakan Pajak Baru Belum Dongkrak Sedan

Pada 2021, pemerintah mengubah kebijakan pajak kendaraan berdasarkan tingkat emisi gas buang. Skema ini membuat tarif pajak sedan menjadi lebih ringan dan relatif setara dengan jenis mobil lain.

Sayangnya, perubahan kebijakan tersebut belum sepenuhnya memulihkan minat pasar. Kebiasaan masyarakat sudah terlanjur beralih ke SUV dan MPV yang dianggap lebih praktis.

Banyak pengguna yang sudah nyaman dengan kendaraan berdimensi besar merasa kurang fleksibel jika harus kembali menggunakan sedan.

Baca Juga: HP 1 Jutaan NFC dan Speaker Stereo Jadi Tren 2026, Ini 7 Pilihan Murah dengan Fitur Premium !

Penjualan Sedan Terdongkrak Mobil Listrik

Meski demikian, data penjualan menunjukkan tren kenaikan di segmen sedan pada 2024 sebesar sekitar tujuh persen. Namun peningkatan ini bukan disebabkan kebangkitan minat terhadap sedan konvensional.

Lonjakan penjualan justru dipicu kehadiran sedan listrik dari BYD melalui model BYD Seal. Dalam periode Januari hingga Agustus, BYD Seal terjual lebih dari 3.000 unit, menyumbang hampir setengah total penjualan sedan nasional.

Artinya, pertumbuhan pasar sedan lebih didorong tren kendaraan listrik ketimbang perubahan preferensi konsumen terhadap model bodi sedan itu sendiri.

Sedan Tetap Punya Penggemar Setia

Meski tak lagi mendominasi pasar, sedan tetap memiliki penggemar loyal. Banyak pengguna menilai sedan menawarkan kenyamanan berkendara terbaik, stabilitas tinggi, serta minim gejala limbung dibanding SUV.

Di pasar global seperti Eropa dan Amerika Serikat, sedan bahkan masih menjadi salah satu model terlaris karena infrastruktur jalan yang mendukung serta budaya berkendara yang berbeda.

Namun di Indonesia, faktor kebutuhan dan kondisi jalan membuat masyarakat lebih mengutamakan kendaraan serbaguna dibanding kenyamanan maksimal ala sedan.

Baca Juga: 7 HP 5G Murah dengan Speaker Stereo Terbaik 2026, Performa Kencang Harga Mulai Rp1 Jutaan !

Pada akhirnya, sedan kini lebih banyak dipilih oleh kalangan idealis yang mengutamakan kenyamanan berkendara dan pengalaman mengemudi dibanding aspek kepraktisan.

Editor : Fadhilah Salsa Bella
#mobil sedan kurang laku #pasar mobil Indonesia #sedan vs SUV #pajak mobil sedan #tren otomotif Indonesia