JAKARTA - Pengalaman mudik menggunakan mobil listrik kembali mencuri perhatian publik. Di tengah puncak arus mudik pada 18 Maret, seorang pengguna kendaraan listrik membagikan pengalamannya menempuh perjalanan dari Tangerang Selatan menuju Cirebon tanpa melakukan pengisian daya sama sekali.
Kisah ini menjadi viral karena menunjukkan efisiensi biaya dan daya tahan baterai mobil listrik, meskipun kondisi di lapangan justru penuh tantangan. Keyword “mudik mobil listrik tanpa ngecas” menjadi sorotan karena relevansinya dengan tren kendaraan listrik yang terus meningkat di Indonesia.
Rest Area Penuh, SPKLU Sulit Diakses
Perjalanan dimulai sekitar pukul 10.00 WIB dari kawasan Tangerang Selatan. Namun, kondisi arus mudik yang memuncak membuat hampir seluruh rest area di sepanjang tol dipadati kendaraan.
Bahkan, beberapa rest area dilaporkan ditutup karena kapasitas penuh. Antrean panjang tidak hanya terjadi di dalam area, tetapi juga hingga ke akses masuk, menyebabkan kemacetan parah.
Meski Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) tersedia, akses menuju lokasi pengisian menjadi kendala utama. Pengemudi mengungkapkan bahwa antrean masuk rest area bisa memakan waktu hingga satu jam, sehingga memutuskan untuk tidak melakukan pengisian daya selama perjalanan.
Baca Juga: 7 HP RAM 12 GB Terbaik 2026, Spek Dewa Mulai 3 Jutaan! Multitasking Anti Lemot Tanpa Kompromi
Strategi Keluar Tol Jadi Solusi
Menghadapi situasi tersebut, pengemudi memilih strategi keluar tol untuk beristirahat. Cara ini dinilai lebih efektif dibandingkan harus menunggu antrean panjang di rest area.
Selain menghemat waktu, metode ini juga tidak berdampak signifikan terhadap biaya tol, karena sistem tarif tol seperti di Cipali dihitung berdasarkan jarak tempuh.
Strategi ini menjadi tips penting bagi pemudik, terutama pengguna mobil listrik yang membutuhkan efisiensi waktu dan energi selama perjalanan.
Performa Baterai Tetap Stabil
Mobil listrik yang digunakan dalam perjalanan ini adalah Jaecoo J5. Kendaraan tersebut memulai perjalanan dengan kapasitas baterai sekitar 90 persen.
Selama perjalanan sejauh lebih dari 200 kilometer, konsumsi baterai terbilang efisien. Saat mendekati tujuan, baterai masih tersisa sekitar 44 persen, menunjukkan bahwa hanya sekitar setengah kapasitas yang digunakan.
Bahkan sejak awal perjalanan, mobil menunjukkan performa yang stabil. Dalam kondisi awal, baterai 86 persen mampu menampilkan estimasi jarak tempuh hingga 395 kilometer.
Biaya Perjalanan Sangat Hemat
Salah satu poin paling menarik dari pengalaman ini adalah biaya perjalanan yang sangat rendah. Dengan konsumsi baterai sekitar 50 persen, biaya yang dikeluarkan diperkirakan hanya sekitar Rp50 ribu untuk jarak Jakarta-Cirebon.
Angka ini jauh lebih hemat dibandingkan kendaraan berbahan bakar konvensional, terutama di tengah isu kenaikan harga dan kelangkaan BBM.
Efisiensi ini menjadi bukti nyata bahwa mobil listrik dapat menjadi alternatif ekonomis untuk perjalanan jarak jauh, termasuk mudik Lebaran.
Tetap Ikuti Aturan Kendaraan Baru
Dalam perjalanan ini, pengemudi juga tetap mematuhi aturan penggunaan mobil baru. Berdasarkan buku panduan, kendaraan dengan jarak tempuh di bawah 1.000 km disarankan tidak melaju di atas kecepatan 100 km/jam.
Hal ini bertujuan untuk menjaga kondisi komponen kendaraan, termasuk baterai, motor listrik, dan ban agar dapat beradaptasi dengan optimal.
Dengan kecepatan yang relatif stabil dan penggunaan mode berkendara hemat energi (eco mode), performa mobil tetap terjaga sepanjang perjalanan.
Kesimpulan: Efisien Tapi Perlu Strategi
Pengalaman mudik ini membuktikan bahwa mobil listrik mampu menempuh perjalanan jarak menengah tanpa perlu pengisian daya, bahkan dalam kondisi lalu lintas yang padat.
Namun, pengguna tetap perlu strategi, terutama dalam mengantisipasi keterbatasan akses SPKLU di saat puncak mudik.
Dengan perencanaan yang matang, mobil listrik tidak hanya efisien dari sisi biaya, tetapi juga tetap andal untuk perjalanan jauh.
Editor : Divka Vance Yandriana