JAKARTA - Pasar mobil listrik di Indonesia kini memasuki babak baru di awal tahun 2026. Seiring dengan rencana pemerintah yang akan memfokuskan insentif hanya untuk mobil produksi lokal, peta persaingan industri otomotif tanah air semakin dinamis. Di balik euforia kendaraan ramah lingkungan, satu pertanyaan besar menghantui para calon pembeli dan pemilik kendaraan: bagaimana dengan harga jual kembalinya? Berdasarkan data terbaru yang dihimpun tim riset, fluktuasi harga mobil bekas EV menunjukkan pola yang sangat menarik sekaligus mengejutkan bagi konsumen.
Memahami depresiasi harga kendaraan listrik menjadi krusial, mengingat fenomena "perang diskon" yang sempat terjadi sepanjang tahun 2025. Penurunan harga unit baru yang agresif secara langsung menekan nilai jual di pasar mobil bekas. Dari riset terhadap dua kelompok sampel—yakni para pionir seperti Hyundai Ioniq 5 dan Wuling Air EV, serta pendatang baru rilisan 2024—terungkap merek mana yang memiliki resale value paling kokoh dan mana yang justru mengalami penurunan nilai paling drastis atau "boncos".
Pada kelompok pionir, Hyundai Ioniq 5 menunjukkan fenomena unik. Di tahun pertama peluncurannya (2022-2023), mobil ini sempat mengalami kenaikan harga di pasar bekas hingga 106,4% karena faktor antrean (inden) yang mencapai satu tahun dan tingginya hype masyarakat. Namun, memasuki tahun 2025, nilai tersebut melandai ke angka 59,7%. Sebaliknya, Wuling Air EV menunjukkan tren penurunan yang konsisten sejak awal. Setelah ajang GIIAS 2025, harga bekas Wuling Air EV tipe Long Range bahkan merosot tajam hingga menyentuh angka 41,5% dari harga barunya.
Perbandingan Merek: BYD dan Chery Paling Tangguh
Memasuki fase masifnya merek-merek baru di tahun 2024, data menunjukkan perbedaan mencolok antar pabrikan. Dari 11 sampel mobil listrik yang diteliti, Chery J6 keluar sebagai pemenang dalam menjaga nilai aset konsumen. Hingga akhir tahun 2025, resale value Chery J6 masih bertahan sangat kuat di angka 90,2%. Ini menjadikan Chery sebagai salah satu brand dengan depresiasi paling minim di pasar Indonesia saat ini.
Di posisi berikutnya, dominasi merek Tiongkok lainnya, BYD, terlihat sangat dominan. Model BYD M6, Dolphin, dan Atto 3 secara rata-rata mampu menjaga harga jual kembali di kisaran 76% hingga 78%. Keberhasilan BYD dan Chery dalam menjaga stabilitas harga ini disinyalir karena strategi penetapan harga baru yang lebih konsisten dibandingkan kompetitornya yang kerap melakukan pemotongan harga besar-besaran secara mendadak.
Daftar Mobil Listrik dengan Depresiasi Tertinggi
Di sisi lain, konsumen perlu lebih waspada terhadap beberapa model yang mengalami depresiasi signifikan dalam waktu singkat. Kelompok mobil yang mengalami penurunan nilai lebih dari 30% dalam satu tahun dihuni oleh beberapa nama besar. Wuling Air EV kembali tercatat sebagai unit yang paling terdampak, dengan nilai sisa hanya sekitar 44,7% dalam jangka waktu setahun pemakaian untuk unit yang dibeli pada 2024.
Selain itu, Wuling Bingo EV dan Neta V2 juga masuk dalam kategori "boncos" dengan nilai jual kembali masing-masing di angka 51,6% dan 59,6%. Rendahnya harga bekas ini sering kali dipicu oleh kebijakan diskon unit baru yang terlalu dalam di diler resmi. Ketika harga unit baru terjun bebas saat pameran besar, tekanan terhadap harga di bursa mobil bekas menjadi tidak terhindarkan.
Secara keseluruhan, rata-rata depresiasi merek BYD dan Chery berada di angka 76% hingga 79%, menjadikannya pilihan yang lebih aman secara finansial untuk jangka panjang. Sementara itu, Wuling secara kolektif mengalami penurunan paling tajam dengan angka rata-rata 53,6%. Kondisi ini tentu menjadi pertimbangan berat bagi konsumen yang memprioritaskan nilai investasi kendaraan.
Pasar EV di Indonesia memang sangat dinamis. Munculnya kebijakan insentif baru di tahun 2026 diprediksi akan kembali mengubah peta harga ini. Bagi konsumen, memilih kendaraan bukan lagi sekadar soal gaya hidup hijau, melainkan juga kecerdasan dalam melihat data historis harga pasar agar tidak terjebak dalam kerugian finansial yang dalam di masa depan.
Editor : Natasha Eka Safrina