JAKARTA – Tren depresiasi mobil listrik Indonesia 2025 menjadi sorotan seiring perubahan besar di pasar kendaraan listrik nasional. Mulai dari masuknya banyak merek baru hingga wacana perubahan insentif pemerintah, semuanya turut memengaruhi harga jual kembali (resale value) mobil listrik di Tanah Air.
Dalam beberapa tahun terakhir, depresiasi mobil listrik Indonesia 2025 menunjukkan pola yang semakin kompleks. Jika sebelumnya pasar hanya didominasi segelintir pemain, kini puluhan model dari berbagai brand global ikut meramaikan persaingan, membuat harga semakin kompetitif sekaligus menekan nilai jual kembali.
Fenomena ini membuat konsumen mulai mempertimbangkan tidak hanya harga beli, tetapi juga depresiasi mobil listrik Indonesia 2025 sebelum memutuskan membeli kendaraan listrik.
Metodologi: Bandingkan Harga Baru dan Bekas
Analisis ini dilakukan dengan membandingkan harga mobil listrik saat baru dirilis dengan harga bekasnya dalam rentang 1 hingga 3 tahun. Data diambil dari berbagai penawaran pasar untuk mendapatkan gambaran tren yang representatif.
Penelitian dibagi menjadi dua kelompok, yaitu mobil listrik pionir sejak 2022 dan mobil listrik yang dirilis pada 2024 saat pasar mulai ramai pemain baru.
Hyundai Ioniq 5 vs Wuling Air EV: Siapa Lebih Tahan?
Pada kelompok pertama, dua model pionir yakni Hyundai Ioniq 5 dan Wuling Air EV menunjukkan pola depresiasi yang berbeda.
Menariknya, Hyundai Ioniq 5 sempat mengalami kenaikan harga di tahun pertama. Pada 2023, harga bekasnya bahkan mencapai 106,4% dari harga baru. Hal ini dipicu tingginya permintaan dan keterbatasan unit, sehingga banyak konsumen rela membayar lebih demi mendapat unit lebih cepat.
Namun, tren tersebut tidak bertahan lama. Memasuki tahun kedua dan ketiga, harga Ioniq 5 mulai turun hingga berada di kisaran 59,7% pada 2025.
Baca Juga: Rekomendasi HP 1 Jutaan Terbaik 2026: Spek Gahar, Layar 120Hz, Baterai Badak, Cocok Buat Upgrade!
Di sisi lain, Wuling Air EV menunjukkan penurunan yang lebih konsisten sejak awal. Nilai jualnya terus turun hingga hanya tersisa sekitar 41% setelah tiga tahun pemakaian.
Dampak Perang Diskon dan GIIAS 2025
Penurunan tajam harga mobil listrik tak lepas dari perang diskon yang terjadi pada 2025. Banyak brand, khususnya dari China, masuk dengan harga lebih kompetitif dan memaksa pemain lama menyesuaikan strategi.
Efeknya terasa signifikan pada harga mobil bekas. Wuling Air EV misalnya, mengalami penurunan drastis setelah event GIIAS 2025. Sementara Hyundai Ioniq 5 cenderung lebih stabil karena harga barunya kembali normal setelah periode diskon.
Hal ini menunjukkan bahwa stabilitas harga mobil baru sangat memengaruhi nilai jual kembali di pasar bekas.
Mobil Listrik 2024: BYD dan Chery Paling Tahan
Pada kelompok kedua, yaitu mobil listrik yang dirilis pada 2024, hasilnya lebih variatif. Dari 11 model yang dianalisis, beberapa brand menunjukkan performa depresiasi yang lebih baik.
Chery J6 menjadi yang paling stabil dengan resale value sekitar 90,2% setelah satu tahun. Disusul BYD M6 (78%), BYD Dolphin (77,9%), dan BYD Atto 3 (77,7%).
Secara umum, BYD dan Chery menjadi brand dengan depresiasi paling rendah. Rata-rata nilai jual kembali mereka masih berada di atas 75% setelah satu tahun pemakaian.
Sebaliknya, beberapa model mengalami penurunan signifikan. Wuling Air EV kembali menjadi yang paling terdampak dengan resale value hanya 44,7% dalam satu tahun.
Model lain seperti Wuling Binguo, Neta V2, dan Hyundai Ioniq 5 juga mengalami depresiasi cukup dalam, dengan penurunan lebih dari 30%.
Faktor Penentu Depresiasi
Ada beberapa faktor utama yang memengaruhi depresiasi mobil listrik di Indonesia. Pertama adalah jumlah pasokan yang semakin besar dibandingkan permintaan. Kedua, strategi diskon agresif dari produsen.
Selain itu, kebijakan pemerintah juga menjadi faktor penting. Wacana perubahan insentif yang akan difokuskan pada mobil produksi lokal diprediksi akan memengaruhi harga mobil listrik ke depan.
Jika kebijakan ini terealisasi, maka harga mobil baru berpotensi naik. Dampaknya, nilai jual kembali mobil lama bisa lebih terjaga.
Pasar Masih Dinamis, Konsumen Harus Cermat
Perkembangan pasar mobil listrik di Indonesia tergolong sangat cepat. Dari hanya beberapa model pada 2022, kini sudah ada puluhan pilihan di berbagai segmen harga.
Bagi konsumen, kondisi ini menjadi keuntungan karena banyak pilihan dan harga lebih kompetitif. Namun di sisi lain, risiko depresiasi juga semakin tinggi.
Karena itu, memahami tren depresiasi mobil listrik Indonesia 2025 menjadi langkah penting sebelum membeli kendaraan listrik. Dengan strategi yang tepat, konsumen tidak hanya mendapatkan kendaraan ramah lingkungan, tetapi juga nilai investasi yang lebih optimal.
Editor : Divka Vance Yandriana