JAKARTA - Fenomena motor listrik sepi peminat di Indonesia menjadi sorotan pada 2025. Padahal, beberapa tahun terakhir pemerintah telah mendorong penggunaan kendaraan listrik melalui berbagai insentif, termasuk subsidi pembelian. Namun, setelah subsidi tersebut dicabut, penjualan motor listrik justru anjlok drastis hingga disebut mencapai 80 persen.
Kondisi ini cukup kontras dengan pasar sepeda motor konvensional. Indonesia sendiri dikenal sebagai salah satu negara dengan pengguna motor terbesar di dunia. Setiap tahunnya, penjualan motor bisa menembus hampir 6 juta unit. Tingginya angka ini didorong oleh harga yang relatif terjangkau, biaya perawatan murah, serta konsumsi bahan bakar yang efisien.
Di tengah dominasi tersebut, kehadiran motor listrik sebenarnya diharapkan menjadi alternatif masa depan. Namun realitanya, tren motor listrik sepi peminat masih terus terjadi, bahkan setelah berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan adopsinya.
Baca Juga: 5 Motor Listrik Murah 2026 Mulai Rp15 Jutaan, Jarak Tempuh Tembus 130 Km dan Fitur Makin Canggih!
Infrastruktur dan Pengisian Daya Jadi Kendala
Salah satu penyebab utama motor listrik kurang diminati adalah faktor kepraktisan. Jika motor bensin hanya perlu diisi bahan bakar dalam hitungan menit, motor listrik membutuhkan waktu pengisian yang jauh lebih lama, bahkan bisa mencapai 6 jam.
Selain itu, ketersediaan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) maupun fasilitas swap baterai masih sangat terbatas. Hal ini membuat pengguna merasa kurang fleksibel, terutama saat digunakan untuk mobilitas tinggi.
Meskipun beberapa produsen sudah menghadirkan teknologi baterai swap, implementasinya belum merata. Alhasil, pengguna tetap menghadapi kendala saat baterai habis di tengah perjalanan.
Jarak Tempuh dan Performa Masih Dipertanyakan
Secara teknis, motor listrik saat ini sudah mampu menempuh jarak 50 hingga 100 kilometer dalam sekali pengisian. Angka ini sebenarnya cukup untuk kebutuhan harian di perkotaan.
Namun dalam praktiknya, banyak pengguna merasa jarak tersebut kurang fleksibel. Aktivitas mendadak seperti perjalanan jarak jauh atau touring menjadi sulit dilakukan karena keterbatasan daya baterai.
Selain itu, kecepatan maksimum motor listrik yang umumnya masih di bawah 100 km/jam juga menjadi pertimbangan. Meski memiliki torsi instan yang responsif di awal, performa di kecepatan tinggi dinilai belum seoptimal motor berbahan bakar bensin.
Kenyamanan dan Kualitas Berkendara
Faktor lain yang turut memengaruhi adalah kenyamanan berkendara. Beberapa motor listrik, terutama di segmen harga terjangkau, dinilai memiliki kualitas suspensi yang kurang baik.
Saat melewati jalan tidak rata seperti konblok atau jalan berlubang, getaran terasa lebih keras dibanding motor konvensional. Hal ini tentu menjadi catatan bagi konsumen yang mengutamakan kenyamanan.
Harga Jual Kembali Anjlok
Selain faktor teknis, aspek ekonomi juga menjadi pertimbangan penting. Motor listrik diketahui memiliki nilai jual kembali yang kurang stabil, bahkan cenderung anjlok.
Beberapa produk mengalami penurunan harga signifikan, baik dalam kondisi baru maupun bekas. Diskon besar-besaran yang diberikan produsen justru memperkuat persepsi bahwa harga motor listrik belum memiliki kestabilan pasar.
Kondisi ini berbeda dengan motor bensin yang relatif memiliki nilai jual kembali lebih terjaga.
Skema Sewa Baterai Dinilai Memberatkan
Untuk menekan harga awal, beberapa produsen menawarkan skema sewa baterai. Konsumen bisa membeli unit motor dengan harga lebih murah, namun harus membayar biaya sewa baterai setiap bulan, mulai dari Rp200 ribuan.
Sayangnya, skema ini belum sepenuhnya diterima masyarakat. Pasalnya, mayoritas pembeli motor di Indonesia masih menggunakan sistem kredit. Artinya, mereka harus menanggung dua beban sekaligus, yakni cicilan motor dan biaya sewa baterai.
Bagi sebagian konsumen, hal ini justru menambah beban finansial tanpa memberikan keuntungan yang jelas.
Minim Edukasi Jadi Faktor Penentu
Di luar berbagai kendala tersebut, kurangnya edukasi kepada konsumen juga menjadi faktor penting. Banyak masyarakat yang belum memahami keunggulan motor listrik secara menyeluruh.
Padahal, jika dilihat dari sisi efisiensi energi dan perawatan, motor listrik memiliki sejumlah keunggulan dibanding motor bensin, seperti bebas emisi dan minim biaya servis.
Sebagai perbandingan, keberhasilan motor matic di Indonesia tidak lepas dari edukasi masif yang dilakukan produsen kepada masyarakat. Tanpa edukasi tersebut, perubahan pasar tidak akan terjadi.
Perlu Strategi Baru untuk Dongkrak Penjualan
Melihat kondisi ini, strategi pengembangan pasar motor listrik perlu dievaluasi. Tidak hanya mengandalkan subsidi, produsen dan pemerintah juga perlu fokus pada edukasi konsumen serta penguatan ekosistem.
Baca Juga: Motor Listrik Volta 2026 Dibongkar: Irit Rp28/Km, Jarak 110 Km Sekali Cas, Harga Mulai Rp18 Jutaan!
Program seperti test ride, peningkatan infrastruktur pengisian daya, serta transparansi biaya penggunaan bisa menjadi langkah awal untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat.
Jika hal ini tidak segera dilakukan, bukan tidak mungkin tren motor listrik sepi peminat akan terus berlanjut di Indonesia.
Editor : Dyah Wulandari