Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Alasan Masyarakat Belum Mau Beli Motor Listrik Subsidi Terungkap, Ternyata Bukan Cuma Soal Harga

Muhammad Rusdian Nuzula • Rabu, 22 April 2026 | 20:41 WIB
Alasan masyarakat belum mau beli motor listrik subsidi, mulai dari harga hingga infrastruktur jadi hambatan utama. (GEMINI AI)
Alasan masyarakat belum mau beli motor listrik subsidi, mulai dari harga hingga infrastruktur jadi hambatan utama. (GEMINI AI)

RADAR TULUNGAGUNG - Alasan masyarakat belum mau beli motor listrik subsidi masih menjadi sorotan di tengah gencarnya program pemerintah mendorong penggunaan kendaraan ramah lingkungan. Meski bantuan sebesar Rp7 juta sudah digelontorkan, minat masyarakat belum menunjukkan lonjakan signifikan.

Alasan masyarakat belum mau beli motor listrik subsidi tidak hanya berkaitan dengan faktor ekonomi, tetapi juga dipengaruhi oleh persepsi, kebiasaan, hingga keterbatasan infrastruktur yang belum sepenuhnya mendukung penggunaan kendaraan listrik di Indonesia.

Fenomena alasan masyarakat belum mau beli motor listrik subsidi ini menunjukkan bahwa transisi dari motor bensin ke listrik bukan sekadar soal harga murah, melainkan membutuhkan kesiapan ekosistem secara menyeluruh.

Harga Masih Dianggap Belum Ramah di Kantong

Baca Juga: VinFast Evo 200 2026 Resmi Jadi Sorotan, Motor Listrik Jarak 200 Km Ini Siap Gantikan Motor BBM?

Salah satu faktor utama yang membuat masyarakat ragu adalah harga motor listrik yang masih dianggap mahal. Meskipun telah mendapatkan subsidi, harga unit tetap berada di kisaran belasan hingga puluhan juta rupiah.

Bagi sebagian kalangan, terutama masyarakat menengah ke bawah, harga tersebut masih kalah bersaing dengan motor bensin yang bisa dibeli dengan sistem kredit ringan dan cicilan lebih terjangkau.

Kondisi ini membuat motor listrik masih dipandang sebagai barang sekunder, bukan kebutuhan utama untuk mobilitas sehari-hari.

Infrastruktur Pengisian Belum Merata

Selain harga, keterbatasan infrastruktur pengisian daya juga menjadi alasan kuat. Fasilitas seperti stasiun pengisian kendaraan listrik umum masih terkonsentrasi di kota-kota besar.

Di daerah pinggiran, akses untuk mengisi daya masih terbatas, sehingga memunculkan kekhawatiran kehabisan baterai di tengah perjalanan.

Masyarakat yang terbiasa dengan kemudahan mengisi bahan bakar di SPBU merasa sistem motor listrik belum memberikan kenyamanan yang sama.

Kekhawatiran Terhadap Baterai

Baterai menjadi komponen krusial yang sering menimbulkan keraguan. Banyak masyarakat khawatir baterai cepat rusak atau mengalami penurunan performa dalam waktu singkat.

Selain itu, biaya penggantian baterai yang relatif mahal juga menjadi pertimbangan penting sebelum memutuskan membeli motor listrik.

Kurangnya pemahaman tentang sistem garansi atau skema sewa baterai membuat kekhawatiran ini semakin besar.

Jarak Tempuh Dianggap Kurang Fleksibel

Motor listrik umumnya memiliki jarak tempuh terbatas dalam sekali pengisian. Hal ini menjadi kendala bagi pengguna dengan mobilitas tinggi atau yang sering bepergian jarak jauh.

Berbeda dengan motor bensin yang bisa langsung diisi ulang dalam hitungan menit, motor listrik membutuhkan waktu lebih lama untuk pengisian daya.

Keterbatasan ini membuat sebagian masyarakat memilih tetap menggunakan kendaraan konvensional yang dianggap lebih praktis.

Minim Edukasi dan Sosialisasi

Program subsidi sebenarnya sudah berjalan cukup lama, namun belum semua masyarakat memahami cara mendapatkannya.

Kurangnya informasi mengenai syarat, prosedur, serta manfaat jangka panjang motor listrik membuat program ini belum terserap secara optimal.

Tanpa edukasi yang masif, masyarakat cenderung bertahan dengan pilihan lama yang sudah terbukti dan familiar.

Persepsi Performa yang Kurang Meyakinkan

Baca Juga: VinFast Evo 200 2026 Resmi Jadi Sorotan, Motor Listrik Jarak 200 Km Ini Siap Gantikan Motor BBM?

Sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa motor listrik memiliki tenaga yang lebih lemah dibanding motor bensin.

Padahal secara teknologi, motor listrik memiliki torsi instan yang cukup responsif. Namun, minimnya pengalaman langsung membuat persepsi ini sulit diubah.

Kurangnya kesempatan test ride atau uji coba juga memperkuat anggapan tersebut.

Nilai Jual Kembali Belum Pasti

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah nilai jual kembali. Pasar motor listrik bekas belum berkembang sekuat motor bensin.

Hal ini membuat calon pembeli khawatir akan kesulitan menjual kembali kendaraan di masa depan atau mengalami penurunan harga yang drastis.

Bagi masyarakat yang sering mengganti kendaraan, faktor ini menjadi pertimbangan besar.

Kebiasaan Menggunakan Motor Bensin

Selain faktor teknis, kebiasaan juga memainkan peran penting. Selama puluhan tahun, masyarakat Indonesia terbiasa menggunakan motor berbahan bakar bensin.

Peralihan ke motor listrik membutuhkan adaptasi, baik dari segi penggunaan maupun pola pikir.

Tanpa dorongan yang kuat, banyak orang memilih tetap menggunakan kendaraan yang sudah dikenal dan dianggap lebih praktis.

Kesimpulannya, alasan masyarakat belum mau beli motor listrik subsidi tidak hanya disebabkan oleh satu faktor, tetapi kombinasi berbagai aspek. Mulai dari harga, infrastruktur, hingga kebiasaan menjadi tantangan yang harus diatasi bersama.

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
#motor listrik subsidi 2026 #motor listrik subsidi terbaik #motor listrik subsidi